Cerita Inspiratif dari Instagram Ust. Salim A Fillah

Posted: Juli 28, 2016 in Uncategorized

KAPAN NIKAH?
@salimafillah

Tidak. Kita tak sedang membahas pertanyaan yang sering muncul di seputar Lebaran. Tulisan ini hanya saran kepada para bujang, semoga mereka berkenan menjadikannya pertimbangan.

Banyak pria yang menunggu mapan untuk mulai berrumahtangga. Tapi saya amati, mereka yang menikah di waktu mapan akan dipertemukan Allah dengan pasangan yang memang siapnya untuk mapan. Dari mereka juga akan hadir anak-anak dalam suasana mapan, dibesarkan dalam kemapanan, dan hanya siap tumbuh menjadi generasi mapan.

Hanya sedikit yang memulai pernikahan dengan kemapanan, lalu dapat menyuasanakan rumahtangganya dengan semangat perjuangan.

Pentingkah rumahtangga yang disesaki ruh perjuangan itu? Barangkali saya terlalu melankolis, tapi rumahtangga para Nabi dan Rasul ‘Alaihimus Shalatu was Salaam yang kita baca dalam Al Quran lebih sering mencerminkan itu. Ibrahim yang hidup berpindah-pindah dan sering berpisah. Yusuf yang direnggut dari kasih oleh dengki dan mengalami lika-liku ngeri. Musa yang dibuang agar selamat tanpa kisah tentang Ayah. Muhammad yang yatim lagi piatu, diasuh paman yang hidupnya miskin dan tertungkus lumus di antara debu.

Rumah yang dinyalai ruh perjuangan adalah kebun subur bagi tumbuhnya manusia agung.

Jadi mengapa kita tak mencoba menikah di kala semua tampak jelas bagi iman meski masih remang bagi mata, hidup dalam yakin pada Allah meski diragukan manusia, serta dalam keadaan tetap bekerja meski pekerjaan tak tetap? Bersama itu ada wajah culun, penampilan bosah-baseh, kesibukan yang tak memberi waktu bersantai, dan hidup pas-pasan.

Calon pasangan yang berani mengiyakan lamaran kita di saat seperti itu, pastilah seorang pejuang.

Memang tiap kita diberi ujian. Yang tampan, terkenal, kaya; pasti jauh lebih rumit baginya mendapat pasangan yang mau mendampinginya karena Allah. Bukan karena ketampanannya. Bukan karena kemasyhurannya. Bukan karena kekayaannya.

Tiap hal yang menonjol, selalu lebih kuat potensinya untuk membiaskan niat.

Maka bersegeralah wahai bujang-bujang miskin, sebab Allah menjanjikan kecukupan dalam pernikahan.

Maka bergegaslah wahai bujang-bujang tak mapan, sebab Allah kan menyediakan pasangan pejuang bagi para pejuang.

Suatu hari ketika pasangan pejuang itu menikah, berkatalah sang suami pada istrinya, “Maaf ya, belum bisa membelikan rumah. Ini kontrakannya juga kecil dan mesti lewat gang sempit.” “Tidak apa Sayang. Punya rumah itu tidak wajib kok.” “Oh iya ya? He he..” “Iya, yang wajib itu shalat, hi hi..” “Iya ya, yang wajib itu shalat. Terus memangnya kamu nggak ingin punya rumah, Sayang?” “Mau banget banget banget, Sayang. Tapi yang penting rumah di surga. Kalau di dunia, meski pindah-pindah sewa, asal bersamamu aku rela.” “Aduh Sayang, andai semua istri seperti kamu adanya, apalah gunanya ada KPK.” Dan rumah mereka lalu tumbuh meluas atas karunia Allah, sebab puluhan anak-anak tetangga pun terundang untuk belajar, mengaji, menghafal Quran, membaca, dan berkarya di tiap sorenya.
Foto ini diambil beberapa bulan sebelum pernikahan saya. Hitamnya kulit karena terpanggang mentari dalam demonstrasi, kurusnya badan karena banyak pikiran tanpa ada tempat melabuh keluhan, dan wajah pucat yang kini telah berbeda karena ada yang merawat.

 

 

MANA CALONNYA?
@salimafillah

Bukan. Ini juga bukan tentang pertanyaan yang sering mencekat tenggorokan melebihi nastar kadaluwarsa. Bagi sebagian kita, mendapat soalan ini bagai rundungan awan kelabu yang menodai pelangi ceria hari raya.

Kepada para bujang; jodoh sudah tertulis di Lauhil Mahfuzh. Hanya cara kita mengambil menentukan bagaimana Allah memberikannya. Yang dijemput dalam ridhaNya, betapa lembut uluranNya. Yang menyahut pasangan dengan murkaNya, ah tentu akan berbeda rasanya.

Kini, saya hendak mengingatkan para Wali anak gadis; ayah, kakek, paman, kakak, adik lelaki dan seterusnya, bahwa tugas mereka soal calon suami para akhawat itu bukan hanya untuk menjadi juri, melainkan panitia seutuhnya.

Inilah ‘Umar ibn Al Khaththab yang menantunya, Khunais ibn Hudzafah As Sahmi gugur di Perang Badr. Maka Hafshah pun menjadi janda. Ketika wanita mulia yang baru berusia 18 tahun itu habis masa ‘iddahnya, sang ayah bergegas mencarikan suami shalih baginya.

Pertama, ‘Umar menjumpai lelaki terbaik ummat, Abu Bakr. Tapi Ash Shiddiq hanya diam dan terus diam dengan segala tawaran ‘Umar untuk menikahi Hafshah. Bingung menyikapinya, ‘Umar beralih pada sang muhajir ganda, ‘Utsman ibn ‘Affan. “Ya ‘Utsman”, ujarnya, “Masa ‘iddah Hafshah setelah gugurnya Khunais telah usai dan dia putriku yang amat kusayangi. Adapun istrimu Ruqayyah binti Rasulillah juga baru saja meninggal. Bagaimanakah pendapatmu jika seorang duda yang baik menikahi seorang janda yang baik?” ‘Utsman tampak terkejut dan malu dengan tawaran terus-terang itu. Segera setelah menguasai diri, dia berkata, “Berikanlah aku waktu untuk memikirkannya.” Waktu tiga haripun diberikan, tapi ketika jawaban dihulurkan, ‘Umar kembali menangguk kecewa. “Dalam waktu dekat ini, kurasa aku belum bisa memikirkan pernikahan lagi.” “Tak mengapa”, sahut ‘Umar dengan hambar. “Ya Rasulallah”, adu ‘Umar di kesempatan berjumpa, “Telah kutawarkan Hafshah kepada ‘Utsman, tapi ‘Utsman menolaknya.” “Semoga Allah karuniakan kepada Hafshah”, sahut Sang Nabi sambil tersenyum, “Lelaki yang lebih baik daripada ‘Utsman. Dan semoga Allah karuniakan kepada ‘Utsman, wanita yang lebih baik daripada Hafshah.”

