Anak Putus Sekolah

Posted: Juni 19, 2013 in Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.      LATAR BELAKANG

Sekarang pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi semua masyarakat di Indonesia. Undang-Undang Sisdiknas Tahun 2003 telah menggariskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan yang diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Semua warga masyarakat berhak mendapatkan pelayanan pemerolehan pendidikan yang bermutu. Setiap warga negara berusia tujuh sampai lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar dan tidak dipungut biaya. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan memiliki dasar hukum yang kuat dari awal berdirinya negara ini. Dalam UUD 1945 Pasal 31 diamanatkan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan, dan pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan nasional. Undang-Undang No. 4 Tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah juga mengamanatkan bahwa “Tiap-tiap Warga Negara Republik Indonesia mempunyai hak yang sama untuk diterima menjadi murid suatu sekolah, jika memenuhi syarat yang ditetapkan utnuk pendidikan dan pengajaran pada sekolah. Selanjutnya di dalam UU No. 1989 Pasal 14 (2) dimanatkan pula bahwa wajib belajar enam tahun ditetapkan bagi anak umur 7-12 tahun.

Dari uraian di atas, nampak bahwa Wajib Belajar Sembilan Tahun wajib dilaksanakan oleh semua masyarakat dari usia 6-15 tahun. Hal ini tidak terlepas dari beberapa amanat dari aturan hukum di Indonesia. Indonesia menganut sistem Education For All, bukan Compulsory Education. Hal ini dapat terlihat dari tidak nampaknya indikator Compulsory Education dalam implementasi wajar dikdas. Beberapa indikator yang dapat mencirikan bahwa suatu sistem pendidikan bersifat Compulsory Education ialah, (1) adanya unsur paksaan agar peserta didik bersekolah; (2) diatur dengan undang-undang wajib belajar; (3) tolak ukur keberhasilan wajib belajar adalah tidak adanya orang terkena sanksi karena telah mendorong anaknya bersekolah; dan (4) ada sanksi bagi orang tua yang membiarkan anaknya tidak bersekolah (Wasliman, 2007:60-61).

 Jika kita cermati, Indonesia tidaklah menganut Compulsory Education karena masih banyak anak-anak yang berkeliaran di jalan ketika jam masuk sekolah. Kemudian tidak adanya sanksi kepada orang tua yang membiarkan anaknya bersekolah. Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat Indonesia telah menganggarkan APBN sebanyak 20% untuk pendidikan. Wajib belajar yang sudah ada kekuatan hukum dalam pelaksanaannya masih belum optimal. Banyak anak-anak yang mengalami putus sekolah dan tidak kembali ke sekolah sehingga mereka melewati kesempatan untuk mengenyam pendidikan dasar.

Keinginan pemerintah untuk membebaskan anak-anak usia sekolah dari ancaman buta huruf dan putus sekolah kemungkinan belum bisa terwujud. Walaupun sudah dicanangkan program BOS dengan menggratiskan biaya sekolah, tapi hal ini belum sepenuhnya menjamin ketuntasan masalah putus sekolah bagi anak. Ada beberapa faktor yang bersifat struktural sehingga angka putus sekolah di Indonesia tetap tinggi. Inilah dampak dari tidak diterapkannya Compulsory Education secara optimal.

Jika kita ingin mencermati pengimplementasian program BOS di satuan pemerintah daerah, maka kita sebaiknya mengambil salah satu contoh di suatu daerah. Daerah yang penulis ambil ialah Kabupaten Ogan Ilir. Kabupaten Ogan ilir merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan dengan jumlah penduduk 459.016 jiwa (http://www.kemendagri.go.id/pages/profildaerah/kabupaten/id/16/name/sumatera-selatan/detail/1610/ogan-ilir diakses tanggal 07 Juni 2013). Di sana telah diberlakukan program wajib belajar Sembilan tahun dan telah menggratiskan biaya sekolah bahkan sampai ke tingkat pendidikan menengah. Namun, hal itu bukan berarti angka putus sekolah di Ogan Ilir berada di angka nol. Masih ada siswa yang tidak melanjutkan sekolah dengan berbagai faktor alasannya. Walau demikian, tingkat kenaikan angka partisipasi sekolah siswa di jenjang pendidikan dasar telah mengalami peningkatan seiring adanya program BOS dari peemerintah. Namun, masih perlu diselidiki mengapa angka putus sekolah di Ogan Ilir masih sulit untuk dituntaskan. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengangkat problematika pendidikan dasar mengenai anak-anak yang putus sekolah atau hampir terancam putus sekolah di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

    

  1. B.       RUMUSAN MASALAH

Rumusan maslaah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apakah faktor-faktor yang menyebabkan anak mengalami putus sekolah di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan?
  2. Bagaimana data empiris anak putus sekolah di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan?
  3. Bagaimana strategi penanggulangan yang dilakukan pemerintah daerah untuk mengatasi anak yang terancam maupun sudah mengalami putus sekolah di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan?

