HUBUNGAN PENGUASAAN KOMPETENSI TERHADAP KINERJA GURU PASCA SERTIFIKASI DI SEKOLAH DASAR SE-KECAMATAN INDRALAYA UTARA

Posted: Maret 7, 2013 in Makalah

HUBUNGAN PENGUASAAN KOMPETENSI TERHADAP KINERJA GURU PASCA SERTIFIKASI DI SEKOLAH DASAR SE-KECAMATAN INDRALAYA UTARA

 

 

 

 

OLEH:

NAMA                  : MIFTHA INDASARI

NIM                        : 1200970

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR

SEKOLAH PASCA SARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2013

HUBUNGAN PENGUASAAN KOMPETENSI TERHADAP KINERJA GURU PASCA SERTIFIKASI DI SEKOLAH DASAR SE-KECAMATAN INDRALAYA UTARA  

  1. I.          PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

Visi Kementrian Pendidikan Nasional dalam Renstra Jangka Panjang 2025 telah diarahkan pada upaya pencapaian insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif (Yudhistira, 2012: 1). Salah satu visi Jangka Pendek yakni tahun 2014 ialah meningkatkan kualitas dan relevansi layanan kependidikan. Upaya peningkatan kualitas pendidikan tidak akan terlepas dari bagaimana upaya yang dilakukan pihak sekolah yakni hal yang menyangkut dengan pembelajaran. Hal ini menimbulkan persepsi bahwa jika ingin memperbaiki kualitas pembelajaran maka harus memperbaiki kualitas guru karena guru sebagai pengajar sekaligus pendidik yang selalu berinteraksi dengan pembelajaran di kelas. Perbaikan kulaitas guru ini harus sejalan dengan perbaikan kompetensi guru.

Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen disebutkan bahwa “Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksaakan tugas keprofesionalan”.

Sekarang, guru disebut sebagai profesi bukan lagi sebagai seseorang dengan pahlawan tanpa tanda jasa. Pada hakikatnya memang guru adalah seorang pendidik di sekolah yang memberikan pengajaran serta pembelajaran sekaligus di kelas dan itu akan memberikan tuntutan yang besar kepada guru dalam membelajarkan siswa bukan hanya sekedar memberikan pengetahuan tetapi juga memberikan contoh segala tindakan baik dan melatih keterampilan serta sikap siswa sehingga tujuan pembelajaran, yakni perubahan tingkah laku bisa tercapai.

Sekarang faktanya guru sebagai profesi sedang gencar diburu oleh banyak kalangan. Mereka berpendapat bahwa guru adalah profesi yang menjanjikan untuk saat ini. Namun sayangnya, orientasi itu bukan tertuju kepada “kemuliaan” yang terdapat dalam profesi ini melainkan tertuju kepada gaji dan tunjangan  yang diberikan pemerintah kepada guru, khususnya guru yang sudah disertifikasi. Untuk meningkatkan kualitas guru, perlu dilakukan suatu system pengujian terhadap kinerja guru. Secara nasional dapat dilakukan oleh pemerintah pusat untuk mengetahui kualitas dan standar kompetensi guru, dalam kaitannya dengan pembangunan pendidikan secara keseluruhan (Mulyasa, 2010:187).

Berbicara mengenai sertifikasi, hal yang melatarbelakangi munculnya program ini mengacu pada Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan guru adalah pendidik profesional. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Guru dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama, yaitu: (1) kompetensi pedagogik, (2) kepribadian, (3) sosial, dan (4) professional.

Rencana Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk penilaian kerja guru akan dilaksanakan di tahun 2013. Penerapan penilaian kinerja guru juga akan dilakukan secara individu seperti halnya Uji Kompetensi Guru. Sosialisasi Penilaian Kinerja (PK) guru sudah dilaksanakan jauh hari. Penilaian kinerja guru dilaksanakan untuk mewujudkan guru yang professional, dengan kualitas layanan profesi yang bermutu. Hasil dari penilaian kinerja guru akan dimanfaatkan untuk menyusun profil kinerja guru sebagai input dalam penyusunan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Hasil penilaian kinerja guru juga digunakan sebagai dasar penetapan perolehan angka kredit guru dalam rangka pengembangan karir guru sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Negera Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya (www.sekolahdasar.net)

Jika kita telusuri sebelumnya, tujuan pemerintah mengadakan program sertifikasi ialah untuk mewujudkan keprofesionalismean guru serta memberikan kesejahteraan guru. Pemerintah berupaya meningkatkan kompetensi guru yang diharapkan akan berdampak pada peningkatan kinerja guru yang tentu saja akan linier dengan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Kualitas pendidikan di Indonesia masih dianggap rendah oleh banyak kalangan masyarakat (Kusnandar, 2009:1).

