Sinopsis Novel “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”

Posted: April 25, 2016 in Uncategorized

Salah satu novel paling sangat most very very saya suka adalah novel ini,,,, saya pinjem novel ini dari temen dan saya baca hanya 5 jam ketika ngekos di Bandung di tahun pertama saya kuliah sktr awal thn 2013,,, sendirian di kosan sambil menikmati cuaca dinginnya kota Bandung,, kubaca mulai dari jam 5 sore sampe jam 10 malam. hanya jeda sholat dan makan malam…

Berikut adalah sinopsis novelnya yang saya ambil dari http://www.kompasiana.com/dita.widodo/rembulan-tenggelam-di-wajahmu-sinopsis_552838e9f17e61052d8b45a3

Rembulan Tenggelam di Wajahmu - Sinopsis

Judul Novel : Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Karya : Tere Liye Jumlah : 426 halaman
Penerbit : Republika
Ini bukan novel baru Tere Liye, karena cetakan pertama telah beredar tahun 2009. Secara jujur semakin saya membaca karya-karya Tere Liye, semakin saya terkagum-kagum dengan pencipta manusianya. Ya, darimana ide itu berasal? Darimana indahnya kalimat menetes mengalir mengisi kertas-kertas kosong yang tersedia di hadapan? Darimana seseorang mampu mengaitkan peristiwa satu dengan yang lain dengan jalinan imajinasi yang demikian berkesinambungan? Saya percaya bahwa Tere Liye hanyalah jelmaan kehendakNya mengajarkan hikmah pada manusia. Tentu sebagai manusia, Tere Liye dilengkapi dengan kekurangan-kekurangan yang menyertainya. Tak semua karya mungkin sama kualitas dan sama menyentuhnya di hati para pembaca, itu hal yang amat jamak. Namun setidaknya upaya berdakwah dan memperluas wawasan, memberikan pemahaman tentang hidup yang diselipkan dalam karya-karyanya amat nyata terbaca.
Maka setelah beberapa novel kami nikmati sebagai hidangan lezat di keluarga kami, saya memesan Rembulan Tenggelam di Wajahmu melalui sms ke toko buku online Delisa di 0898-909-8467. Buku itu kemudian dikirimkan 4 hari setelah transfer, plus bonus tanda tangan si penulisnya. Ini tentu kegembiraan pertama yang saya dapatkan sebelum membaca karyanya🙂 ***

Novel ini bercerita tentang kehidupan seorang lelaki bernama Rehan Raujana. Nama yang diberikan oleh Ibu Panti yang membesarkannya. Kata kehidupan ini bukan hanya sepenggal kisah perjalanan singkat saja, melainkan keseluruhan kisah hidup tokoh utamanya dari ia dilahirkan di dunia hingga menjelang akhir hayatnya. Tere Liye menyajikan kisah ini dengan sangat unik, karena dikemas dalam alur mundur melalui perjalanan metafisik yang amat fantastis dan menarik. Ini bukan tentang biografi seorang anak manusia, namun terlebih pada aneka hikmah pembelajaran yang lebih dalam untuk memaknai hidup itu sendiri. Sekitar 5 hari sebelum meninggalnya Ray ( nama panggilan ketika sudah dewasa), yang ketika itu berusia 60 tahun, dan dalam keadaan sakit keras, ia didatangi oleh seorang yang disebut penulis sebagai “orang berwajah menyenangkan”. Saya yakin yang dimaksud penulis adalah asosiasi dari Nabi Khidir, untuk menemani perjalanan metafisik menapaki kehidupan dari kecil hingga tua seorang pasien bernama Ray, yang adalah seorang konglomerat dengan kerajaan-kerajaan bisnis di property, telekomunikasi dll yang ia raih dengan perjalanan amat berliku. Ini bukan sekadar pemutaran ulang kisah hidup, namun Ray diberi kesempatan melihat dari sisi lain yang ia tidak pernah tahu sebelumnya. Perjalanan inilah yang akhirnya mampu menjawab lima besar pertanyaan yang mengetuk-ngetuk hati dan kepalanya sepanjang hidupnya. Di masa kecil, Ray yang masih dipanggil Raehan, tinggal di sebuah panti asuhan dan tak tahu asal mula kehidupannya sendiri. Ia tumbuh menjadi seorang anak lelaki bandel, fisik yang kuat, namun berotak amat cerdasnya. Ia menjadi bandel adalah semata-mata karena dipicu lingkungan panti asuhan yang “amat tidak ideal”.