 

  1. C.      TUJUAN

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui:

  1. Faktor-faktor yang menyebabkan anak-anak di Ogan Ilir mengalami putus sekolah
  2. Data empiris anak putus sekolah di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan
  3. Strategi penanggulangan untuk mengatasi anak yang terancam maupun sudah mengalami putus sekolah di Ogan Ilir

 

  1. D.      SISTEMATIKA MAKALAH

Makalah ini tersusun atas kata pengantar, daftar isi serta bagian-bagian bab yang di dalamnya meliputi :

  1. BAB I PENDAHULUAN meliputi latar belakang, rumusan masalah,  tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
  2. BAB II PEMBAHASAN meliputi perihal putus sekolah, profil Kabupaten Ogan Ilir, penyebab masih tingginya masalah anak putus sekolah di Kabupaten Ogan Ilir, serta pembahasan bagaimana cara menanggulanginya.
  3. BAB III PENUTUP meliputi kesimpulan dan saran, serta diakhiri dengan daftar pustaka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.      PUTUS SEKOLAH

Anak putus sekolah adalah keadaan di mana anak mengalami keterlantaran karena sikap dan perlakuan orang tua yang tidak memberikan perhatian yang layak terhadap proses tumbuh kembang anak tanpa memperhatikan hak-hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Putus sekolah dipandang sebagai masalah pendidikan dan sosial yang amat serius selama beberapa dekade terakhir ini. Dengan meninggalkan sekolah sebelum lulus, banyak individu putus sekolah yang tidak mendapatkan pendidikan yang cukup sehingga kesejahteraan ekonomi dan sosialnya menjadi terbatas sepanjang hidupnya sebagai orang dewasa kelak. Menurut Departemen Pendidikan di Amerika Serikat (MC Millen Kaufman, dan Whitener, 1996) mendefinisikan bahwa anak putus sekolah adalah murid yang tidak dapat menyelesaikan program belajarnya sebelum waktunya selesai atau murid yang tidak tamat menyelesaikan program belajarnya (http://makalahcentre.blogspot.com/2011/01/anak-putus-sekolah.html diakses tanggal 08 Juni 2013).

 

  1. B.       PENYEBAB PUTUS SEKOLAH

Seorang anak mengalami putus sekolah bisa disebabkan oleh beberapa hal yang berasal dari dalam diri mereka (faktor internal) maupun dari pengaruh lingkungan (faktor eksternal).

a)   Faktor Internal

  • Kondisi Medis-Neurologis dalam diri anak

Dalam ilmu neuropsikologi diungkapkan hubungan antara sistem syaraf dan fungsi kognitif (Mardiati, 2010: 1). Ilmu medis sekarang telah melakukan pendekatan neuropsikologi kognitif yakni pembelajaran pemahaman mengenai hubungan antara mental dan otak saat memperhatikan pasien trauma pada otak atau penyakit-penyakit neurologik. Prinsip dasar pengenalan fungsi masing-masing bagian otak akan memandu kita untuk mengetahui tempat gangguan ketika seseorang mengalami hambatan fungsi khusus paska trauma otak. Pendekatan mutakhir neuropsikologi kognitif, berusaha melakukan pencarian pemahaman fungsi normal mental dan otak dengan cara mempelajari gangguan jiwa atau penyakit mental. Untuk itu perlu dipahami terlebih dahulu gangguan pada otak yang dapat menyebabkan terhambatnya proses penerimaan informasi pada anak.

Jika ditinjau dari kehebatan otak anak normal pada umumnya sudah banyak penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan anak pada usia 0-4 tahun akan ter-eksplore 50 persen dari total kecerdasan yang akan dicapainya kelak pada usia 18 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usia 4 tahun pertama adalah masa-masa paling menentukan dalam membangun kecerdasan anak dibandingkan masa-masa sesudahnya. Artinya, nilai pada usia tersebut anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal, maka potensi tumbuh kembang anak tidak akan teraktualisasikan secara optimal (Sutaryati dalam http://yogya.bkkbn.go.id/Lists/Artikel/DispForm.aspx?ID=159&ContentTypeId=0x01003DCABABC04B7084595DA364423DE7897 diakses tanggal 30 November 2012). Dengan demikian, peramuan materi pelajaran harus sedemikian menarik yang dapat menstimulus kerja otak anak serta keterampilan motoriknya juga.

