Beasiswa: Keperluan atau Gaya-Gayaan?

Posted: Juli 22, 2013 in Uncategorized

Judul di atas mungkin sangat sangat berkorelasi denganku selama setahun ini..

Inget setahun lalu betapa gencarnya saya mencari beasiswa. Cita-citaku ingin menjadi dosen mengharuskanku untuk melanjutkan studi S2. Dan karena jurusan PGSD yang saya ambil ketika S1 hanya memiliki program magister di Pulau Jawa maka saya berniat untuk mengambil studi ke Bandung tepatnya di UPI. Sudah sejak SMA saya ingin ke Bandung. Sehingga dalam otak saya hanya Bandung Bandung dan Bandung saja.

Karena awamnya informasi dan bingungnya saya untuk menanyakan info ini kepada siapa. Akhirnya dengan Basmallah saya mendaftarkan diri ke UPI dan mengisi form pendaftaran beasiswa dikti. Namun ada perbedaan jurusan yang saya isi di dikti dan UPI. Dalam borang dikti saya isi pendidikan matematika padahal di UPI saya mengambil jurusan Pendidikan Dasar. Sekali lagi ini karena saya minim info. Dan teman saya yang mengambil di PAUD UNJ tidak memberikan info itu kepada saya padahal mereka tahu kesulitan saya. Yah sudahlah, bukan rejeki saya juga dan saya memang tidak akan pernah mau kuliah dan tinggal di Jakarta.

Dulu antara dua pilihan, apakah mau ke UNY ataukah di UPI. Saya lebih condong ke UPI.

Saya sudah pasrah tidak akan mendapatkan beasiswa itu karena adanya perbedaan jurusan dalam pengisian berkas dikti dan UPI. Namun, teman saya menelpon bahwasanya saya dan beberapa teman-teman di kelas UPI lulus beasiswa. Sontak saya kaget dan bersyukur. Namun kegembiraan itu hanya beberapasa saat saja. Selanjutnya beasiswa itu digagalkan. Saya mendengar rumor dari kakak tingkat yang ikut membantu kami mengurusi masalah beasiswa ini bahwa ada indikasi niat buruk dari seseorang yang ingin menggagalkan kami mendapatkana beasiswa karena perbedaan jurusan. Padaha tahun 2011 sebelumnya kakak tingkat kami banyak yang mendapatkan beasiswa walaupun beda jurusan pendaftaran di dikti dan UPI. Tapi yah bukan rejeki Allah mungkin lewat beasiswa itu. Tapi ada rejeki dari pintu lain..😀

Saya, teh Een, dan Suci merupakan salah tiga dari penerima beasiswa tertolak itu. Kami berusaha meyakinkan diri bahwa ada hikmahnya semua dibalik kejadian ini. Walau mereka (saya biasa saja, hhee..) mengalami masa-masa kelesuan dalam belajar tatkala itu tapi kami berusaha saling menghibur diri. Ada nasihat untuk kami: Emang kenapa kalau mendapatkan beasiswa? Apakah dengan bilang ke semua orang bahwa kita dapat beasiswa maka kita bisa berbangga diri bahwa kita dapat beasiswa? Bukankah itu termasuk sombong dan membanggakan diri sendiri?

Teh een yang mendapatkan nasihat ini langsung menyampaikannya kepada saya. Hhhe.. iya sih, emang kenapa ya kalau dapat beasiswa? Kalau ga dapat emang ada masalah? Toh udah dibilangin sama orang tua, walau ga dapet beasiswa juga harus tetep lanjut kuliahnya. Rejeki kan bisa dateng dari mana saja…

Dan sekarang sudah setahun saya kuliah. Daftar kuliah dulu Juli 2012, dan sekarang sudah Juli 2013. Toh masih saja bisa kuliah, beli buku, makan, bayar kost. Memang orang tua kami tidak kaya bahkan teman saya suci pun bapaknya meninggal ketika kami kuliah pertengahan semester 1 kemarin.. Dan inilah mungkin yang membuat dia merasa termotivasi mendapatkan beasiswa apalagi adiknya pun kuliah di semarang..

