Pos Kemampuan

Posted: Juni 26, 2013 in Uncategorized

Semua orang mempunyai pos masing-masing.

Ini cerita dari seorang teman saya, vina. Ia mengikuti audisi presenter yang diadakan SCTV. Dia menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang berkompetisi untuk menjadi presenter. Dan yang menang ialah anak ilmu komunikasi. Vina terssadar bahwa semua orang memiliki pos kemampuan masing-masing. Kami yang berada di jalur pendidikan ya posnya di bidang pendidikan. Anak komunikasi itu menang karena ada ilmunya. Mereka pasti sudah belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik, berinteraksi dengan baik. Mereka tahu teorinya dan mereka melaksanakan teori itu dengan baik. Kami sebagai mahasiswa pendidikan tahu bagaimana cara mengajar dengan baik karena kami bertahun-tahun mempelajari teorinya. Apalagi kami dari pendidikan dasar tahu teori perkembangan anak, bagaimana mengajarkan siswa SD materi. Tinggal implementasinya di lapangan saja.

Pernah ada cerita dari Teh Een, beliau dekat sekali dengan keponakannya. Bahkan keponakannya sering meminta ibunya (tetehnya teh een) untuk menelpon teh een jika ia tidak mau makan. Saking dekatnya dengan teh een. Itu disebabkan karena teh een sudah tahu ilmu untuk dekat dengan anak-anak. Kami di sini belajar perkembangan peserta didik. Mulai dari sebelum lahir sampai manusia dewasa pun kami pelajari.

Saya pun terkadang miris melihat orang tua yang terlalu terobsesi dengan kemampuan anaknya. Pernah saya tahu ada seorang anak yang les privat. Saya kira kegiatannya di luar sekolah cuma privat. Ternyata tidak. Di sekolah ia ada les tambahan, kemudian ikut bimbel juga di sebuah lembaga, lalu didatangkan juga guru privat ke rumah. Semua demia agar anaknya bisa menjawab soal-soal di sekolah dan mendapatkan nilai akademik yang baik.

Persoalannya, hati kecil saya kasihan melihat anak tersebut. Ketika ia lelah, ingin rasanya saya bilang, “ya udah kita refreshing dulu. Melihat-lihat keluar rumah”. Yah tapi itu tidak terucap. Karena saya juga harus sami’na waatho’na dengan tugas saya mengajar. Berulang kali anak tersebut mengeluh malas belajar, bosan katanya. Oh kenapa saya tidak bisa mengalahkan keadaan hati saya. Saya merasa anak tersebut pintar dan hanya perlu sedikit arahan saja ketika menjawab soal.

Dan juga, setelah saya kuliah di Bandung. Saya merasakan keanehan dalam diri saya untuk mengajar anak-anak SD di bimbel. Saya kasihan dengan mereka yang terkungkung dalam kelas dan mesti menjawab soal-soal abstrak. Saya berada di pendidikan non formal, dan saya tidak bisa berbuat leluasa seperti yang bisa saya lakukan di sekolah formal (SD).

Saya ingin mnengajar di sekolah. Saya ingin mengajak siswa-siswa mengkonstruktivistikkan pikirannya agar bisa memahami soal-soal dengan mudah. Pernah suatu waktu saya mengajar kelas 4 dan 5, saya ajak siswa saya belajar di teras dan musholla. Mereka amat senang. Saya tanyakan apakah mereka terganggu dengan bisingnya jalan. Mereka jawab tidak, malah suka karena bisa melihat keadaan luar. Saya tahu, kondisi fisik dan psikis mereka yang seharian terkungkung di ruangan di sekolah kemudian ke tempat kursus dan berada di ruangan berpetak dengan papan tulis. Walaupun ada tivi LCD itu tidak memberikan dampak apa-apa. Toh saya juga malas membuat power point, karena sejatinya bukan itu media terbaik untuk pembelajaran matematika SD. Saya sangat senang ketika  membaca buku-buku pembelajaran matematika karangan luar negeri. Berbeda sekali dengan buku teks matematika di Indonesia. Mereka benar-benar menerapkan teori Brunner: enaktif, ikonik, dan simbolik. Inginnya saya nanti seperti itu ketika mengajar, tapi mungkin bukan di bimbel. Di sini mementingkan kognitif semata. Inilah yang menjadi gejolak dalam hati saya.

Dan ini akan berbeda konteknya jika mengajar anak smp dan sma karena umur mereka memang sudah memasuki tahap abstrak kalau merujuk ke teori piaget.

Mungkin ini keluar dari jalur konteks pembicaraan awal mengenai pos kemampuan manusia. Tapi saya ingin menekankan bahwa mungkin orang-orang di luar pendidikan bisa mengajar dan bahkan mendidik siswa tetapi terkadang ada “aura-aura” yang berbeda dari mereka. Entahlah tak bisa kujelaskan.

Oh iya, satu lagi cerita. Ada teman saya yang juga mengajar bimbel “pergi” di daerahnya. Ia mendapat kelas SD dan semua guru di sana tahu bahwa siswa-siswa SD di sana nakala dan suka ribut. Tapi ketika teman saya mengajar, malah mereka menyukai teman saya dan tidak ribut di kelas. Dan itu membuat teman-temannya heran. Bahkan mereka ikut sit in (magang) di kelas ketika teman saya mengajar, ingin mempelajari bagaimana teman saya bisa menaklukkan kelas itu. Padahal hanya mmenggunakan permainan dan membuat siswa senang itu sudah cukup. Sejatinya, Allah memberikan kemampuan seseorang sesuai bidangnya. Bukan tidak mungkin bahwa ada orang-orang yang mempunyai beberapa pos kemampuan, tapi pastilah ada satu pos yang paling dominan.

Nanti ya kalau punya anak kelak tidak mau saya serahkan pendidikan ke bimbel. Mungkin ketika mereka kelas 8 atau 9 saja baru kuserahkan ke bimbel karena sepertinya ada pelajaran yang tidak kuasai sepenuhnya.

wallahu ‘alam bishowab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s