Tanah Gersang-Salim A. Fillah

Posted: Juni 26, 2013 in Uncategorized

Dalam hubungan-hubungan yang
kita jalin di kehidupan, setiap orang
adalah guru bagi kita.
Ya, setiap orang. Siapapun mereka.
Yang baik, juga yang jahat.
Betapapun yang mereka berikan
pada kita selama ini hanyalah luka,
rasa sakit, kepedihan, dan aniaya,
mereka tetaplah guru-guru kita.
Bukan karena mereka orang-orang
yang bijaksana. Melainkan karena
kitalah yang sedang belajar untuk
menjadi bijaksana.

Mereka mungkin tanah gersang.
Dan kitalah murid yang belajar
untuk menjadi bijaksana. Kita
belajar untuk menjadi embun pada
paginya, awan teduh bagi siangnya,
dan rembulan yang menghias
malamnya.
Tetapi barangkali, kita justru adalah
tanah yang paling gersang. Lebih
gersang dari sawah yang kerontang.
Lebih cengkar dari lahan kering di
kemarau yang panjang. Lebih
tandus dari padang rumput yang
terbakar dan hangus. Maka bagi kita
sang tanah gersang, selalu ada
kesempatan menjadi murid yang
bijaksana.
Seperti matahari yang tak hendak
dekat-dekat bumi karena khawatir
nyalanya bisa memusnahkan
kehidupan. Seperti gunung api yang
lahar panasnya kelak menjelma
lahan subur, sejuk menghijau
berwujud hutan.
Dan seperti batu cadas yang
memberi kesempatan lumut untuk
tumbuh di permukaannya. Dia
izinkan sang lumut menghancurkan
tubuhnya, melembutkan
kekerasannya.
Demi terciptanya butir-butir tanah.
Demi tersedianya unsur hara agar
pepohonan berbuah.
-Salim A. Fillah-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s