 

  • Keadaan psikologis anak

Dari dalam diri anak putus sekolah disebabkan malas untuk pergi sekolah karena merasa minder, tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekolahnya, sering dicemoohkan karena tidak mampu membayar kewajiban  biaya sekolah dipengaruhi oleh berbagai faktor .Ketidakmampuan ekonomi keluarga dalam menopang biaya pendidikan yang berdampak terhadap masalah psikologi anak sehingga anak tidak bisa bersosialisasi dengan baik dalam pergaulan dengan teman sekolahnya

 

  • Kestabilan emosi anak

Seorang anak yang masih labil keadaan emosi serta minimnya pengetahuan dalam bagaimana memilih teman sehingga bisa terpengaruh ikut-ikutan diajak bermain seperti play stasion sampai akhirnya sering membolos dan tidak naik kelas, prestasi di sekolah menurun dan malu pergi kembali ke sekolah.

 

b)   Faktor Eksternal

  • Keluarga

Perhatian orang tua

Kurangnya perhatian orang tua cenderung  akan menimbulkan berbagai masalah. Makin besar anak perhatian orang tua makin  diperlukan, dengan cara dan variasi dan sesuai kemampuan. Kenakalan anak adalah salah satu penyebab dari  kurangnya perhatian orang tua.

 

Hubungan orang tua kurang harmonis

Hubungan keluarga tidak harmonis dapat berupa perceraian orang tua, hubungan antar keluarga tidak saling peduli, keadaan ini merupakan dasar anak mengalami permasalahan yang serius dan hambatan dalam pendidikannya sehingga mengakibatkan anak mengalami putus sekolah.

 

Latar belakang pendidikan ayah dan ibu

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa latar belakang pendidikan orang tua juga berpengaruh dalam pendidikan seorang anak. Orang tua yang berpendidikan tinggi tidak akan membiarkan anaknya mengalami putus sekolah. Mereka pasti menginginkan hal terbaik untuk anaknya. Namun, terkadang ada faktor lain yang mendukung anak untuk tetap putus sekolah walaupun orang tuanya berpendidikan. Semua itu seperti suatu siklus dalam masalah pendidikan anak.

 

Hubungan sosialpsikologis antara orang tua dan antara anak dengan orang tua

Seorang anak yang berada dalam situasi keluarga yang kurang harmonis dapat menjadi pemicu hilangnya motivasi anak untuk bersekolah. Jika motivasi anak sudah hilang maka untuk mengembalikannya akan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Hilangnya kehangatan dalam keluarga menjadikan anak merasa terabaikan dan merasa asing. Ditambah lagi jika keadaan pembelajaran di sekolah yang otoriter maka lengkaplah sudah kegalauan anak untuk mendapatkan kasih sayang dari orang dewasa.

 

Besarnya keluarga serta orangorang yang berperan dalam keluarga

Keadaan keluarga yang mempunyai anggota yang cukup banyak juga memicu potensi putus sekolah anak apalagi jika didukung dengan lemahnya ekonomi keluarga maka dalam satu keluarga tersebut akan ada anak yang terpaksa “mengalah” dalam mendapatkan pendidikan. Kasus keluarga dengan banyak anak dan ekonomi yang lemah, membuat anak tidak bisa melanjutkan sekolah karena alasan ekonomi dan berusaha mencari penghasilan tambahan untuk membantu orang tuanya dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga

 

 

 

  • Kesulitan ekonomi

Sejumlah studi telah menyebutkan bahwa kemiskinan merupakan faktor yang mendominasi terhambatnya siswa untuk mendapatkan pendidikan secara utuh. Hal ini dikarenakan orang tua siswa tidak mampu memberikan fasilitas lengkap kepada anaknya untuk bersekolah. Siswa dari keluarga miskin terpaksa membantu orang tuanya mencari nafkah untuk mencukupi biaya kehidupan mereka. Bahkan terjadang orang tuanyalah yang meminta mereka untuk berhenti sekolah agar bisa membantu secara penuh dalam mencari nafkah. Mereka pun kebanyakan menjadi buruh upahan atau menjadi pedangan asongan di jalanan. Anak pun merasa terbebani dengan masalah ekonomi ini sehingga mengganggu kegiatan belajar dan kesulitan mengikuti pelajaran.

 

  • Lingkungan Sekolah

Faktor utama siswa mengulang atau tidak naik kelas bermacam-macam. Namun demikian, faktor ekonomi pun mempengaruhi siswa dalam perkembangan kognitifnya di kelas. Mereka telah kehilangan kesempatan dalam mendapatkan waktu untuk belajar dan mengerjakan PR serta fasilitas belajar yang memadai di rumah karena kesibukan bekerja membantu orang tua. Selain itu juga hal ini akan mempengaruhi perkembangan sosial, mental serta spiritual anak (Pardoen dalam Suyanto, 2010:342).