Penjaga panti ialah seorang yang “mengeksploitasi” anak-anak dengan mempekerjakan mereka di jalanan. Ia pun menyalahgunakan sumbangan dari para donatur untuk mencapai ambisinya yang adalah ; naik haji. Satu kemunafikan yang jelas amat bertentangan dengan tujuan mulia itu pastinya. Rehan yang cerdas dapat menangkap peta politik si penjaga panti, sehingga ia menjadi seorang yang skeptis. Termasuk skeptic terhadap takdir hidupnya sendiri. Sebenarnya teman sekamar Rehan yang bernama Diar amat menyayanginya. Diar yang amat peduli. Yang selalu menyisakan setengah jatah makanannya ketika sahabatnya pulang larut malam dengan memanjat pagar dan mencongkel jendela kamar. Sahabatnya yang keterampilannya meningkat dari hari ke hari. Jika saat itu Rehan tidak peduli dan menerima kebaikan dengan datar-datar saja, itu karena mata dan hatinya sudah diliputi perasaan benci. Benci terhadap penjaga panti yang sok suci di matanya. Benci terhadap takdirnya. Hingga menggiringnya memilih kabur dari panti asuhan itu dan memilih menjadi preman di terminal, dan mulai belajar berjudi. Namun sebelum itu, Rehan yang cerdas berhasil masuk ke ruang arsip untuk mencari tahu asal usul dirinya. Di sanalah ia menemukan sebuah berkas bertuliskan nama lengkap Rehan Raujali, dan sepotong guntingan kertas koran yang sudah hampir menguning.
Sebuah berita di surat kabar yang mengabarkan peristiwa kebakaran bangunan ruko dan membakar habis seluruh isi dan penghuninya, kecuali seorang bayi laki-laki yang tersisa. Nalar dan logikanya kemudian mulai merangkai peristiwa demi peristiwa, dan menyimpulkan, bahwa bayi laki-laki malang itulah dirinya. Siapa yang melakukan perbuatan keji itu?? Teramat banyak kepahitan hidup yang dialami setelah ia kabur dari panti asuhan. Diar, sahabat baiknya sebagaimana penghuni panti lainnya menjalani keseharian dengan bekerja. Dan saat itu Diar bekerja sebagai penjaga toilet umum di terminal, tempat Rehan melangsungkan aksinya sebagai preman. Rehan mencuri celana jins milik supir bis malam yang sedang mandi di toilet umum tersebut, dan lalu membawanya lari untuk dijual. Uang hasil penjualannya selain untuk membeli makan, juga dihabiskan di meja judi. Sementara Diar yang tidak sempat menjelaskan tentang siapa pencuri celana jins tersebut menjadi korban amuk massa dengan siksaan yang amat mengerikan. Beruntung polisi segera datang sebelum massa membakarnya hidup-hidup, hingga ia dilarikan ke rumah sakit. Di ruang ICU itulah Diar bersebelahan dengan Rehan yang dirawat di ruang yang sama dalam kondisi sama kritisnya. Petualangan Rehan di meja judi, menang-kalah dan lalu menang lagi hingga menggulung habis kekayaan si Bandar judi harus dibayar mahal. Ia ditemukan polisi dengan luka 7 tusukan di lambung yang amat parah. Dan takdir pula yang menentukan hingga keduanya dirawat di ruang ICU yang sama. Di sinilah ternyata ruang yang ditentukan langit untuk menjadi titik balik si penjaga panti. Diar dalam kesaksian terakhirnya mengakui bahwa dialah perusak tasbih milik penjaga panti. Ketika itu Rehan mengakui kesalahan itu sebagai kesalahannya hingga hukuman cambuk dan siksaan itu ditanggungnya dengan sepenuh ketegaran. Bagi Rehan, pengakuan itu hanya sebagai bentuk perlawanan. Sementara bagi Diar, peristiwa itu amat meninggalkan kesan mendalam sehingga terhitung hari itu, ia bersumpah untuk selalu menghargai Rehan, sahabatnya. Ia tak peduli bagaimana pun kebandelan Rehan, dan bagaimana pun Rehan di mata orang lain, di mata Diar, Rehan adalah pahlawan. Rehan adalah orang yang amat dia sayangi. Detik-detik akhir sebelum akhirnya Diar menghembuskan napas terakhirnya, ia menitipkan Rehan pada penjaga panti agar menyelamatkannya. Penjaga panti yang seperti menemukan cahaya di lorong gelap, serta merta dibukakan matanya atas seluruh kesalahan besar yang ia lakukan selama ini. Dan tabungan yang hampir terkumpul untuk menunaikan ibadah haji diambilnya untuk membiayai pengobatan Rehan ke ibu kota. ( Peristiwa demi peristiwa ini dikisahkan oleh orang berwajah menyenangkan pada Ray, karena ketika itu jelas Ray tidak pernah tahu tentang apa yang Diar pikirkan. Termasuk ketika Diar meninggal pun, Ray tidak tahu karena saat itu dia sendiri sedang kritis).