Kata suci, kalau kami mengambil ke Malang mungkin bisa dapat beasiswa dikti. Tapi yah sudahlah, tidak boleh berandai-andai.. Semua sudah ada sebab-akibatnya (kata tere liye di novelnya). Saya sedang menunggu kenapa Allah Menakdirkan saya harus kuliah di Bandung. Barangkali nanti ada yang menawarkan saya pekerjaan di sini, mungkin di sini saya lebih nyaman (kan enak juga kuliah di deket lingkungan pesantren), ataukah ada hal-hal lain yang bersifat ghaib (bukan horor) yang belum saya ketahui…

 

Jadi balik lagi ke Hadits Arbain yang pertama, semua amal tergantung niatnya.

Sangat terasa bahwa Allah hendak menyelamatkan kami dari sikap sombong dengan dikatakan orang “tuh anak dapat beasiswa di UPI Bandung”. Saya merasa beasiswa kali ini bukanlah kebutuhan saya. Saya merasa orang tua saya masih mampu menguliahkan saya karena didukung oleh rejeki Allah berupa tambahan uang sertifikasi dari kedua orang tua saya yang mendapatkannya secara full.

Lain cerita ketika S1 tempo dulu..

Dulu ya di tahun 2007, saya merasa tak bisa lagi kuliah. Keluarga mengalami krisis ekonomi yang sangat dahsyat. Untung saja masih bisa beli beras.

Kuliah di universitas swasta selama setahun (walau biayanya tidak terlalu mahal) tetapi cukup membuat beban morilku cukup berat. Selain jauh dari rumah (perhitungan ongkos pun besar) juga karena lulusan dari universitas swasta agak kurang “menjual”. terpikir untuk ikut SPMB lagi di tahun 2007 tapi uang pangkalnya mahal pula..

Dan Alhamdulillah, doa-doaku yang meminta kepada Allah bahwa aku masih ingin kuliah dikabulkan. Sesudah gelap terbitlah cahaya, dibalik kesulitan maka tunggulah jalan keluar kemudahan.. Saya dapat info beasiswa. Dan saya lulus😀

Saya kuliah di PGSD UnSri, di Universitas negeri, bukan swasta lagi.. Kalau mau diceritakan yah panjang lagi ceritanya yah.. Kuliah S1 dengan beasiswa, diasramakan, biaya ditanggung, dikasih makan, dikasih uang saku.. Kalau ditotal entah berapa puluh juta yang saya dapatkan dari beasiswa ini..

jadi mungkin sayang juga ya pas kuliah S2 nya ga dapet beasiswa lagi.. Tapi mungkin jatah dari Allah cuma segini saja, kan masih banyak orang lain yang mesti Allah Kasih beasiswa lagi😀 Bagi-bagi rejeki,, hhee…

Waduh jadi ga nyambung gini ya…

Tapi intinya, jika ada yang membaca tulisan ini yang sedang mencari beasiswa mungkin dipikirkan dulu niat mencari beasiswa itu apa.

Mungkin memang niat awal mencari beasiswa itu semata untuk mendapatkan pendidikan dengan biaya ringan bahkan gratis. Tapi niat ini perlu dipelihara sampai kita lulus. Sehingga jangan ada terbersit pikiran berbangga hati tatkala orang memuji “wah dia kuliah S2 bebasiswa lo..” Kalau kata Aa Gym sih omongan orang itu kayak ember jatuh. Kedombreng kedombreng.. Tuh sama saja. Cuma sesaat.

Dan juga saya sempet heran kenapa ya kalau orang kuliah S2 tapi ga pake beasiswa alias biaya mandiri kok mereka yang kecewa. Lha emang kenapa kalau orang S2 tanpa beasiswa ga bagus gitu? Biasa ajalah.. Berarti rejeki untuk dia kuliah S2 itu bukan dari beasiswa. Mungkin lewat orang tuanya atau mungkin dia bekerja membiayai kuliahnya sendiri dengan bekerja sampingan..

ah semua masalah di dunia ini ambil saja ibrohnya.. toh tak ada yang sia-sia dari takdir Allah.

Jadi sekali lagi ya, jangan jadikan omongan orang baik itu cacian ataupun pujian menjadikan niat di hati kita berbelok arah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s