 

Ketentuan dan pelaksanaan kenaikan kelas yang berbeda-beda antara sekolah satu dan yang lain

Salah satu faktor terjadinya drop out siswa di sekolah karena diterapkannya system tidak naik kelas, dan bukannya system maju berkelanjutan (continous progress) atau naik secara otomatis (authomatic promotion).

Pelaksanaan proses belajar-mengajar

Pelaksanaan proses belajar dan mengajar termasuk di sini dedikasi serta komitmen guru dalam mendidik dan mengajar siswa serta ketersediaan fasilitas pendidikan di masing-masing sekolah.

 

Kemampuan dan usaha belajar dari siswa itu sendiri

Motivasi siswa yang kurang dalam belajar menjadi salah satu faktor penyebab drop out. Kemalasan serta ketidakmauan untuk bersekolah juga dipengaruhi faktor bekerja dan lingkungan yang tidak kondusif dalam mendukung siswa untuk belajar.

 

c)      Segi Lingkungan Masyarakat

Psikososial-kultural

Istilah psikososial berarti tahap-tahap kehidupan seseorang dibentuk oleh pengaruh sosial melalui interaksi-interaksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologi. Salah satu tahapan perkembangan psikososial Erik Erikson yang dialami oleh anak usia sekolah dasar (6-12) tahun yakni tahapan psikososial yang keempat ialah tahap kerajinan dan rasa rendah diri (industry vs inferiority). Pada tahap ini anak mulai mengarahkan segala energi dalam dirinya untuk menguasai pengetahuan serta keterampilan intelektual tertentu. Dorongan untuk mengetahui dan berbuat sesuatu sangat besar tetapi adanya keterbatasan dalam pengetahuannya sehingga terkadang menjadi hambatan dan kegagalan dalam diri anak akan cenderung rendah diri.

Ditinjau secara kultur, anak usia dini dipersiapkan untuk mewarisi budaya-budaya yang baik dari pendidikan. Dengan demikian pembelajaran disesuaikan dengan kultur masyarakat sehingga anak didik akan berkembang sesuai dengan nilai-nilai norma yang berlaku. Dalam kultur masyarakat banyak dipengaruhi oleh persepsi atau pandangan, adat istiadat, dan kebiasaan.

Untuk kasus anak didik yang putus sekolah maka harus diteliti lebih jauh mengenai faktor penyebabnya. Anak didik yang bergaul dengan temannya yang putus sekolah akan berpengaruh kepada mereka.  Anak-anak yang dibesarkan di kota pola pikirnya berbeda dengan anak nyang tinggal di desa di mana anak kota lebih bersikap aktif dan dinamis sedangkan anak desa cenderung bersikap statis dan lamban. Keadaan geografis juga mempengaruhi di mana kondisi letak sekolah yang jaraknya berjauhan dapat memberikan stigma pesimis bagi siswa dan orang tua karena waktu dihabiskan dalam perjalanan menuju ke sekolah akibat akses transportasi dan jalan yang kurang memadai.

 

  1. C.      PROFIL KABUPATEN OGAN ILIR

 

 

 

 

Profil

Nama Resmi

:

Kabupaten Ogan Ilir

Ibukota

:

Indralaya

Provinsi 

:

Sumatera Selatan

Batas Wilayah

:

Utara: Kota Palembang;
Selatan: Kabupaten Ogan Komering Ilir;
Barat: kabupaten Muara Enim;
Timur: Kabupaten Ogan Komering Ilir

Luas Wilayah

:

2.666,09 Km²

Jumlah Penduduk

:

459.016 Jiwa 

Wilayah Administrasi

:

Kecamatan : 16, Kelurahan : 14, Desa : 224

Website

:

http://www.oganilirkab.go.id/

Sumber: Kemendagri 2013

Berdasarkan data dari sensus penduduk 2010 (BPS), Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Kabupaten Ogan Ilir adalah sebesar 1,62 persen pertahun. Pertumbuhan penduduk ini tergolong dalam batas wajar. Jika dilihat dari angka LPP perkecamatan, terdapat 4 kecamatan yang laju pertumbuhan penduduknya lebih dari 2 persen pertahun. Kecamatan Indralaya Utara memiliki angka LPP tertinggi, yaitu sebesar 5,83 persen pertahun, dan Kecamatan Rantau Panjang memiliki angka LPP terendah, yaitu sebesar -0,32 persen pertahun.