Sejalan dengan pengembangan kinerja profesional guru, Arif Firdausi A. dalam tesisnya menjelaskan bahwa sebagian besar kinerja guru profesional (ter-sertifikat) pendidik ditinjau dari standar kompetensi guru adalah dalam kategori baik, dalam artian guru yang profesional telah menjalankan ke empat kompetensi tersebut sesuai dengan kemampuan dan standar yang berlaku. Namun ada sebagian kecil guru profesional (tersertifikat pendidik) pada pelaksanaan pembelajaran kurang sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai siswa. Permasalahan tersebut berkenaan dengan kompetensi guru itu sendiri yang memang masih rendah.

Banyak kalangan masyarakat yang memandang pesimis dengan pelaksanaan program sertifikasi guru ini. Selain ketidakjelasan dalam proses pelaksanaannya, kompetensi guru pasca sertifikasi yang masih dianggap kurang menunjang kinerja guru dalam mengajar sehingga kualitas pendidikan Indonesia di dunia masih jauh tertinggal. Melihat fenomena ini maka penulis tertarik untuk meneliti adakah hubungan antara penguasaan kompetensi guru pasca sertifikasi dengan kinerja guru di sekolah.

1.2  RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas ialah:

  1. Adakah hubungan yang signifikan antara penguasaan kompetensi terhadap kinerja guru pasca sertifikasi di sekolah?
  2. Seberapa besar tingkatan hubungan antara penguasaan kompetensi terhadap kinerja guru pasca sertifikasi di sekolah?

1.3  TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

  1. Hubungan yang signifikan antara penguasaan kompetensi terhadap kinerja guru pasca sertifikasi di sekolah
  2. Besarnya tingkatan hubungan antara penguasaan kompetensi terhadap kinerja guru pasca sertifikasi di sekolah

 

1.4  MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi,

  1. Peneliti

Mendapatkan informasi seberapa besar hubungan antara penguasaan kompetensi guru pasca sertifikasi terhadap kinerja di sekolah

  1. Sekolah

Dapat menjadi acuan bagi sekolah untuk memberikan pelatihan kepada guru dalam rangka meningkatkan kompetensi sehingga kinerja di sekolah dapat meningkat

  1. Guru

Dapat memberikan masukan serta refleksi untuk mengembangkan kompetensi sehingga akan memperbaiki kinerja di sekolah

  1. Pemerintah

Sebagai pertimbangan dalam merancang kebijakan-kebijakan yang berorientasi ke peningkatan mutu dan kualitas pendidikan, khususnya kualitas kinerja guru

1.5  PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH

Pemecahan masalah dalam penelitian ini menggunakan pendekatan ilmiah.

 

1.6  KERANGKA BERPIKIR

Penelitian ini merupakan penelitian korelasi yang akan meneliti hubungan antara penguasaan kompetensi guru terhadap kinerja guru pasca sertifikasi. Maka sebelum dilakukan penelitian, maka peneliti mengumpulkan data awal dengan cara mengobservasi jumlah guru yang sudah disertifikasi kemudian melakukan wawancara awal untuk mendapatkan data awal. Kemudian peneliti menyiapkan perangkat non tes seperti pertanyaan-pertanyaan untuk wawancara dan angket. Kemudian mengumpulkan beberapa dokumen yang mendukung proses pengambilan data oleh peneliti.

Selanjutnya, peneliti mengkorelasikan data-data yang telah diperoleh dengan menggunakan teknik analisa data statistika korelasi. Maka akan didapatkan ada tidaknya hubungan antara penguasaan kompetensi guru terhadap kinerja guru pasca sertifikasi serta seberapa besar hubungan tersebut.