Dan berlakulah takdir Allah. ‘Utsman dinikahkan oleh Sang Nabi dengan Ummu Kultsum, adik Ruqayyah. Adapun suatu hari, Rasulullah menggandeng tangan ‘Umar dan berkata, “Bagaimana jika aku yang menikahi Hafshah?” Itu salah satu hari paling membahagiakan dalam hidup ‘Umar ibn Al Khaththab, sang ayah yang tahu hakikat menjadi Wali.

Saat walimah digelar, Abu Bakr mendekati ‘Umar. “Apakah kau masih kesal dengan sikapku kemarin?” “Tentu saja”, sahut ‘Umar. Sikap lelaki yang tidak jelas itu menjengkelkan. “Sebenarnya aku sangat berminat pada tawaranmu.” “Kenapa tidak kau katakan?” “Karena aku mendengar bahwa Rasulullah juga bertanya tentang Hafshah.” “Itu juga kenapa tidak kau katakan?” “Karena aku takkan pernah membuka rahasia Rasulullah pada siapapun.” Persahabatan mereka sangat dahsyat bukan?

Nah, kepada para akhawat; sampaikan kisah ini kepada kakak lelaki. Lalu katakan misalnya, “Bang, tukeran teman yuk!” “Maksudnya?” “Teman Abang yang shalih buatku. Temanku yang shalihah buat Abang. Skenarionya kita atur nanti ya.” Atau sampaikan kisah ini pada Ayahanda, lalu katakan pada beliau, “Nanti kalau shalat Jumat, perhatikan shaff depan ya Bah. Kalau ada yang shalih, ganteng, duduknya khusyu’, nyimak khuthbahnya nggak ngantuk ajak lah ke rumah untuk makan siang ya.” Atau sampaikan juga pesan itu pada Kakek. Tapi untuk kakek tambahkan pesan tentang umur. Karena kakek bisa salah faham dan yang diajak pulang seusia beliau semua. Jalau diprotes ngelesnya, “Ya kalau shaff pertama isinya sebeginian semua, Cuk..” Saya tulis ini, karena beberapa rekan akhawat bertanya bagaimana ikhtiyar menjemput jodoh bagi pihak yang biasanya pasif ini dari sisi Allah. Di antara ekstrem hanya menanti dalam doa dan ekstrem lain yang berani menawarkan diri pada lelaki shalih yang diyakini, semoga jalan tengah ini salah satu solusi.

Sampaikan pada para Wali.

 

KAPAN TA’ARUF?
@salimafillah

Ini juga bukan tentang pertanyaan pelik dari handai taulan di saat silatil arham. Ini hanya kisah seorang pemuda 20 tahun yang merasa yakin pada pilihan, meski “nekad” barangkali adalah kata yang lebih tepat.

Dia bertemu calon istrinya pertama kali pada 8 Juli 2004 di rumah seorang Ustadz. Ya, sebab ketakpercayaan diri untuk berikhtiar mandiri, dia percayakan urusan “siapa” pada Allah dan serta guru yang dipandang mumpuni, barangkali agar lebih fokus mempersiapkan “bagaimana”. “Mau calon yang kriterianya seperti apa?”, tanya sang Ustadz tempo hari. “Yang shalihah dan menshalihkan”, jawabnya. “Bagus. Tapi abstrak. Bisa agak konkret sedikit?” “Emm.. Yang punya sedikitnya 3 kelompok binaan pengajian?” “OK. Mantap. Baarakallaahu fiik.” Lalu tak lama, diapun telah memegang beberapa lembar biodata. Dia telah tahu nama, orang tua, saudara, pendidikan, tinggi dan berat badan, aktivitas, hobi, tradisi keluarga, hingga penyakit yang pernah diderita. Dan hari untuk berjumpa dan melihatnya pun tiba.

انْظُرْ إِلَيْهَا، فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا “Lihatlah wanita yang akan kaunikahi itu, karena yang demikian lebih mungkin melanggengkan hubungan di antara kalian berdua.” (HR. An Nasa’i/3235, At Tirmidzi/1087. Dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah/96)

Nasehat Rasulullah untuk Al Mughirah ibn Syu’bah ini sebenarnya hendak dia ‘amalkan segera. Ketika membaca bahwa gadis itu bekerja paruh waktu di sela kuliah sebagai Asisten Apoteker, diapun mencoba untuk mengamatinya. Kali itu dengan cara sembunyi-sembunyi seperti Sayyidina Jabir diajari Sang Nabi.

Belanja ke Apotek dimaksud, dibelinya multivitamin seharga 18 ribu. Tapi ternyata AA tugasnya di belakang, meracik obat, bukan melayani pembeli. Nazhar pertama seharga 18 ribu itu gagal total.

Maka di pertemuan 8 Juli itu diniatkanlah untuk melihat. Namun apa daya, ternyata sepanjang pertemuan tak banyak kata, dan pemuda ini terus-menerus menundukkan kepala, sama sekali tak berani menatap langsung pada gadis yang ada di hadapannya.

Untunglah meja ruang tamu itu terbuat dari kaca. Bening sekali.😉

Baru pada pertemuan kedua pada 12 Juli, dengan dimoderatori pasangan Ustadz dan sang istri, terjadilah diskusi. Pertanyaan, “Visi misi pernikahan menurut Anda?”, “Bagaimana konsep pendidikan anak yang tepat?”, “Apa pandangan Anda tentang istri yang berkarier?”, “Seperti apa proyeksi nafkah nantinya?”, “Bagaimana pendapat Anda tentang homeschooling?”, “Rencana tempat tinggal dan penataannya?”, diberondongkan dengan lebih mengerikan daripada ujian pendadaran.