Kepahitan hidup Rehan remaja sempat berhenti ketika ia dititipkan ke sebuah rumah singgah sepulang ia berobat selama 6 bulan di ibu kota itu. Rumah singgah yang pertama kali mengajarkannya tentang arti sebuah keluarga. Bang Ape, pemilik /pengelola rumah singgah itu mengajarkan banyak hal. Termasuk motivasi yang terus menerus ditanamkan untuk menjadi orang yang baik. “Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepalan tangan untuk mengubahnya”, adalah salah satu kalimat motivasi yang amat dalam tertanam di hatinya, dan juga pastinya di hati teman-teman rumah singgah itu. Ketika salah seorang diantara mereka diadopsi orang sehingga harus meninggalkan rumah singgah itu, kembali Bang Ape memberikan mantranya ; “Kalian akan tetap menjadi saudara di mana pun berada, kalian sungguh akan tetap menjadi saudara. Tidak ada yang pergi dari hati. Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan. Kalian sungguh akan tetap menjadi saudara” Dan memang bagi Rehan, anak-anak di rumah singgah amat berarti baginya, sehingga kembali naluri kepahlawanan itu muncul ketika salah seorang anggotanya diganggu oleh preman. Dan perkelahian demi perkelahian karena solideritas Rehan tentu bertentangan dengan apa yang diajarkan Bang Ape. Bahwa kejahatan tak selamanya harus dibalas dengan kejahatan. Atau banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk membalas kejahatan, sama sekali jauh dari keyakinan Rehan. Jika bukan dia yang membalas, siapa lagi? Jika bukan dia yang peduli siapa lagi? Bukankah semua orang yang melihat sebuah kasus-kasus kejahatan itu jamaknya memilih diam dan mengamankan diri sendiri? Akhirnya kehidupan di rumah singgah pun berakhir juga dengan cara yang sama: kabur. Kali ini karena ia merasa bahwa ia tak dapat mengikuti apa yang diajarkan dan diyakini oleh Bang Ape, orang yang amat ia hormati. Rehan meneruskan hidup sebagai pengamen di kereta. Keahlian bermain gitar yang diperoleh dari Natan, seorang sahabatnya di Rumah Singgah ternyata mampu menjadi salah satu jalan menyambung hidupnya. Berbeda dengan Natan yang memiliki suara bagus, Ray hanya mengamen dengan gitar tanpa lagu yang mengiringi.Ia tinggal di kontrakan sempit dan kumuh yang bertetangga dengan sebuah rumah besar yang mentereng. Satu hal kebiasaan Rehan dari semasa di Panti dulu adalah memandang rembulan setiap purnama tiba. Hanya dengan mengagumi keindahan rembulan, Rehan mampu menangkap satu keindahan hidup yang menentramkannya.