Tingginya laju pertumbuhan penduduk di Kecamatan Indralaya Utara dikarenakan Kecamatan Indralaya Utara dekat dengan Kecamatan Indralaya yang merupakan ibukota Kabupaten Ogan Ilir. Laju pertumbuhan penduduk di Kecamatan Indralaya Utara sejalan dengan tingginya tingkat pembangunan kompleks perumahan, daerah pemukiman mahasiswa/i (kos-kosan mahasiswa/i Universitas Sriwijaya), dan menjadi daerah tujuan transmigrasi yang tergolong sukses. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk di Kecamatan Rantau Panjang yang minus 0,32 persen pertahun diperkirankan karena banyak penduduk yang pindah (migrasi keluar) ke kecamatan yang menyediakan banyak pekerjaan.

 

GURU DAN SEKOLAH 2011

Status

Swasta

Negeri

Tingkat

SMP & MTs

SMA & Ma

TK

SD & Mi

SMP & MTs

SMA & Ma

Jumlah guru

931

769

212

3,280

1,304

604

Jumlah murid

6,126

5,342

2,191

47,606

14,259

6,431

Jumlah sekolah

49

30

49

274

67

22

 

GURU DAN SEKOLAH 2012

Status

Swasta

Negeri

Tingkat

TK

SD & Mi

SMP & MTs

SMA & Ma

TK

SD & Mi

SMP & MTs

SMA & Ma

Jumlah guru

216

322

920

760

216

3,286

1,350

604

Jumlah murid

2,130

4,059

6,391

5,561

1,838

47,239

14,604

6,431

Jumlah sekolah

53

25

49

35

43

276

67

22

Salah satu hal yang penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah tersedianya guru dalam jumlah yang cukup dan berkualitas. Trend guru SD di Ogan Ilir sempat mengalami penurunan yang drastis untuk tahun 2011 dan kembali merangkak naik pada tahun 2012. Sedangkan guru SMP dan SMA trend-nya fluktuatif. Tahun 2010 guru SD sebanyak 3.762 orang , kemudian menurun cukup drastis menjadi 3.608 orang guru di tahun 2011, serta jumlah yang sama untuk tahun 2012 . Adapun guru SLTP turun dari 2.289 tenaga pengajar pada tahun 2010, menjadi 2.235 pada tahun 2011, dan naik kembali pada 2012 menjadi 2.270 orang . Kemudian guru SMA dari 1.337 orang guru pada tahun 2010, naik menjadi 1.373 pada tahun 2011, dan mengalami penurunan pada 2012 menjadi 1.364 guru .

Pola perkembangan jumlah murid SD menunjukkan trend yang positif. Jumlah murid SD pada tahun 2010 berjumlah sebanyak 50.705 siswa, menjadi 51.188 siswa pada 2011, kemudian naik lagi menjadi 51.298 siswa untuk tahun 2012. Adapun murid SLTP berjumlah 20.447 siswa pada tahun 2010, kemudian mengalami penurunan menjadi 20.385 siswa, dan kembali naik cukup signifikan hingga menjadi 20.995 siswa tahun 2012. Sama halnya dengan murid SMP, murid SMA pun mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 murid SMA sejumlah 10.568 siswa, kemudian naik di tahun 2011 menjadi 11.773, dan naik lagi hingga menjadi 11.992 di tahun 2012.

Sedangkan rasio murid terhadap guru semakin kecil angka, menunjukkan semakin baik pencapaiannya. Rasio murid-guru SD pada tahun 2010 hingga 2012 tidak mengalami perubahan, yaitu sebesar 0,07. Adapun rasio murid-guru SLTP mengalami peningkatan dari 0,11 pada tahun 2010, menjadi 0,10 di tahun 2011 dan 2012. Sedangkan untuk tingkat SMA, rasio murid-guru sebesar 0,11 untuk tahun 2011 dan 2012, sedikit meningkat dibandingkan tahun 2010 yakni 0,12.

       Berdasarkan data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas, 2007) diketahui bahwa proporsi populasi dibawah garis kemiskinan Kabupaten OI sebesar 19,45% masih diatas Provinsi (16,8%) dan Nasional (16,66%) serta sangat jauh dengan target Pembangunan Milenium (Millennium Development GoalsMDGs) yaitu 7,5%. Masih cukup banyaknya penduduk miskin, menjadi salah satu faktor penyebab masih rendahnya angka partisipasi sekolah pendidikan dasar. Seperti ditunjukkan pada data Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda, 2006) OI yang dikutip Bappenas (2007), bahwa partisipasi sekolah dasar (SD) Kabupaten OI sebesar 90,44%. Meskipun angka ini sudah diatas Provinsi Sumatera Selatan (83,31%) tetapi masih dibawah Nasional (98%) dan dibawah MDGs (100%). Demikian juga untuk partisipasi sekolah tingkat sekolah menengah pertama (SMP), baru mencapai 71,2% masih dibawah Provinsi (83,58%) dan Nasional (71,81%) serta jauh dibawah MDGs (100%). Masih rendahnya angka partisipasi sekolah pendidikan dasar di Kabupaten OI merupakan salah satu masalah pembangunan dalam bidang pendidikan yang harus dihadapi pemerintah daerah Kabupaten OI (Cahyawati, 200:2)

