Pernah ada masa-masa – by Salim A. Fillah

Posted: Juni 26, 2013 in Uncategorized

pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling
menghangatkan rasanya
hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

pernah ada waktu-waktu dalam
ukhuwah ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit,
menyuburkan bumi,
dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita
saling meniadai

di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
bahkan saling nasehatpun tak lain
bagai dua lilin
saling mencahayai, tapi masing-
masing habis dimakan api

kubaca cendikiawan dinasti ming,
feng meng long
menuliskan sebaitnya dalam ‘yushi
mingyan’;
“bungapun layu jika berlebih diberi rawatan
willow tumbuh subur meski
diabaikan”
maka kitapun menjaga jarak dan
mengikuti nasihat ‘ali
“berkunjunglah hanya sekali-sekali,
dengan itu cinta bersemi”
padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan
seperti katamu, kau sedang perlu
bimbingan
maka seolah aku telah membiarkan orang bisu yang merasakan kepahitan
menderita sendiri, getir dalam sunyi
-ataukah memang sejak dulu
begitulah aku?-
dan sekarang aku merasa bersalah lagi
seolah hadirku kini cuma untuk
menegur
hanya mengajukan keberatan,
bahkan menyalahkan
bukan lagi penguatan, bukan lagi
uluran tangan
-kurasa uluran tanganku yang
dulupun membuat kita
hanya berputar-putar di kubangan yang kau gali itu-
kini aku hanya menangis rindu
membaca kisah ini;
satu hari abu bakr, lelaki tinggi kurus itu menjinjing kainnya
terlunjak jalannya, tertampak
lututnya, gemetar tubuhnya
“sahabat kalian ini”, kata Sang Nabi pada majelisnya, “sedang kesal maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya..”
“antara aku dan putera al
khaththab”, lirih abu bakr
dia genggam tangan nabi, dia tatap mata beliau dalam-dalam
“ada kesalahfahaman. lalu dia
marah dan menutup pintu rumah.
kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya,
tapi dia tak membukanya, tak
menjawabku, dan tak juga
memaafkan.”
tepat ketika abu bakr selesai
berkisah, ‘umar datang dengan
resah
“sungguh aku diutus pada kalian”,
Sang Nabi bersabda
“lalu kalian berkata ‘engkau dusta!’,
wajah beliau memerah
“hanya abu bakr seorang yang
langsung mengiya, ‘engkau benar!’
lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya.
masihkah kalian tidak takut pada
Allah untuk menyakiti sahabatku?”
‘umar berlinang, beristighfar dan
berjalan simpuh mendekat
tapi tangis abu bakr lebih keras, air matanya bagai kaca jendela lepas
katanya, “tidak ya Rasulallah.. tidak..
ini bukan salahnya..
demi Allah akulah memang yang
keterlaluan. .”
lalu diapun memeluk ‘umar,
menenangkan bahu yang
terguncang
ya Allah jika kelak mereka
berpelukan lagi di sisiMu
mohon sisakan bagian
rengkuhannya untuk kami
pada pundak, pada lengan, pada
nafas-nafas ini..

salim a. fillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s