Tapi endingnya adalah pengakuan. “Maaf, saya tidak bisa memasak.” Si pemuda bergumam dalam hati, “Ya Allah aku kemarin minta yang shalihah dan menshalihkan. Mengingati Ibunda ‘Aisyah, rupanya pandai memasak belum termasuk di situ. Ya Allah apakah Kau menguji kesungguhan kriteriaku?” Lalu dia kuatkan hati, “Tidak apa Ukhti. Di kota ini banyak rumah makan. Murah-murah lagi.” “Saya juga tidak terbiasa mencuci.” “Alamak”, batin hati si pemuda. Tapi mengingat hal yang sama, dia berkata lagi, “Tidak apa Ukhti. Di kota ini banyak laundry. Kiloan lagi.” “Saya bukan mencari tukang masak dan tukang cuci. Melainkan seorang istri. Kalau diperkenankan, saya akan segera menghadap pada Ayah Anda.” Maka hari itu, tanggal lamaran pun ditetapkan pada enam hari kemudian, tepatnya 18 Juli.

Kisahnya akan bersambung dalam tulisan “Kapan Melamar?” yang akan datang insyaallah. Sementara itu, pertanyaannya: mengapa pacaran tak memberi kita perkenalan sejati? Karena kita selalu ingin tampil lebih demi memikat hati. Lalu ketika dua hati telah terikat janji, mental set “beri penawaran terbaik” tak diperlukan lagi.

Maka dalam konseling pernikahan, keluhan pasutri yang memukadimahi rumahtangga dengan pacaran biasanya berbunyi, “Tolong Ustadz.. Suami saya sudah kelihatan aslinya.” Nah bagaimana saling mengenal yang hakiki? Ta’aruf itu istilah umum. Dalam Al Quran, ia adalah hikmah diciptakannya kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Jadi, kapan ta’arufnya suami-istri?

Ta’aruf itu seumur hidup. Sebab manusia adalah makhluq penuh dinamika. Dia sedetik lalu takkan persis serupa dengan kini adanya. Ta’aruf itu seumur hidup. Sebab kenal sejati adalah saat bergandengtangan dalam surgaNya.

Dua belas tahun berta’aruf, pemuda itu masih terus belajar mengenal istrinya. Dan selalu ada kejutan ketika prasangka baik dikedepankan. Misalnya, si dia yang mengaku tak bisa memasak itu, pada HUT RI ke-60 setahun kemudian, menjadi juara lomba masak Agustusan. Tingkat RT. Lumayan bukan?

 

 

 

 

KAPAN LAMARAN? (Bagian I)
@salimafillah

Ini boleh jadi juga kalimat yang sering muncul di sekitar hari raya. Soal ini sangat sensitif, apalagi antar sahabat. Mari simak dulu penuturan dari salah satu orang Quraisy paling cerdas, Sayyidina Al Mughirah ibn Syu’bah, sebagaimana dikisahkan Imam Ibn Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah. “Aku meminang seorang gadis”, ujar beliau, “Lalu seorang pemuda menasehatiku. ‘Demi Allah, jangan kaunikahi perempuan itu. Aku pernah melihat seorang lelaki menciumnya.” “Maka”, ujar Al Mughirah, “Aku membatalkan khithbahku. Tapi tak lama kemudian pemuda yang menasehatiku itu menikahi wanita itu. Kutanyakan padanya, ‘Mengapa justru kau yang menikahinya? Bukankah kaukatakan kemarin kau melihat dia pernah dicium seorang pria?” “Dia menjawab, ‘Betul. Laki-laki itu adalah Ayahnya.” Pesan moral kisah penikungan ini; tetaplah yakin bahwa jodoh itu di tangan Allah. Dan milikilah teman yang baik.

Sebagian sahabat kadang bingung tentang kriteria “baik agama dan akhlaqnya”. Izinkan saya urun pendapat dari pemahaman sendiri, bahwa terjemahnya bisa kita lihat dari sikapnya pada Allah, pada Ibu, pada sebaya, dan pada kanak-kanak.

Pada Allah dengan keterjagaan ibadahnya. Sebab bagaimana bisa diharapkan setia pada kita, jika pada Allahpun dia berhelah. Pada ibu dengan hormat dan baktinya. Sebab bagaimana dia akan menghargai pasangan, jika pada jalan surganya dia tak ta’zhim. Pada sebaya dengan kejujuran, kesetiaan, tepat janji, amanah, dan ketulusan di kesehariannya. Dan pada kanak dengan perhatian dan cintanya.

Tentang itu semua, kita tak harus berakrab dengannya lama-lama, apalagi dalam pacaran misalnya. Tapi tanyakan pada pihak yang intens berinteraksi dengannya; dari takmir masjid dekat rumah sampai teman arisan ibunya. Kecuali soal kawan, seperti kisah di atas, hati-hatilah di tikungan. 😅

Nah, ketika pada tanggal 18 Juli 2004 pemuda yang kita ceritakan dalam tulisan ‘Kapan Ta’aruf?’ berangkat ke pelosok Jawa Timur untuk meminang, rombongannya tersesat-sesat jalan karena peta yang digambar si gadis benar-benar peta buta. Berangkat jam 07.00 dengan perkiraan perjalanan 4 jam, baru sampai lokasi pukul 13.30 WIB.

Para tetangga dan kerabat calon besan yang menanti itu wajahnya sangar pula. Rupanya belum makan sebab menunggu tamu yang dari Yogya. Maka baru setelah santap siang, khithbah disampaikan.

Jawabannya?

Agak rumit dalam Bahasa Jawa aras tinggi yang penuh perumpamaan berpilihan kata dari pewayangan. Tapi intinya: ‘Lamaran ini diterima, tapi pernikahannya tunggulah 2 atau 3 tahun lagi.” Hadirin manggut-manggut. Maklum, kedua calon masih kuliah, si pria baru berusia 20 tahun pula.

Bagaimana nasib calon mempelai lelaki yang sudah ingin menyegerakan separuh agamanya? (Bersambung ke ‘KAPAN LAMARAN?: Bagian II

 

KAPAN LAMARAN? (Bagian II)
@salimafillah

Karena beratnya pertanyaan “Kapan Lamaran?” ini dalam jumpa-jumpa hari raya, mari kita mulai perbincangan dengan sabar. “Hanyasanya orang-orang yang bersabar, disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
(QS Az Zumar: 10)

Karena pahalanya tiada terhad, sabar seharusnya tak ada batasnya. Cuma barangkali, bentuknya boleh dipilih.