 

 

 

 

  1. D.      STUDI KASUS ANAK PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN OGAN ILIR

 

  1. 1.      DATA STATISTIK SISWA PUTUS SEKOLAH

DATA JUMLAH SISWA PUTUS SEKOLAH PER JENJANG PENDIDIKAN

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN OGAN ILIR

PROVINSI SUMATERA SELATAN

         
         

NO

TAHUN

JUMLAH PESERTA DIDIK PUTUS SEKOLAH PER JENJANG

SD

SMP

SMA

( ORANG )

( ORANG )

( ORANG )

1

2007

79

115

174

2

2008

65

94

75

3

2009

50

108

46

4

2010

30

68

27

5

2011

20

44

20

6

2012

13

6

9

         
 

TOTAL

257

435

351

             

      Sumber: Dinas Pendidikan Ogan Ilir 2013

 

Dari data di atas nampak bahwa untuk jenjang Sekolah Dasar setiap tahun mengalami penurunan. Namun amat disayangkan angka tersebut belum juga bisa mencapai angka nol sebagai indikator bahwa tidak adanya anak putus sekolah di Kabupaten Ogan Ilir. Walaupun program BOS telah dilakukan oleh pemerintah daerah sejak 2007, tapi masih saja ada siswa yang mengalami putus sekolah. Ini berarti bahwa ada beberapa faktor lain yang menjadi pemicu masih rentannya siswa mengalami putus sekolah selain masalah biaya sekolah.

 

  1. 2.      FAKTOR PENYEBAB ANAK PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN OGAN ILIR

Berdasarkan pengamatan penulis sebagai warga daerah di Kabupaten Ogan Ilir, ada beberapa faktor penyebab siswa mengalami putus sekolah.

a)      Hilangnya motivasi anak

Motivasi anak bisa berasal dari diri sendiri maupun orang lain. Seorang anak yang masih mempunyai intrinsik dalam dirinya akan tetap bersemangat bersekolah. Namun, jika anak telah mengalami trauma terhadap sekolah dan juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pertemanan yang mengajaknya untuk terjerumus ke keadaan yang dapat mengakibatkannya putus sekolah maka ia akan kehilangan motivasi untuk sekolah.

Sebagai contoh salah seorang anak di dekat rumah penulis yang mengalami putus sekolah. Setelah ditelusuri faktor penyebab ia tidak bersekolah lagi karena sekolah merupakan tempat yang membosankan baginya. Guru-guru tidaklah seperti orang dewasa yang mengayomi anak didiknya melainkan selalu memberikan hukuman di atas kewajarannya sebagai seorang guru, seirng memaki serta memaksakan suatu peraturan yang tidak bisa diterima oleh siswa.

     Kemudian ditambah kesulitan anak dalam memahami pelajaran yang sulit dan tidak ada bimbingan khusus dari guru sehingga anak mengabaikan begitu saja segala tugas-tugas yang diberikan guru. Bahkan seringnya ia bolos sekolah untuk menghindari sekolah.

     Parahnya jika seorang anak bergaul dengan anak-anak lain yang tidak bersekolah. Kegiatan negatif seperti merokok dan nongkrong di warnet sambil main game online semakin menghilangkan motivasi anak untuk bersekolah. Apalagi jika mereka telah mendapatkan pekerjaan serabutan yang memberikan penghasilan maka sekolah bukanlah suatu tempat yang menarik lagi untuk mereka.

 

b)     Keluarga

Keluarga adalah lingkungan pertama dalam kehidupan anak yang seharusnya mengayomi, memotivasi serta memberikan perhatian kepada anak untuk bersekolah. Jika lingkungan keluarga harmonis, tidak ada keributan dan perselisihan maka anak akan merasa tentran dan nyaman di rumah. Keadaan ini pun akan menjadikan kondisi psikologis anak semakin baik dan menumbuhkan motivasi bagi anak untuk belajar dan pergi ke sekolah. Sebaliknya, keadaan keluarga yang berantakan, broken home, kurangnya perhatian orang tua akan memicu kondisi psikologis anak tertekan.

Kasus yang sama juga saya amati dari beberapa anak di daerah sekitar rumah penulis, bahkan teman penulis pun juga mengalami hal yang sama. Akibat broken home, ia malas untuk sekolah. Dalam satu pekan sekolah, hanya sehari ia masuk sekolah. Tetangga penulis pun yang mengalami broken home di mana orang tuanya bercerai sehingga perhatian orang tuanya telah berkurang sehingga ia memiliki motivasi yang rendah untuk bersekolah.