 

  1. II.          LANDASAN TEORI

2.1  Kompetensi

Kompetensi berasal dari bahasa Inggris ”competence” yang berarti kemampuan, keahlian, kewenangan, dan kekuasaan. (Djuhardi, 2007: 111). Kompetensi yang ada dalam diri seseorang merupakan suatu potensi bawaan dan bisa berkembang oleh lingkungan sekitar. Teori ini mengacu pada teori konvergensi William Stern. Teori ini menjelaskan bahwa perkembangan kepribadian serta kompetensi atau kemampuan seseorang merupakan hasil dari proses pereduksian antara bawaan lahir dan pengalaman dari lingkungan. Munsyi (dalam Uno, 2009:61) berpendapat bahwa kompetensi didasari pada kemampuan dalam melaksanakan sesuatu yang didapatkan seseorang melalui pendidikan. Kompetensi seperti yang dijelaskan oleh fullan mengandung arti:

“Competence is abroad capacities as fully human attribute. Competence is supposed to include all ‘qualities of personal effectiveness that are required in the workplace’, it is certain that we have here a very diverse set of qualities indeed: attitudes, motives, interests, personal attunements of all kinds, persceptiveness, receptivity, maturity, kinds of personal identification, etc – as well as knowledge, understandings, action, and skills”

Dalam UU No 14 Tahun 2005 Guru dan Dosen disebutkan bahwa “Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.” Littrell berpendapat bahwa kompetensi merupakan kekuatan mental dan fisik seseorang untuk melakukan suatu tugas atau keterampilan yang dipelajari melalui latihan dan praktik. Sedangkan menurut Stephen J. Kenezevich, kompetensi didefinisikan sebagai kemampuan untuk mencpai tujuan organisasi. Kemudian ia mendefinisikan kemampuan tersebut sebagai hasil dari penggabungan kemampuan yang banyak ragamnya seperti pengetahuan, keterampilan, kepemimpinan, kecerdasan, yang dimiliki seseorang dalam pencapaian suatu tujuan organisasi. Syaiful Sagala (2009: 23) mendefinisikan kompetensi merupakan peleburan dari pengetahuan (daya pikir), sikap (daya kalbu), dan keterampilan (daya psikis).

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang baik berupa pengetahuan maupun keterampilan untuk melakukan suatu tugas tertentu.

Collin Marsh (2008) memaparkan sebuah rancangan kompetensi kerangka kerja untuk guru awal dikembangkan selama 1992-1993 oleh tim proyek ditugaskan oleh Proyek Nasional Kualitas Belajar Mengajar (NPQTL). NPQTL adalah proyek tiga tahun tripartit dengan keanggotaan berasal dari pemerintah dan non otoritas sekolah pemerintah, serikat guru, pemerintah Persemakmuran dan Australian Council of Trade Unions (ACTU). NPQTL itu prihatin tentang hambatan dan halangan untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan menganggap bahwa pengembangan standar kompetensi nasional akan sangat membantu dalam mengurangi hambatan. Secara khusus, ia menegaskan bahwa standar nasional kompetensi dapat:

a)    Membantu guru untuk meningkatkan organisasi kerja dan kinerja kerja mereka dengan mendorong mereka untuk merefleksikan secara kritis pada praktek mereka sendiri, secara individu dan bersama-sama.

b)   Menginformasikan, pengembangan profesional untuk mendukung perbaikan pengajaran.

c)    Meningkatkan harga diri guru dan komitmen mereka untuk mengajar dengan meningkatkan kesadaran mereka tentang sifat kompetensi mengajar mereka.

d)   Mendukung pendekatan nasional untuk meningkatkan program pendidikan guru, termasuk kurikulum dan pedagogi.

e)    Mendukung pendekatan nasional untuk meningkatkan program induksi di sekolah-sekolah dan sistem.

f)    Mungkin membentuk dasar untuk pendekatan nasional yang konsisten untuk pendaftaran dan masa percobaan.

g)   Memberikan dasar yang baik untuk komunikasi tentang sifat kerja guru dan kualitas pengajaran dan pembelajaran dalam komunitas pendidikan dan pendidikan antara kelompok kepentingan.

 

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Guru dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama, yaitu: (1) kompetensi pedagogik, (2) kepribadian, (3) sosial, dan (4) profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.