Itu yang dipikirkan si pemuda pelamar ketika dikatakan padanya, “Lamaran ini diterima. Tapi untuk pernikahan, mohon bersabar barang dua atau tiga tahun lagi.” Setelah perjalanan melelahkan selama 6 jam, tersesat-sesat jalan akibat peta yang sukar dibaca bukan buatan, membawa rombongan yang masih geleng kepala sebab “Rumahnya saja belum tahu lha kok dipinang?”, selembut apapun nada jawaban itu rasanya bagai palu godam di dadanya yang kadung dibakar semangat menyegerakan akad pengesahan.

Seorang uwaknya mencoba bertanya, mengapa harus sedemikian lama? Wakil keluarga itu menjawab dalam canda yang santun, “Sebab belum genap setahun, keluarga ini juga baru saja mantu. Rasanya tidak enak juga merepoti para tetangga kok lebih dari sekali di tahun yang sama. Tentu juga, kami belum pulih betul secara keuangan dari penyelenggaraan walimah sebelumnya, ha ha ha.” Hal seperti ini, memang haruslah amat dimengerti. Tapi hasrat hatinya meyakinkan sekali, bahwa hukum menikah khusus baginya sudah dekat pada wajib kiranya. Duhai, memang belum dinamakan cinta, tapi sudah begitu merisaukan dada.

Maka dikerahkannyalah segenap kemampuan Bahasa Jawa Krama Halusnya. Dicobanya menyusun kalimat sesantun mungkin, selembut mungkin, dengan menekankan pengertian, penghargaan, serta penghormatan setinggi mungkin pada keluarga ini. “Nun nadhah duka saha nyadhong agunging pangaksami”, begitu pembukanya. Kalimat ini harfiahnya bermakna, “Saya siap menahan segala rasa pedih dimurkai dan menghaturkan mohon ampun sebesar-besarnya.” “Sudah menjadi niat sesuai keadaan diri saya untuk segera menikah”, ujarnya menguat-nguatkan hati. “Belum menjadi soal bagi saya, dengan siapanya. Saya yakin, jodoh sudah ditetapkan Allah..

  • Maka jika yang tertulis di sisiNya itu bukan putri dari keluarga ini, mohon izin dan mohon doa restu Pak, kami segera pamit. Mudah-mudahan bahkan di perjalanan pulang nanti, Allah karuniakan jalan untuk segera menikah, tidak perlu 2 atau 3 tahun menanti. Saya juga mendoakan semoga putri Bapak mendapatkan yang lebih baik insyaallah.” Ayah si pemuda melotot menatap putranya. Wajahnya seakan bicara, “Kamu ngomong apa heh?” Ada pula tamu yang sedang minum jadi tersedak, batuknya menjadi suara latar bagi keheningan yang membuat semua saling pandang.

    Sabar tak ada batasnya. Tapi bentuknya dapat dipilih.

    Menunggu 2 atau 3 tahun adalah kesabaran. Tapi bagi si pemuda, penantian itu amatlah berbahaya. Dua atau tiga tahun dengan calon yang telah bernama dan di depan mata. Tipu daya syaithan memang lemah. Tapi ia sudah berpengalaman bukan hanya sejak zan Fir’aun pakai behel, tapi sejak Adam dan Hawa masih bermukim di surga.

    Atau bagaimana jika ada ujian di sisi lain; bagaimana jika dalam masa tunggu itu dia dipertemukan dengan sosok berbeda yang tampak lebih baik daripada yang sudah dikhithbah? Bukankah hati akan bertambah runyam?

    Maka kini, nothing to loose. Ditolak menikah sekarang, ditolak lamaran yang bergegas, lalu harus mencari lagi yang lain yang bersedia digesa, adalah juga kesabaran.

    Puisi hati pertamanya tergumam lirih. “Aku bukan tak sabar. Hanya tak ingin menanti. Karena berani memutuskan adalah juga kesabaran. Karena terkadang penantian, membuka pintu-pintu syaithan.” Beruntunglah mereka yang dikaruniai calon mertua dengan cara berfikir out of the box.

    Ketidakpatutan ucapan si pemuda dalam forum seterhormat lamaran yang disaksikan puluhan mata, bagi si Bapak rupanya penanda bagi kekuatan tekad, keluhuran niat, serta keterampilan berbudi bahasanya. Maka beliaupun justru berfikir, “Ini makhluq langka. Patut dilestarikan.” 😂 “Ya, tidak begitu Mas. Tentu semua kemungkinan masih terbuka. Insyaallah kami juga memandang, disegerakan lebih baik. Kapan yang dikehendaki?” “Dari Yogya ke sini, alhamdulillah saya sudah hafal lafazh ijab-qabul Bahasa Arab, Jawa, maupun Indonesia Pak. Insyaallah sekarang pun siap.”

“Wah, ya jangan sekarang. Kan perlu persiapan-persiapan ya.” 😅

Alhamdulillah, setelah sang Bapak bolak-balik ke belakang berunding dengan istri dan putrinya, rupanya diplomasi ini sukses mengubah 2 atau 3 tahun menjadi hanya 1 bulan. Lamaran ini terjadi pada 18 Juli 2004, pernikahanpun disepakati akan dilaksanakan pada 20 Agustus 2004.

Si pemuda hingga hari ini masih heran, entah dulu dari mana dia mendapat kekuatan untuk bicara seperti hari itu. Memang kalau sudah bertekad, bertawakkal saja pada Allah. Dan cintanya memang berbeda. “Ada dua pilihan ketika bertemu cinta. Jatuh cinta, ini sakit. Atau bangun cinta, ini sulit. Padamu aku memilih yang kedua, agar cinta kita menjadi bangunan istana, tinggi menggapai surga.”

KAPAN LAMARAN? (Bagian III)
@salimafillah

Belum dilamar itu menggelisahkan. Tapi dilamar oleh orang yang belum dikenal lagi tampak tak meyakinkan itu lebih bikin galau.

Demikian pula bagi gadis itu.

Yang diketahuinya hanya bahwa pemuda itu bersemangat sekali untuk segera menikah. Dua kali berjumpa pun dia sudah langsung meminta peta untuk membawa keluarganya datang melamar. Pekerjaannya? Penulis katanya. Tapi karyanya belum pernah dia baca. Punya usaha fotokopi kecil-kecilan. Entah di mana. Masih kuliah. Bahkan usianya baru 20 tahun. Itu lebih muda daripada dirinya.

