Jejak Mahameru dan Bromo

Posted: September 5, 2016 in Uncategorized

Prolog

Kita tahu bahwa manusia pada dasarnya diciptakan untuk beribadah. Kita pasti sepakat bahwa beribadah bukan hanya sekedar ritual yang lima kali sehari ataupun yang 30 hari dalam setahun. Mentafaqquri keindahan alam bisa menjadi kegiatan ibadah jika niatnya benar. Perjalanan mencari hikmah dalam hidup merupakan salah satu cara bagaimana kau akan mengetahui rahasia penciptaan bumi dengan gunung-gunung sebagai hiasannya. Dan kau akan bergumam: nikmat Tuhanmu manakah yang Kamu dustakan?

 

25 Agustus 2016

Pagi-pagi sekali aku sudah menyiapkan segala sesuatu yang akan kubawa. Teringat bahwa aku belum membuat surat keterangan kesehatan, maka aku bergegas ke rumah bidan yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Namun sayangnya aku terlambat sedikit waktu. Beliau telah pergi berangkat kerja, begitu kata penjaga rumahnya. Kutenangkan diri, ah ini pasti syarat buat masuk ke Mahameru. Lalu di tengah perjalanan pun aku berhenti di sebuah puskesmas namun ternyata dokternya pun belum datang. Akan memakan waktu terlalu lama jika aku menunggu satu jam menanti kedatangan dokter. Akhirnya kuabaikan saja surat keterangan dokter itu.

Aku harap-harap cemas ketika berada di ruang tunggu bandara, akankah aku datang tepat waktu jam 4 di stasiun Kiara Condong? Seraya berdoa kepada Allah aku pasrahkan saja semuanya. Toh kereta berangkat jam 8 malam. Kecemasanku memuncak ketika sudah lewat pukul 5 sore dan aku masih di bis terjebak kemacetan menuju Batu Nunggal. Di sana temanku Keyza sudah menungguku. Aku hanya bisa menarik nafas dalam.

Alhamdulillaah jam 6 kurang bis sampai di Batu Nunggal dan kami langsung menuju stasiun dan memacking barang-barang yang kubawa ke dalam Tas Carrier. Di stasiun aku berkenalan dengan peserta trip lainnya, yakni Syifa dan Sri. Ah masih muda, pikirku. Pastilah aku yang paling tua. Namun aku tidak akan membuka identitasku. Aku hanya senyum-senyum saja ketika ditanya kuliah dimana. Ah itu sudah 2 tahun yang lalu aku menjadi mahasiswa.

Lalu pukul 8 kami masuk ke gerbong kereta dan terjadilah interaksi antar peserta trip. Sebagai orang introvert, dalam keseharian seringkali aku malas untuk mengobrol apalagi dengan orang-orang baru. Namun aku sadar bahwasanya dalam trip ini aku harus mendapatkan teman baru. Maka kupaksakan diri untuk mengobrol.

Perjalanan kereta kami terbagi menjadi dua sesi. Pertama, dari bandung kami menaiki kereta menuju ke Kediri.

 

 

 

26 Agustus 2016

Sampai di Kediri sekitar pukul 10 pagi. Kami istirahat sambil memacking ulang barang-barang.Kemudian dilanjutkan kembali perjalanan kami menaiki kereta dari Kediri menuju Malang pukul 12 siang dan sampai di Malang pukul 5 sore.

 

 

 

 

Sesampai di Kota Malang, aku sempat berdoa suatu saat nanti aku bisa tinggal di sini walau sebentar.

Kami makan sore di sebuah tempat yang bisa disebut taman. Sambil menunggu pesanan kami datang, kami jalan-jalan menikmati suasana Kota Malang di sore hari.

Lalu kami makan dan aku mencoba Nasi Rawon atas rekomendasi Afif. Dan ternyata memang enaak…

Setelah makan, kami naik angkot menuju Pasar Tumpang ke rumah Pak Laman. Di sana kami istirahat sebentar dan bersih-bersih. Lalu sekitar pukul 1 dini hari kami pergi menuju Bromo.

 

27 Agustus 2016

Kami naik jeep menuju Bromo bersama Pak Arifin. Aku dan Syifa mengajak Pak Arifin mengobrol agar tidak mengantuk. Sambil memperhatikan sekeliling jalan, aku merasakan udara dingin pegunungan yang sudah lama tidak kurasakan. Setelah sampai di batas akhir jalan bagi pengguna jeep, kami pun jalan kaki menuju atas. Tujuan kami seruni point 2. Sambil menunggu matahari terbit, kami sholat Subuh di sana. Dan biasalah, kami foto-foto.

Namun sayangnya ketika kami ingin memfoto Gunung Bromo, langit  sedang berkabut.

Lalu ketika matahari mulai meninggi sekitar pukul 7 kami pun turun dan bergegas naik jeep menuju kawasan Gunung Bromo. Di tengah perjalan menurun, kami sempat berfoto dengan masyarakat suku Tengger.