2.1.1        Indikator Kompetensi Guru

Dalam peraturan menteri pendidikan nasional Republik Indonesia nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi dan kompetensi guru, indikator kompetensi pedagogik untuk guru SD/MI meliputi:

KOMPETENSI INTI GURU

KOMPETENSI GURU KELAS SD/MI

Kompetensi Pedagogik
Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual.
  1. Memahami karakteristik peserta didik usia sekolah dasar yang berkaitan dengan aspek fisik, intelektual, sosial-emosional, moral, spiritual, dan latar belakang sosial-budaya.
    1. Mengidentifikasi potensi peserta didik usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran SD/MI.
    2. Mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran SD/MI.
    3. Mengidentifikasi kesulitan peserta belajar usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran SD/MI.
Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik
  1. Memahami berbagai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik terkait dengan lima mata pelajaran SD/MI
  2. Menerapkan berbagai pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif dalam lima mata pelajaran SD/MI
  3. Menerapkan pendekatan pembelajaran tematis, khususnya di kelas-kelas awal SD/MI
Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu
  1. Memahami prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
  2. Menentukan tujuan lima mata pelajaran SD/MI
  3. Menentukan pengalaman belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan lima mata pelajaran SD/MI
  4. Memilih materi lima mata pelajaran SD/MI yang terkait dengan pengalaman belajar dan tujuan pembelajaran
  5. Menata materi pembelajaran secara benar sesuai dengan pendekatan yang dipilih dan karakteristik peserta didik usia SD/MI
  6. Mengembangkan indikator dan instrumen penilaian
Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik
  1. Memahami prinsip-prinsip perancangan pembelajaran yang mendidik
  2. Mengembangkan komponen-komponen rancangan pembelajaran
  3. Menyusun rancangan pembelajaran yang lengkap, baik untuk kegiatan di dalam kelas, laboratorium, maupun lapangan
  4. Melaksanakan pembelajaran yang mendidik di kelas, di laboratorium, dan di lapangan
  5. Menggunakan media pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik dan lima mata pelajaran SD/MI untuk mencapai tujuan pembelajaran secara utuh
  6. Mengambil keputusan transaksional dalam lima mata pelajaran SD/MI sesuai dengan situasi yang berkembang
Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran
Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki
  1. Menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran untuk mendorong peserta didik mencapai prestasi belajar secara optimal
  2. Menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran untuk mengaktualisasikan potensi peserta didik, termasuk kreativitasnya
Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik
  1. Memahami berbagai strategi berkomunikasi yang efektif, empatik dan santun, baik secara lisan maupun tulisan
  2. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan  santun dengan peserta didik dengan bahasa yang khas dalam interaksi pembelajaran yang terbangun secara siklikal dari (a) penyiapan kondisi psikologis peserta didik, (b) memberikan pertanyaan atau tugas sebagai undangan kepada peserta didik untuk merespons, (c) respons peserta didik, (d) reaksi guru terhadap respons peserta didik, dan seterusnya
Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
  1. Memahami prinsip-prinsip penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar sesuai dengan karakteristik lima mata pelajaran SD/MI
  2. Menentukan aspek-aspek proses dan hasil belajar yang penting untuk dinilai dan dievaluasi sesuai dengan karakteristik lima mata pelajaran SD/MI
  3. Menentukan prosedur penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
  4. Mengembangkan instrumen penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
  5. Mengadministrasikan penilaian proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan mengunakan berbagai instrumen
  6. Menganalisis hasil penilaian proses dan hasil belajar untuk berbagai tujuan
  7. Melakukan evaluasi proses dan hasil belajar
Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran
  1. Menggunakan informasi hasil penilaian dan evaluasi untuk menentukan ketuntasan belajar.
  2. Menggunakan informasi hasil penilaian dan evaluasi untuk merancang program remedial dan pengayaan
  3. Mengkomunikasikan hasil penilaian dan evaluasi kepada pemangku kepentingan.
  4. Memanfaatkan informasi hasil penilaian dan evaluasi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran
  1. Melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan
  2. Memanfaatkan hasil refleksi untuk perbaikan dan pengembangan lima mata pelajaran SD/MI
  3. Melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran lima mata pelajaran SD/MI
Kompetensi Kepribadian
Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.
  1. Menghargai peserta didik tanpa membedakan keyakinan yang dianut, suku, adat-istiadat, daerah asal, dan gender.
  2. Bersikap sesuai dengan norma agama yang dianut, hukum dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat, serta kebudayaan nasional Indonesia yang beragam.
Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
  1. Berperilaku jujur, tegas, dan manusiawi.
  2. Berperilaku yang mencerminkan ketakwaan dan akhlak mulia.
  3. Berperilaku yang dapat diteladani oleh peserta didik dan anggota masyarakat di sekitarnya.
Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
  1. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap dan stabil.
  2. Menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, arif, dan berwibawa.
Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.
  1. Menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi.
  2. Bangga menjadi guru dan percaya pada diri sendiri.
  3. Bekerja mandiri secara profesional.
Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.
  1. Memahami kode etik profesi guru.
  2. Menerapkan kode etik profesi guru.
  3. Berperilaku sesuai dengan kode etik guru.
Kompetensi Sosial
Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi
  1. Bersikap inklusif dan objektif terhadap peserta didik, teman sejawat dan lingkungan sekitar dalam melaksanakan pembelajaran.
  2. Tidak bersikap diskriminatif terhadap peserta didik, teman sejawat, orang tua peserta didik dan lingkungan sekolah karena perbedaan agama, suku, jenis kelamin, latar belakang keluarga, dan status sosial-ekonomi.
Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
  1. Berkomunikasi dengan teman sejawat dan komunitas ilmiah lainnya secara santun, empatik dan efektif.
  2. Berkomunikasi dengan orang tua peserta didik dan masyarakat secara santun, empatik, dan efektif tentang program pembelajaran dan kemajuan peserta didik
  3. Mengikutsertakan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam program pembelajaran dan dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik.
Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya
  1. Beradaptasi dengan lingkungan tempat bekerja dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik, termasuk memahami bahasa daerah setempat.
  2. Melaksanakan berbagai program dalam lingkungan kerja untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah yang bersangkutan.
Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.
  1. Berkomunikasi dengan teman sejawat, profesi ilmiah, dan komunitas ilmiah lainnya melalui berbagai media dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.
  2. Mengkomunikasikan hasil-hasil inovasi pembelajaran kepada komunitas profesi sendiri secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.
Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. Bahasa Indonesia