Kalau pelamarnya seperti ini, gundahnya berlipat kali.

Bagaimana menjelaskan ini semua pada keluarga? Betapa mendadaknya. Betapa mengejutkannya. Betapa tidak meyakinkan pelamarnya. Apalagi kakaknya belum lama menikah. Apa kata orang sekampung kalau direpotkan dengan acara besar lebih dari sekali dalam setahun oleh satu keluarga?

Dengan susah payah, dengan ungkapan sesopan mungkin di suasana sesantai mungkin, hal ini disampaikannya. Tapi pasti bagi keluarganya, ini bagai petir menggelegar di terang siang. Dan pertanyaan paling horor yang sama sekali tak diduganya pun muncul. “Ini bukan karena kamu sudah hamil to, Ndhuk?” Pertanyaan ini di dada si gadis, rasanya meledak sebagai bom atom ketiga setelah Hiroshima dan Nagasaki. Tangisnyapun pecah. Diiringi pula tangis ibu yang sangat disayanginya.

Perlu 3 hari sampai dia bisa menjelaskan semuanya. Tapi tetap tak meyakinkan. Jangankan meyakinkan Bapak dan Ibunya, meyakinkan diri saja rasanya belum utuh. Dan hari kedatangan keluarga itu semakin dekat.

Gadis itu hanya dapat pasrah kepada Allah. Dan Allah yang Maha Perkasa punya cara tak terbatas untuk menolong hambaNya.

Tetiba sang Bapak bertanya, “Apa pekerjaan pemuda itu Ndhuk?” “Penulis.” “Penulis itu Sekretaris? Atau Carik begitu?” “Penulis buku.” “Oo.. Buku Pelajaran seperti yang di Sekolah mungkin ya? Kalau orangtuanya?” “Eh, bukan Pak. Eh, kalau Bapak-Ibunya dua-duanya Guru.” “O, Guru. Bagus kalau begitu. Ya sudah, Bapak setuju.” “Lho?” 😯

Ternyata kata “Guru”, bagi orang sebersahaja dan sepolos sang Bapak mengandung banyak makna.

Guru adalah orang pandai lagi terhormat. Beliau menduga, pastilah mereka bisa mendidik putranya dengan baik. Dulu ketika kecil, sang Bapak sangat terkesan dengan para Guru dan ingin menjadi Guru. Tapi takdir Allah menentukan beliau ditempatkan menjadi pegawai jujur di lingkungan sebuah dinas di Kabupaten. Sang bapak merasa, berbesan dengan guru, sosok-sosok terpelajar itu, adalah kebaikan.

Pertolongan Allah sering jalannya tak terduga. Si gadis justru lalu juga seperti diyakinkan gara-gara sudut pandang ayahnya. Dia berfikir, “Kalau pemuda itu bisa meyakinkan Ayah dan Ibunya yabg Guru untuk segera menikah di usia ini, ah pastilah cara berfikir dan caranya menyampaikan pandangan pada kedua orangtuanya istimewa.” Tapi tanggal itu, 18 Juli 2004, si pemuda telah membuat gara-gara. Dia mengatakan pernikahannya harus segera. Atau dia mencari yang lain saja. Sungguh terlalu.. Sungguh terlalu.. Cerita akan kita sambung pada “Kapan Ijab Qabul?” insyaallah, karena ada guncangan dahsyat beberapa menit menjelang akad.

 

 

KAPAN IJAB-QABUL?
@salimafillah “Jawabnya ada di ujung langit.. Kita ke sana dengan seorang anak.. Anak yang tangkas, dan juga pemberani..” Saya ajukan original soundtrack animasi legendaris ini sebagai alternatif jawaban, barangkali masih ada yang akan ditanya kapan ijab-qabulnya saat Syawalan pekan-pekan ini.

Jawaban ini sesuai hakikat. Dan pernikahan memang memerlukan ketangkasan dan keberanian, sebab ia sungguh berat.

Saking beratnya hal ijab-qabul ini, Allah sampai menyebutnya ‘mitsaqan ghalizha’; perjanjian berat, perjanjian kokoh yang membelit dan mengikat.

Istilah ‘mitsaqan galizha’ ini hanya muncul 3 kali di dalam Kitab Suci. Pertama, untuk menyebut perjanjian antara Allah dan para Rasul Ulul ‘Azmi agar mereka teguh istiqamah menyampaikan risalah. Kedua, untuk menyebut perjanjian Allah dengan Bani Israil, hingga Allah mengangkat Thursina ke atas kepala mereka. Ketiga, untuk menyebut pernikahan, akad menghalalkan sesuatu yang amat suci dengan namaNya.

Siang itu seusai Shalat Jumat, 20 Agustus 2004, Bapak seorang gadis mendekati calon menantunya dan bicara setengah berbisik. “Ini selanjutnya bagaimana Nak?” “Selanjutnya bagaimana maksud Bapak?”, tanya si pemuda polos. “Nah, kalian berdua kan masih sama-sama kuliah. Soal biaya dan keperluan hidup nanti apakah..” “Bapak mohon tenang”, potong si pemuda. “Pernikahan adalah pengalihan tanggungjawab. Dari Ayah kepada suami. Begitu putri Bapak menjadi istri saya, maka segala hal yang selama ini menjadi tanggungjawab Bapak, semuanya beralih kepada saya.” “Bagus Nak”, senyum si Bapak lebar sekali.

Tetiba telepon genggam si pemuda bergetar. Rupanya ada yang diam-diam tahu pembicaraan ini dan segera mengirim pesan. Isinya ringkas dan jelas. “FYI: SPP saya satu semester 4 kali lipat SPP panjenengan.” Pengirimnya juga jelas: Calon Istri.

Tiba-tiba semua kepercayaan diri saat menjawab pertanyaan calon mertua tadi runtuh. Bersama itu, bulir-bulir buram sebesar jagung mulai meleleh dari kepala, dahi, pipi, dan terjadi banjir keringat dingin di punggungnya. “Kalau SPP-nya saja 4 kali lipat, konsumsi primer, sekunder, sampai tersiernya soal kosmetik dan lainnya berapa kali lipat?”

Horor! Bagaimana bisa ini tak terpikir sebelumnya?