Selain alasan di atas, ada juga pengaruh ekonomi keluarga yang menjadi salah satu faktor penyebab anak mengalami putus sekolah. Memang program BOS telah diberlakukan oleh pemerintah daerah, tapi itu hanya menutupi biaya sekolah. Sedangkan untuk membeli peralatan sekolah, seragam, dan lain-lainnya masih membutuhkan uang. Mata pencaharian masyarakat daerah Kabupaten Ogan Ilir ialah pedagang dan petani. Tapi mereka rata-rata bukanlah pemilik dari lahan pertanian dan perdagangan tersebut. Mereka hanya bekerja sebagai buruh upahan yang terkadang dibayar mingguan. Sehingga penghasilan mereka pun hanya bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.

c)      Masyarakat

Kondisi anak putus sekolah bisa saja dipengaruhi oleh kondisi lingkungan masyarakat yang tidak peduli akan keberadaan mereka. Masyarakat yang cuek ketika melihat anak-anak usia sekolah yang berkeliaran di warnet dan nongkrong di pinggir jalan pada jam-jam sekolah.

Masyarakat juga sering memberikan judgement mengenai anak-anak putus sekolah bahwa mereka tidak mempunyai masa depan, menganggap mereka sampah masyarakat, sehingga tak heran anak-anak yang sama nasibnya (dalam hal putus sekolah) membentuk suatu komunitas seperti street punk untuk menyamakan tujuan mereka. Apalagi jika hal ini terjadi dalam usia remaja, maka mereka akan membentuk suatu kelompok sendiri dalam masyarakat dengan aturan yang mereka buat sendiri dan berlaku untuk mereka sendiri tanpa mengindahkan norma-norma dalam masyarakat.

 

  1. E.       SOLUSI PERMASALAHAN

Kasus putus sekolah siswa haruslah menjadi perhatian masyarakat yang dimulai dari lingkungan keluarga. Tindakan preventif ketika seorang anak menunjukkan gejala-gejala putus sekolah harus dilakukan sedini muingkin. Studi yang dilakukan oleh LPPM Universitas Airlangga (Suyanto, 2010:s345) mengemukakan bahwa ada gejala-gejala yang menunjukkan indikasi siswa akan mengalami putus sekolah, yakni: 1) pernah tidak naik kelas; 2) nilai ulangan dan nilai rapor yang kurang memenuhi standar; 3) sering membolos. Jika kita melihat adanya gejala-gejala di atas pada diri seorang anak maka tindakan preventif mesti dilakukan guna mencegah peluang mereka untuk putus sekolah. Siswa yang rawan DO harus memperoleh perhatian dan bimbingan khusus, termasuk memperoleh dukungan dari kelompok-kelompok sekunder yang ada di masyarakat untuk ikut memfasilitasi perbikan prestasi belajar mereka lewat bimbingan dan pembinaan yang siftanya empatif.

Berikut adalah program untuk mengeliminasi angka putus sekolah dan siswa rawan putus sekolah (Suyanto, 2010:345).

 

ISU PRIORITAS

PROGRAM

TUJUAN

Di kalangan keluarga miskin anak umumnya memiliki peran strategis sebagai salah satu sumber penghasilan penting keluarga

  1. Peningkatan kesejahteraan keluarga miskin
  2. Pengembangan alternatif sumber-sumber penghasilan keluarga
  3. Pemberdayaan potensi lansia

Meningkatkan ksesejahteraan keluarga miskim dan mengurangi peran anak sebagai salah satu sumber penghasilan keluarga

Bagi anak-anak kewajiban melakukan pekerjaan televisi dan bekerja serta sekolah adalah beban ganda yang terlampau berat untuk ditanggung dalam waktu bersamaan

  1. Sosialisasi UU Perlindungan Anak dan Kovensi ILO 138
  2. Pembatasan jam kerja dan usia anak bekerja

Mengurangi beban dan jam kerja anak agar memiliki waktu yang cukup untuk belajar

Acara dan tayangan televisi adalah godaan terbesar yang dihadapi anak-anak di pedesaan, sehingga waktu mereka untuk belajar cenderung jauh lebih pendek daripada waktu menonton televisi

Pengembangan gerakan mematikan televise dan membudayakan kebiasaan perilaku gemar membaca anak-anak

Membatasi godaan tayangan televisi bagi anak-anak

Siswa yang putus sekolah umumnya sebelumnya memperlihatkan indikasi DO (pernah tidak naik kelas, prestasinya kurang, dan sering membolos)