Sampai suatu saat ketika ia dengan lincah turun dari tower air yang tingginya mencapai 10 meter, pengontrak rumah mentereng di sebelah tower itu terkagum-kagum dan mengajaknya berkenalan. Di kemudian hari, lelaki yang menawarkan persahabatan dengan secangkir coklat panas itu mengajak kerja sama. Yang adalah melakukan pencurian berlian seribu karat yang tersimpan di lantai 40 gedung di ibukota. Kisah detail tentang bagaimana keduanya mempersiapkan ‘proyek besar’ amat menegangkan tentu saja. Dimulai dari latihan lari pagi selama beberapa bulan sebelumnya untuk menjaga stamina, bagaimana merencanakan secara rapi aksi tersebut, bagaimana menaiki gondola pembersih kaca gedung tersebut dan bagaimana menjinakkan alat pendeteksi pengamanan benar-benar membuat setiap pembaca ‘deg-deg plas’ mengikutinya😀
Sebuah lembaran baru hidup Ray (nama baru yang kemudian ia sematkan untuk dirinya sendiri) dimulai ketika ia memutuskan untuk pulang kampung setelah bertahun-tahun merantau ke ibukota. Saat itulah masa pembangunan diri buatnya. Ia memutuskan menjadi kuli bangunan di sebuah proyek pembangunan gedung bertingkat. Kecerdasan dan mental yang ulet membuat kinerjanya amat bagus sehingga Ray naik posisi dengan cepat. Dan pengalaman hidup serta sifatnya yang bersahabat menjadikan ia didukung penuh oleh para pekerja di bawahnya. Dari sekian perjalanan panjang yang dilalui seorang Ray, mungkin babak inilah masa termanis dalam hidupnya. Pertemuan tak disengaja di ruang makan kereta yang membawanya ke kota itu memang telah membuat hari yang berbeda. Namun ketika kemudian gadis itu tak menggubrisnya, ia memilih untuk mencoba melupakan. Namun begitulah takdir sebuah cinta diatur oleh pemilik hidup. Gadis itu kembali muncul di dekat lokasi proyek tempat Ray bekerja. Ray yang masih setia dengan kebiasaan lamanya memandang rembulan, kembali melakukan hal yang sama. Kini lebih tinggi dari tower air, karena dari ketinggian lantai 18 bangunan yang hampir rampung.
Dari teropong bintang yang dimilikinya ia menangkap gadis yang ditemuinya di kereta itu masuk sebuah rumah sakit. Kisah cinta milik siapa pun juga pasti selalu menarik untuk disimak. Lengkap dengan segala perjuangan yang mewarnainya. Terlebih untuk seorang penulis Tere Liye yang mampu menyulap segalanya menjadi jauh lebih indah, lebih mengesankan, memilukan, membahagiakan dan segala warna-warni cinta yang mampu tercipta dalam ruang imaji manusia. Maka untuk babak ini, membacanya langsung buku ini pastinya lebih pas dan lengkap terasa😀 Singkat cerita, Ray akhirnya menikahi gadis cantik itu yang selanjutnya ia panggil sebagai “Si Gigi Kelinci”.
Pasangan yang sangat berbahagia. Seorang suami pekerja keras dan seorang istri yang begitu setia dan ikhlas mendukung dengan sepenuh hati adalah kombinasi paling indah tentu saja. Namun, lagi-lagi yang abadi dalam hidup adalah perubahan. Dan bahagia sekian tahun kebersamaan dengan si gigi kelinci itu pun akhirnya terenggut oleh takdir. Setelah dua kali kehilangan calon anak mereka dalam kandungan, Ray harus rela melepas kepergian Si Gigi Kelinci untuk selama-lamanya. Kepergian yang terlalu cepat pastinya untuk orang yang ditinggalkannya. Namun sepotong kalimat luar biasa yang diucapkan istrinya ketika menjelang maut, bukanlah sebuah pesan yang memberatkan Ray. Ia justru berkata : “Apakah aku cantik? Aku selalu ingin terlihat cantik di depanmu. Apakah kamu ikhlas denganku sebagai istrimu?” Dan sosok Si Gigi Kelinci inilah yang ternyata juga menginspirasi banyak pembacanya.
Ya, Tere Liye berhasil menyematkan sebuah pesan, yaitu cara sederhana untuk meraih surga melalui sosok sang istri yang pastinya akan lebih tertangkap ketika kita menyimak detail ceritanya. Kekecewaan demi kekecewaan hidup sungguh terasa amat senang menghampiri hidup Ray. Kembali, Ray memilih melarikan diri, namun kali ini di jalan yang berbeda. Ia menenggelamkan diri dalam kesibukan. Ia mulai memberanikan diri membangun bisnis sendiri. Di sini pembaca baru diingatkan kembali pada seribu karat berlian curian yang akhirnya mengantarkan Plee, kenalan yang mengajaknya bekerja sama melakukan proyek besar itu. Berlian yang disimpan di tangki air dengan kedalaman 3 meter di dekat rumah singgah itu akhirnya dijadikan modal untuk memulai bisnis property. Dari seorang anak panti, preman terminal, dan kuli bangunan, kini Ray menjadi konglomerat yang memiliki kerajaan bisnisnya sendiri. Ray kini telah menggenggam kekayaan yang tak terhingga. Namun hidupnya tetap sepi dan hampa terasa. Cinta yang sempat hadir dalam kehidupannya pun terenggut sudah oleh takdir. Ray, laki-laki berkekuatan fisik lebih dari rata-rata di tengah gemilang kerajaan bisnisnya ternyata semakin menyusut kesehatannya. Berbagai penyakit menyerang dan tubuhnya kini digerogoti penyakit. Ia kini menjadi pasien. Memang kondisinya berbeda. Jika dulu ia seorang yang papa, kini ia adalah seorang pasien yang amat dihormati. Seorang anak buah yang amat setia bernama Jo pun terus mendampini.