Maka menjelang akad nikah itu putaran bumi pada porosnya seakan terasa dan matahari bersembunyi di balik retina. Pusing. Gelap. Tapi di depan sana petugas KUA sudah selesai meneliti berkas, memberi mukadimah, dan calon mertua sudah mulai mengulurkan tangan. Sejenak dia ragu menyambut salaman, sebab telapak Bapak itu seakan adalah pukulan seribu bayangan.

Tapi dia menguatkan diri dengan berusaha menghadapkan hati pada Ilahi. Dan memejamkan mata.

Dia ingat betul, para kekasih Allah juga memejamkan mata ketika perintah Allah terasa berat bagi mereka. Ibrahim ‘Alaihissalam misalnya, ketika diperintahkan menyembelih putra tercinta, dia memejamkan mata sebagai tanda berserah diri pada Allah, berprasangka baik padaNya, dan tetap berjuang untuk taat meski terasa berat.

Maka diapun memejamkan mata sembari berharap akan ada keajaiban ketika nanti semua selesai. Tentu saja dia berharap keajaibannya tak persis sama dengan yang terjadi pada Ibrahim. Mempelai diganti kambing itu tidak lucu. “Ya Allah, inilah aku hambaMu berusaha mentaatiMu dan mengikuti sunnah RasulMu, maka tolonglah dia mengatasi segala kelemahannya.” Dan benar, ketika dia membuka mata, hujan mulai turun, rintik gerimis rinai-rinai syahdu.

Maka puisi hati berikutnya tertutur ketika pertama kali tangannya dicium sang istri dan hidungnya disentuhkan ke ubun-ubun berkerudung putih itu. “Betapa sedihnya, langit yang kehilangan sesosok bidadari. Ia titikkan airmata, karena yang tercantik turun ke bumi. Inilah dia si jelita, mendampingiku di sisi.”

 

MAHAR, WALIMAH, & NAFKAH (Bagian I)
@salimafillah

Di antara nilai awal masyarakat Islam adalah bahwa anak perempuan menjadi tanggungan walinya sampai dia menikah, sedangkan anak lelaki berada dalam nafkah orangtuanya hingga dia baligh.

Jadi ada dorongan kuat supaya remaja putra bergegas mandiri. Ketika mereka dewasa, nafkah dari ayahnya barangkali sudah bernilai shadaqah. Sebab status mereka, pria muda pasca-baligh yang masih dibiayai orangtuanya hakikatnya adalah ‘fakir miskin dan anak terlantar yang dipelihara oleh keluarganya.’ Begitu.

Barangkali Ayah-Bunda kita yang amat baik hatinya itu memang masih ingin membiayai. Tak apa. Tapi tekad dan upaya sejauh kemampuan untuk segera mandiri pasti jadi kemaslahatan besar.

Saya punya kawan yang di SMA pergi ke sekolah menggunakan angkutan umum atau bersepeda, padahal di rumahnya berjajar mobil dan motor penuh gaya. Ayahnya Rektor sebuah PTS terkemuka, Ibunya punya butik beberapa. Ketika saya tanyakan mengapa tak memakai fasilitas itu semua, dengan senyum dia berkata, “Semuanya bukan milik saya.” Ketika kegiatan makin sibuk dan ibunya memaksa memakai sepeda motor, sebuah merk Cina murah dipilihnya.

Begitu aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kerelawanan senyampang kuliah di Fakultas Kedokteran UGM, berorganisasi, membangun jaringan, mencoba beberapa usaha, hingga membuka lapak konsultasi kesehatan & kebugaran di tiap Sabtu dan Ahad pagi di keramaian orang berolahraga dilakoninya ketika teman-teman lain memilih rehat dari padatnya pendidikan dokter muda. Ketika yang lain masih gamang, pergaulan luas membuatnya diangkat jadi Dirut sebuah Rumah Sakit Swasta sejak selesai Ko-As. Ketika memutuskan mengambil pendidikan dokter spesialis, tawaran pembiayaan mengalir untuknya.

Nilai plus itu mahal.

Kawan lain sejak SMA juga rajin mencari penghasilan tambahan, padahal Ayahnya seorang pejabat tinggi di Kejaksaan dan Ibunya berkarier bagus di bidang kesehatan.
Sembari kuliah di Fakultas Kedokteran UGM, dia mengajar di beberapa lembaga bimbingan belajar sekaligus. Pulang tengah malam atau jelang pagi dijalani dengan gigih.

Bergabung ke Multi Level Marketingpun pernah dibela-belakan. Ajaib di sela-sela itu semuapun menerbitkan 2 judul buku. Lulus cumlaude sebagai dokter, pemerintah provinsi daerah asal istri yang baru dinikahinya langsung menawari beasiswa belajar pendidikan dokter spesialis.

Nilai plus itu keren.

Saya meyakini kita hidup di zaman yang berubah begitu cepat. Jadi dokter 40 tahun lalu mungkin langsung dipredikati ‘berbakat kaya’. Sekarang? Berapa biaya menjadi dokter berbanding pendapatannya ketika internship? Berapa seorang dokter umum dibayar untuk menangani 1 pasien BPJS?

Menjadi engineer di bidang minyak dan gas atau pertambangan umumnya, 10 tahun lalu masih dicap ‘cepat kaya’. Sekarang? Berapa banyak yang kariernya mapan harus mengambil pilihan pengunduran diri dengan fasilitas perusahaan yang kian dikurangi. Segala perkiraan sepuluh tahun lalu runtuh di depan penemuan baru.

Ah, kita belum bicara membanjirnya tenaga kerja dari bangsa-bangsa lain. The world is hot, crowded, and flat. Pemilik perusahaan bisa berganti dalam hitungan hari. Pekerjaan para ahli di Amerika dari program-coding hingga analisis scan kesehatan kini diborong ke India, dan manufakturnya dikerjakan di Cina.

Maka ini bukan waktunya tawakkal pada ijazah. Tawakkal hanya pada Allah dan memulai upaya mandiri sejak awal adalah konsekuensi bagi yang hendak menyegerakan surga sebelum surga di pernikahannya. Lebih bagus membangun nilai plus sesuai bidang. Tapi jika kesesuaian usaha sejak dini kita dengan bidang kuliah hanya misalnya keterampilan berinteraksi dengan manusia, itu sudah sangat dahsyat.

Tidurlah lebih sedikit. Bersenang-senanglah lebih sedikit, duhai para bujang yang dinanti bidadari berkerudung jenjang. Mandiri sedini mungkin itu kehormatan dunia akhirat.