  1. Penanganan atau bimbingan khusus terhadap siswa rawan DO

b. Keterlibatan kelompok sekunder di masyarakat dalam penanganan siswa rawan DO

Memperbaiki prestasi belajar siswa DO

Anak perempuan cenderung lebih potensial putus sekolah karena kebiasaan pernikahan dini dan kultur pastriarkhis

  1. Pembatasan dan pencegahan kasus perbikahan dini

b. Sosialisasi kesetaraan gender bagi masyarakat desa

Mencegah anak perempuan mengalami diskriminasi gender, khususnya di bidang pendidikan

Dalam kenyataan kualitas dan prestasi belajara riil anak-anak di pedesaan, terutama di sekolah pinggiran seringkali memprihatinkan dan hasil katrolan

  1. Peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran di sekolah

b. Pengembangan pendidikan usia dini anak

Meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran di sekolah

Anak yang bekerja umumnya menanggung beban kerja yang panjang yang membatasi waktu luang mereka untuk bermain layaknya anak-anak

Pembatasan jam kerja dan usia anak bekerja

Pengaturan jan dan usia anak bekerja secara proporsional

Suasana belajar di sekolah, seringkali tidak membuat anak anak nyaman dalam belajar sehingg keinginan untuk belajar sungguh-sungguh menjadi terganggu

  1. Rehabilitasi sekolah dan ruang kelas yang rusak
    1. Pengembangan pendekatan MBS, khususnya joyfull learning

Membangun suasana belajar di sekolah yang menyenangkan bagi siswa atau peserta didik

Di dalam masyarakat seringkali masih ada krisis kepercayaan dan bahkan pandangan yang kontra-produktif terhadap arti penting sekolah

Pengembangan program link and match

Menjamin kesempatan kerja bagi lulusan sesuai jenjang pendidikan yang telah ditempuh

 

Kabupaten OI perlu merencanakan program untuk meningkatkan angka partisipasi sekolah dengan menyelesaikan masalah putus sekolah, khususnya masalah putus sekolah yang terjadi pada kelompok masyarakat miskin. Salah satu program yang dapat dilaksanakan adalah menanggulangi atau mengantisipasi faktor-faktor risiko penyebab anak putus sekolah. Untuk itu diperlukan pengamatan terhadap faktor-faktor yang berkaitan dengan kejadian putus sekolah khususnya putus sekolah pendidikan dasar pada anak dari kelompok masyarakat miskin di Kabupaten OI.

Pemerintah telah mengusahakan agar siswa-siswa yang mengalami putus sekolah untuk bisa kembali mengenyam pendidikan melalui pendidikan non formal, yakni pendidikan kesetaraan. Pendidikan Kesetaraan adalah salah satu satuan pendidikan pada jalur pendidikan nonformal yang meliputi kelompok belajar (kejar) Program Paket A, Program Paket B, dan Program Paket C yang dapat diselenggarakan melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Pusat kegiatan belajar Masyarakat (PKBM), atau satuan sejenis lainnya. Pendidikan kesetaraan telah menjadi lentera dalam kegelapan bagi mereka. Jadi, putus sekolah bukan kiamat bagi mereka yang putus sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.  Kesimpulan

Pendidikan merupakan hak yang sangat fundamental bagi anak. Hak wajib dipenuhi dengan kerjasama paling tidak dari orang tua siswa, lembaga pendidikan dan pemerintah. Pendidikan akan mampu terealisasi jika semua komponen yaitu orang tua, lembaga masyarakat, pendidikan dan pemerintah bersedia menunjang jalannya pendidikan.

Anak putus sekolah adalah keadaan dimana anak mengalami keterlantaran karena sikap dan perlakuan orang tua yang tidak memberikan perhatian yang layak terhadap proses tumbuh kembang anak tanpa memperhatikan hak – hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Beberapa faktor yang memperbesar peluang siswa untuk putus sekolah yang telah dipaparkan maka hendaknya kita sebagai orang tua, guru, dan anggota masyarakat mencegah agar tidak ada lagi anak yang mengalami putus sekolah.

 

  1. B.       Saran
  2. Untuk orang tua hendaknya lebih memperhatikan kondisi anak baik secara psikologis, sosial, maupun akademik. Dengan mengidentifikasi awal masalah pada anak maka pencegahan anak untuk mengalami putus sekolah dapat diminimalisir.
  3. Semua pihak pada satuan pendidikan khususnya pendidikan dasar perlu bekerjasama dengan orang tua dalam memantau perkembangan anak
  4. Masyarakat perlu disadarkan tentang pentingnya pemantauan terhadap aktivitas anak-anak dalam masyarakat dengan tidak bersikap acuh terhadap permasalahan sosial yang timbul dalam diri anak maupun sekelompok anak di daerahnya

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s