 

 

 

 

Padang pasir di sekitar Kawasan Gunung Bromo ini sangatlah luas. Aku bisa membayangkan kawasan ini seperti Padang Mahsyar.

Untuk melihat kawah Gunung Bromo, kami harus menaiki jalan menanjak dan ratusan anak tangga.

 

Di kawasan Gunung Bromo terdapat sebuah Pura tempat masyarakat suku Tengger melakukan “ibadah”.

Inilah penampakan peserta trip Bromo Semeru yang diadakan oleh Ahad Trekmate dan JCP Course and Travel.

Setelah puas menyusuri kawasan Gunung Bromo, kami pun diajak menuju Bukit Teletubbies. Kurasa penamaan bukit ini setelah munculnya film Teletubbies.

 

Setelah berfoto ria di Bukit Teletubbies, kami pun menuju ke Desa Ranu Pane dan menginap di sana semalam di rumah Pak Handoko. Ketika briefing yang diberikan oleh relawan semeru, kami diwajibkan menyertakan surat keterangan sehat. Namun 5 diantara kami tidak mempunyainya. Maka sore itu juga Kang Ugi pergi ke Pasar Tumpang untuk membuatkan kami surat keterangan sehat. Tak disangka ternyata teman-teman yang ikut trip ini ada juga yang kepo. Akhirnya identitasku terbuka juga. Rasanya ga enak sekali diketahui bahwa aku seorang dosen. Casingnya sih dosen namun jiwanya masih kayak mahasiswa hhee… masih pengen main..

 

28 Agustus 2016

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun dan mempersiapkan barang-barang yang harus kami bawa dan kami tinggalkan di rumah Pak Handoko. Kami akan memulai pendakian. Perjalanan dimulai dengan berdoa. Tampak dari kanan ke kiri: Fikri, Kang Ubed, Mifta, Syifa, Sri, Afif, dan Ervan.

Perjalanan pertama kami menuju ke Ranu Kumbolo yang terkenal dengan keindahannya. Untuk sampai kesana, kami mesti melalui 4 pos. di setiap pos terdapat masyarakat Ranu Pane yang berjualan. Makanan yang jadi favorit kami ialah semangka 5rb dapet 2.

Ini adalah menit-menit di mana kaki kami telah melangkah ke Ranu Kumbolo.

Di Ranu Kumbolo kami nge-camp satu malam. Malam hari Ranu Kumbolo diguyur hujan. Aku berdoa semoga ketika kami muncak besok malam cuaca cerah. Semoga rejeki kami ada untuk bisa sampai ke puncak Mahameru.

 

 

29 Agustus 2016

Suasana pagi hari di Ranu Kumbolo. Kabut yang menutupi Danau mulai menghilang seiring dengan meningginya matahari pagi. Kami sempatkan diri untuk menjemur beberapa perlengkapan kami yang kebasahan karena hujan semalam.

Setelah beres packing, kami pun berpose di depan Ranu Kumbolo. Sungguh mensyukuri atas ijin Allah aku bisa melihat fenomena alam yang indah ini. Keindahan Ranu Kumbolo di dalam hutan menuju puncak Semeru yang juga sebagai sumber air bagi manusia-manusia yang berkemah di sana.

Lalu kami memulai tracking ke Kalimati. Cobaan pertama yang harus dilalui ialah Tanjakan Cinta. Betapa menanjaknya. Mungkin filosofinya ialah ketika kamu ingin menuju sebuah cinta yang kamu inginkan maka akan ada perjuangan yang harus dilakukan untuk menggapainya. Ketika manusia mengikrarkan diri bahwa ia cinta kepada Allaah SWT dan Rasulullaah SAW maka akan ada perjuangan untuk menggapai cinta Ilahi dan Rasulullaah.

Lalu kami istirahat sejenak seusai menaiki tanjakan cinta.

 

Lalu kami menuruni bukit dan berjalan melintasi oro-oro ombo menuju pos selanjutnya.

 

Beranjak dari positempat istirahat, kami segera berbegas menuju Kalimati. Di sana terdapat banyak sekali Bunga Edelweiss.

Malam ini kami nge-camp di Kalimati. Dan mempersiapkan diri menuju puncak pada dini hari nanti.

 

30 Agustus 2016

Pukul 12 malam perjalanan menegangkan dimulai. Perjalanan malam yang kurasakan pertama kalinya selama aku mendaki gunung. Apalagi ini adalah perjalanan menuju puncak Mahameru yang kalau dilihat di film sih lumayan horror batu-batunya.