Namun sakit dan kepedihan hidup yang beruntun serta rasa hampa yang membangkitkan nelangsa itu menjadikan ia marah pada takdir.
Kenapa ia harus hidup di panti asuhan sial itu?
Apakah hidup adil?
Kenapa langit tega mengambil istri tercintanya?
Apakah kaya adalah segalanya?
Kenapa ia harus sakit keras yang berkepanjangan?
Lima pertanyaan besar dalam hidup itu seolah mengetuk-ngetuk kepalanya sepanjang hidup. Dan perjalanan metafisik itulah yang menjawab satu demi satu pertanyaan itu. Jawaban yang diberikan dengan mengungkapkan segala fakta dari sisi yang selama ini Ray tidak pernah tahu. Peristiwa demi peristiwa yang oleh penulisnya diberikan sebuah benang merah bahwa tak ada yang dapat merubah takdir kecuali satu ; kebaikan. Juga bahwa setiap perbuatan dan jalan hidup manusia akan saling berkaitan dan menjadi penyebab takdir manusia lainnya.
Di novel ini, saya membaca bagaimana Tere Liye berusaha menuangkan segala pemikiran dan pemahamannya tentang hidup dan berkehidupan. Membangkitkan kesadaran pada pembaca bahwa banyak sisi hidup yang tidak ketahui dan ternyata tidak seperti yang kita pikirkan. Perjalanan dan kilas balik yang dialami Ray ibarat kepingan puzzle yang pada akhirnya ia temukan sehingga terbentuklah gambaran hidup yang utuh. Ini adalah kisah sangat menarik untuk menjelaskan sebuah kalimat yang terdengar klise lebih karena frekuensi yang kita dengar ; bahwa sebenarnya tak ada sekeping perjalanan pun yang terjadi tanpa rencana Tuhan. Ya, apa yang kita sebut sebagai kepahitan hidup, ternyata hanya persepsi kita semata. Andai kita selalu berbaik sangka pada takdir, seburuk apa pun yang dihadapi, maka sesuatu menjadi sederhana saja. Hidup tidak rumit. Tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama seperti
Ray di akhir hidupnya. Kesempatan untuk kembali, kesempatan untuk menengok perjalanan dan dibukakan kenyataan / peristiwa yang tak diketahuinya. Kedatangan sesosok Nabi Khaidir ini pun oleh penulis diibaratkan sebagai sebuah doa yang dikabulkanNya. Doa seorang ibu sebelum mati terbakar yang melemparkan anak bayinya ke tangan laki-laki yang menolongnya dari kebakaran. Bukankah doa seorang ibu mampu menjebol pintu langitNya? Bukankah doa orang yang dalam penderitaan/kesusahan/aniaya amat dekat untuk dikabulkanNya?

Maka di sinilah Ray mendapatkan kesempatan yang melanggar aturan yang berlaku. Bahwa seseorang hanya bisa kembali ke sebuah tempat yang pernah ia singgahi. Namun langit memberikan anugerah yang berbeda. Ray dalam perjalanan metafisikanya itu mampu melihat ayah bundanya ketika ia masih balita, mampu melihat kejadian pembakaran yang menewaskan keduanya. Dan seterusnya. Sebagai manusia, kita ibarat pemain dalam sebuah cerita. Kita hanya tahu bagian cerita yang kita mainkan saja. Bagian demi bagian itulah yang akan merangkai menjadi sebuah cerita yang utuh. Maka peran apa pun yang kita terima hari ini, berbahagialah, bersabarlah, berbaik sangkalah! Karena sesungguhNya, Tuhanmu dan Tuhanku Maha Mengetahui dan skenario-Nya tak pernah keliru.

bisa download pdf novelnya di http://cerita-silat.mywapblog.com/files/rembulan-tenggelam-di-waj.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s