MAHAR, WALIMAH, dan NAFKAH (Bagian II)
@salimafillah “Ada 3 orang yang amat tekun beribadah di Masjid pada masa kekhalifahan Sayyidina ‘Umar, Radhiyallahu ‘Anh”, tutur Dr. Jaribah ibn Ahmad Al Haritsi mengutip Ibn Katsir dalam Al Fiqhul Iqtishadi li Amiril Mukminin ‘Umar ibn Al Khaththab.

Kepada orang pertama Khalifah bertanya, “Apa yang kaulakukan di sini wahai hamba Allah?” Orang itu menjawab, “Beribadah, sebagaimana kaulihat wahai Amirul Mukminin.” “Lalu siapa yang menanggung nafkahmu dan keluargamu?” “Janganlah engkau mengkhawatirkanku wahai Amirul Mukminin”, ujarnya sambil tersenyum, “Kami ada dalam jaminan Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Pemberi.” Maka Sayyidina ‘Umar beralih pada orang kedua dan bertanya hal yang sama. “Aku dan saudaraku berbagi tugas”, ujar orang ini. “Dia bekerja di pasar sementara aku memperbanyak ibadah dan mendoakannya. Kami berserikat dalam hasil perniagaannya.” Sayyidina ‘Umar tertawa dan bertitah, “Demi Allah, saudaramu itu lebih ahli ibadah dengan apa yang dikerjakannya dibanding dirimu.” Kemudian beliau beralih pada orang ketiga. “Seperti kaulihat hai Amirul Mukminin”, katanya, “Aku beribadah di sini. Dan ada saja hamba Allah yang berbaik hati mencukupi keperluanku.” Orang ketiga ini ditendang oleh Sayyidina ‘Umar keluar dari Masjid dan kepadanya diberikan tongkat beserta alat. “Demi Allah”, bentak beliau, “Berkeringat untuk bekerja dan merasakan lelahnya itu jauh lebih baik daripada engkau duduk di rumah Allah tapi hatimu berharap pada pemberian manusia.” Rizqi itu jaminan Allah. Bekerja adalah ibadah kepada Allah dan kehormatan di mata manusia.

Maka Dr. Jaribah sampai menyimpulkan, Sayyidina ‘Umar menghendaki semua muslimin aktif dan produktif meski tanpa bekerjapun mereka berkecukupan. Orang Quraisy yang tidak terjun berniaga dihardik keras. Modal tidak boleh berhenti. Lahan yang tidak ditanami 2 musim berturut bisa disita negara dan ditawarkan pada yang mampu menggarap. Bahkan harta-harta anak yatimpun dimudharabahkan agar tak terkurang oleh zakat dalam haulnya.

Para bujang shalih yang hendak menggegas bernikah dan bernafkah, segera mulailah.

Pemuda yang tempo hari kita bahas lamarannya, mengumpulkan tabungan dari beberapa jual beli kecil, menggalang modal, dan membuka usaha fotokopi serta persewaan pernak-pernik TKA/TPA/PAUD di awal kuliah.

Apakah usahanya sukses?

Barangkali ukuran suksesnya bukan dari berapa banyak pendapatannya perbulan. Melainkan kesungguhannya, kelelahannya, keterhubungannya dengan beberapa orang adalah ketukan di pintu Allah Sang Penggenggam Rizki. Lalu Allah membuka pintu lain yang lebih besar daripada yang diketuknya.

Jika kita bekerja, ‘itqan, ditekuni sampai ahli, ihsan, dilakukan melampaui harapan pihak yang menikmati hasil kerja itu; katakanlah kita punya kelayakan dibayar 1 milyar karena kesungguhan di sana, maka jika hanya 1 juta yang berbentuk uang kita terima, yakinlah Allah akan membayar 999 juta lainnya dalam berbagai hal tak terduga; istri shalihah, anak shalihin dan shalihat, kesehatan, ketentraman, kemampuan untuk shalat di Masjid, kemampuan berpuasa, serta beramal shalih lainnya.

Maka apatah lagi bekerja ikhlas, yang pahalanya tak terhingga. Rizqi yang datang sesuai jaminanNya pastilah berkah seberkah-berkahnya.

Tukang sapu yang hanya menggumamkan UMR, barangkali memang mendapat sesuai gajinya. Tapi tukang sapu yang hatinya bernyanyi, “Ya Allah, kubersihkan agar tak ada yang terpeleset, tak ada yang tersandung.. Agar semua terlatih hidup bersih.. Agar orang faham kesucian adalah cabang keimanan.. Agar indah dan orang memujiMu melihat keindahan..”, siapakah yang mampu membayarnya selain Allah?

Ayo bekerja para bujang shalih, dan percayalah pada Allah melebihi percaya diri.

 

MAHAR, WALIMAH, & NAFKAH (Bagian III)
@salimafillah “Berapa Nak Ahmad menyiapkan maskawin untuk anak saya?” “Alhamdulillah Pak, putri Bapak kemarin mengatakan ingin menjadi sebaik-baik wanita, yaitu yang ringan maharnya. Dia tidak menentukan. Saya sangat bersyukur. Dan saya juga ingin menjadi sebaik-baik lelaki, yaitu yang mampu memberi mahar terbaik. Maka bismillah Pak, dengan mengerahkan segenap kemampuan saya, saat ini insyaallah saya siapkan senilai Rp. 750.000,00 Pak.” “Wah, bagaimana ya Nak. Nilai mahar sekarang itu kan ya minimal harus jutaan rupiah.” “Itu memang aslinya satu juta Pak, saya potong 25% untuk persiapan biaya lain-lain.” Sang Wali garuk-garuk kepala. “Jadi kalau dimaksimalkan bisa berapa itu?” “Siap Pak. Bismillah, saya akan sediakan satu perdua juta, ditambah satu perempat juta lagi, jadi totalnya tiga perempat juta rupiah. Bagaimana Pak?” Lelaki paruh baya itu mengerutkan dahi dan berpikir agak lama. “Setuju ya Pak? Satu perdua juta ditambah satu perempat juta lagi?”, kata si pemuda sambil mengulurkan tangan berjabatan. “Eh iya”, geragap si Bapak. “Setuju Nak.” Saya tidak menganjurkan dialog di atas sebagai sebuah tips. Saya dulu juga tidak begitu. Hanya sarannya, jadilah seorang yang cerdas sekaligus santun, cerdik sekaligus terhormat, menang tanpa mengalahkan, serta berhasil tanpa membuat tersinggung dalam membicarakan urusan finansial kepada orangtua dan calon mertua.