Perjalanan awal masih melintasi hutan-hutan semeru. Kemudian tibalah kami di batas vegetasi. Sebelumnya aku tidak tahu jika kami sudah sampai di batas vegetasi. Ketika melewati jalan yang hanya setapak, aku pun berhati-hati. Lalu kami menapaki jalanan yang berpasir. Hampir seperempat perjalanan barulah aku tahu bahwa kami sudah memasuki pasir menuju puncak semeru. Hal ini kusadari ketika menoleh ke arah kanan gunung. Aku melihat banyak sekali lampu-lampu. Aku ingin menangis ketika mengetahui bahwa kami sudah akan menuju puncak Mahameru. Aku terharu. Saat-saat inilah yang palig kutunggu sejak 2010 yang lalu ketika aku masih kuliah dan membaca Buku, Pesta, dan Cinta untuk mengenang Soe Hok Gie (hadiah seorang teman). Hanya ada 2 gunung yang ingin kudaki, yakni: Semeru dan Pangrango. Dan kali ini kakiku telah berjalan menuju puncak Mahameru. Ketika 100 meter terakhir rasanya aku sudah ingin menyerah dan menikmati sunrise dari sisi Mahameru saja. Namun teman-teman masih memberikan semangat. Aku sudah kepayahan dan kehabisan tenaga. Hampir-hampir mau pingsan karena habis tenaga, tidak bisa mengangkat kaki naik ke atas. Namun ketika melihat Fikri dan Keyza sudah berada di puncak, aku pun terpacu untuk ke atas walau kaki masih berat melangkah.

Alhamdulillaah akhirnya tiba di puncak. Aku langsung merebah dan meinta biscuit kepada Fikri untuk mengisi tenaga sedikit. Udara puncak Mahameru amat dingin hingga hilang keinginanku untuk berfoto. Maunya langsung turun. Tapi masih capek. Setelah mengumpulkan tenaga, aku pun bergabung dengan teman-teman untuk berfoto.

 

Pukul 7 pagi kami mulai turun dari puncak Mahameru.

Di tengah perjalanan pulang ke camp di Kalimati, kami berfoto ala-ala film gitu…

Sesampai di Kalimati sekitar jam 9 kami makan mengisi tenaga dan istirahat sejenak lalu packing. Kami memulai perjalanan turun gunung pukul 12 siang. Dan sempat mampir ke Ranu Kumbolo untuk sholat.

 

Kami sampai di Desa Ranu Pane isya dijemput Pak Arifin dengan jeep pinky nya. Kami mampir sejenak ke rumah Pak Handoko untuk mengambil barang titipan kami. Lalu bergegas menuju Pasar Tumpang dan di tengah perjalanan kami sempat membeli apel malang untuk oleh-oleh. Malam ini kami menginap di rumah Pak Laman.

 

31 Agustus 2016

Pagi-pagi kami telah bersiap menuju stasiun kereta Malang. Kami sempatkan membeli keripik khas Malang dan bekal untuk sarapan dan makan siang. Lalu kami memulai perjalanan pulang dengan rute kereta Malang-Kediri dan Kediri-Bandung.

 

 

Epilog

Segala hal yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah atas kehendak dan ijin Allaah SWT. Manusia hanya diberi kuasa untuk merencanakan, namun eksekutor atas rencana-rencana kita hanya Allaah SWT. Sebagai makhluk bertuhan, tentunya kita tidak bisa menafikan adanya campur tangan Allaah SWT dalam setiap hal yang terjadi pada kita.

Manusia yang mampu menemukan hikmah dari segala kejadian yang ada dalam hidupnya pasti akan menjadi manusia bijak dan penyabar.

Dalam hidup akan banyak sekali hal-hal yang tidak sesuai keinginan, teruslah melangkah walau hati rasanya ingin menyerah. Karna langkah-langkah terakhir itulah yang akan membedakan dirimu apakah termasuk dalam pencundang ataukah pejuang.

Pendakian menuju puncak Mahameru hanyalah replika dari pendakian menuju puncak akhir kehidupan. Tempat tinggal abadi manusia di akhirat ialah Syurga. Maka, apakah kita juga akan berjuang untuk sampai kesana seperti halnya kita berjuang menuju puncak Mahameru?

 

Terima kasih kuucapkan kepada:

Keyza yang telah memberikan info pendakian Bromo-Semeru

Kang Ugi sebagai guide dalam pendakian Bromo-Semeru

Kang Budi untuk tenaganya yang “menyeret” agar bisa nyampe ke puncak

Afif yang selalu memberikan kicauannya sehingga suasana trip ini tidak bosan

Fikri yang dengan imajinasi dan pikirannya mampu membuat kami tertawa

Kang Ubed yang senantiasa membantu di saat diperlukan

Ervan yang telah meminjamkan tongkatnya

Sri dan Syifa yang dengan bantuan kamera handphonenya mengabadikan moment-moment tak terlupakan sepanjang perjalanan

 

Now I see the secret of making the best person: it is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth (Walt Whitman)

Berbagi waktu dengan alam kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya, hakikat manusiaa…

Umar r.a. memiliki tiga ukuran untuk menimbang benarkah seseorang mengenali orang lain. Ini adalah salah satunya.

Suatu saat ketika seseorang memuji kawannya dalam persaksian sebagai orang yang baik, Umar bertanya padanya. “pernahkah engkau bepergian dengannya selama sepuluh hari sehingga telah habis kesabarannya untuk berpura-pura lalu kamu mengenali watak-watak aslinya?” (Dalam Dekapan ukhuwah, 2010:211)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s