Itu salah satu uji kedewasaan kita.

Menata anggaran sekitar pernikahan ini memang penting. Yang terpenting, janganlah kita memaksakan diri. Berkah tidak terletak pada seberapa wah. Ridha Allah tidak diukur dari seberapa mewah. Sakinah mawaddah dan rahmah nantinya tidak berbanding lurus dengan seberapa megah.

Saat membicarakan walimah dengan orangtua dan mertua, saya sampaikan pada mereka bahwa walimah yang akan saya selenggarakan sesuai anggaran saya adalah mengundang para pihak terpenting saja.

Siapa mereka?
Pertama, adalah para calon tetangga tempat saya dan istri nantinya akan tinggal. Mengapa ini prioritas penting? Sebab fungsi walimah pertama-tama adalah seperti sabda Rasulullah, “A’linu hadzan nikah.. Umumkan pernikahan ini.”

Jadi tetangga tempat kita akan bermukim nanti, adalah undangan utama, sekaligus sebagai “kulanuwun”, ungkapan mohon izin bergabung sebagai bagian dari masyarakat itu. Kedua adalah saudara, kerabat, teman, dan sahabat yang sering berinteraksi dengan kami, kedua mempelai, sebab dengan mereka selama ini kita berbagi suka-duka dan doa-doa mereka amat kita harapi.

Nah bagaimana dengan teman kantor, sahabat, tetangga, dan relasi Ayah-Ibu serta Bapak-Ibu mertua kita? Saya sampaikan pada mereka, “Itu di luar anggaran saya. Kalau Bapak-Ibu semua hendak menyelenggarakan walimah dengan mengundang mereka semua, saya siap membantu sejauh kemampuan saya.” Saat itu, kepada masing-masing keduanya saya serahkan 1/5 anggaran walimah dalam amplop tebal. Tiga perlima saya kelola sendiri untuk walimah bersahaja versi saya.

Gara-gara hal ini, walimah pernikahan kami berlangsung 3 kali; satu di Ngawi pada 20 Agustus 2004 petang, satu di Kulon Progo pada 22 Agustus pagi, dan satu di Selasar Masjid Jogokariyan pada 22 Agustus malam.

Hashtagnya: #PengantinCapek

MAHAR, WALIMAH, & NAFKAH (Bagian IV)
@salimafillah “Adalah Rasulullah ﷺ”, demikian menurut Sayyidina ‘Abdullah ibn ‘Abbas, “Melarang ‘Ali mengumpuli Fathimah ketika dia menikahinya, sampai dia memberikan mahar baginya.” “Aku tak punya apa-apa”, ujar ‘Ali. “Di mana baju besi Huthamiyah milikmu itu?”, tanya Rasulullah ﷺ.

Maka ‘Alipun berrumahtangga dengan Fathimah dengan mahar senilai baju besinya. Ketika beberapa orang Anshar menyumbangkan pernik perabotan rumah kepadanya, Sang Nabi ﷺ memerintahkannya untuk mengembalikan itu semua, sebab keluarga beliau ﷺ dilarang menerima shadaqah. Karena ‘Ali menyatakan memerlukannya, maka beliau ﷺ memerintahkan agar ia dikembalikan sebagai hutang.

Sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib memulai pernikahan bukan dari nol. Melainkan dari minus. Saya juga begitu.

Tidak berhutang meski pernikahan jadi sederhana dan walimah menjadi bersahaja tentu jauh lebih utama. Tetapi ketika terpaksa menerima pinjaman, maka niatkanlah pembayarannya dengan segera, rencanakanlah pengembaliannya secermat mungkin, catat akadnya serapi mungkin, dan laksanakan sepenuhnya ayat terpanjang dalam Al Quran, Surat Al Baqarah ayat 282.

Saya menghitung bahwa dengan rata-rata pendapatan saya ketika menikah, maka hutang saya kepada seorang Abang dekat akan saya cicil dari penyisihan penghasilan kira-kira selama 18 bulan. Menghitung seperti ini hendaknya menafikan faktor-faktor yang terlalu spekulatif.

Tapi tetaplah yakin dan bersandar pada Allah. Sebab rizkiNya lebih luas daripada pendapatan kita, karuniaNya lebih tak terhingga daripada hitung-hitungan kita. Ternyata saat itu Allah mengaruniakan yang tak terduga, dan hutang yang saya perkirakan 1,5 tahun baru lunas, ternyata dalam 1,5 bulan telah tuntas.

Banyak yang mengira, pernikahan adalah pecahan matematika. Pendapatan adalah pembilangnya dan jumlah anggota keluarga adalah penyebutnya. Maka berrumahtangga dianggap membagi pendapatan yang sudah kecil ketika bujang, menjadi lebih kecil lagi dengan bertambahnya istri dan anak.

Padahal setiap jiwa punya rizkinya, dan Rasulullah bersumpah bahwa tiap jiwa itu takkan mati hingga Allah sempurnakan turunnya rizki padanya.

Padahal sebenarnya, hadirnya istri bukanlah penambah beban, melainkan bertambahnya sumberdaya untuk mengatur berbagai perkara, termasuk keuangan. Seorang manajer yang baik, -dan kadang galak-, telah hadir dalam hidupnya.

Inilah yang menjelaskan mengapa seringkali pengeluaran para bujang lebih tak terkendali dibanding para suami. Sebab seringkali ketika bujang melihat makanan enak dan tertarik, maka dia membelinya. Sedang suami yang tergoda hidangan lezat akan bergumam, “Yang di rumah makan apa?” Sebab seringkali ketika bujang melihat gadget baru keluar promonya, dia ingin maka segera berbelanja. Sedang suami yang melihat hal sama akan bicara pada hatinya, “Apa yang lebih diperlukan istri dan anak-anak dan saya belum memenuhinya?” Menjadi suami, dalam soal nafkah, kian melatih kita untuk membedakan, mana yang merupakan keperluan, dan mana yang hanya keinginan. (Foto: Rafting di Serayu. Kehidupan awal pasangan muda barangkali seperti mengarungi jeram berarus kuat. Menakutkan? Kata yang lebih tepat adalah: mengasyikkan. Posting berikutnya insyaallah: Kisah Malam Pertama.)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s