  1. Memahami hakikat bahasa dan pemerolehan bahasa.
  2. Memahami kedudukan, fungsi, dan ragam bahasa Indonesia.
  3. Menguasai dasar-dasar dan kaidah bahasa Indonesia sebagai rujukan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  4. Memiliki keterampilan berbahasa Indonesia (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis)
  5. Memahami teori dan genre sastra Indonesia.
  6. Mampu mengapresiasi karya sastra Indonesia, secara reseptif dan produktif

Matematika

  1. Menguasai pengetahuan konseptual dan prosedural serta keterkaitan keduanya dalam konteks materi aritmatika, aljabar, geometri, trigonometri, pengukuran, statistika, dan logika matematika.
  2. Mampu menggunakan matematisasi horizontal dan vertikal untuk menyelesaikan masalah matematika dan masalah dalam dunia nyata.
  3. Mampu menggunakan pengetahuan konseptual, prosedural, dan keterkaitan keduanya dalam pemecahan masalah matematika, serta. penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Mampu menggunakan alat peraga, alat ukur, alat hitung, dan piranti lunak komputer.

IPA

  1. Mampu melakukan observasi gejala alam baik secara langsung maupun tidak langsung.
  2. Memanfaatkan konsep-konsep dan hukum-hukum ilmu pengetahuan alam dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari.
  3. Memahami struktur ilmu pengetahuan alam, termasuk hubungan fungsional antarkonsep, yang berhubungan dengan mata pelajaran IPA.

IPS

  1. Menguasai materi keilmuan yang meliputi dimensi pengetahuan, nilai, dan keterampilan IPS.
  2. Mengembangkan materi, struktur, dan konsep keilmuan IPS.
  3. Memahami cita-cita, nilai, konsep, dan prinsip-prinsip pokok ilmu-ilmu sosial dalam konteks kebhinnekaan masyarakat Indonesia dan dinamika kehidupan global.
  4. Memahami fenomena interaksi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, kehidupan agama, dan perkembangan masyarakat serta saling ketergantungan global.

PKn

  1. Menguasai materi keilmuan yang meliputi dimensi pengetahuan, sikap, nilai, dan perilaku yang mendukung kegiatan pembelajaran PKn.
  2. Menguasai konsep dan prinsip kepribadian nasional dan demokrasi konstitusional Indonesia, semangat kebangsaan dan cinta tanah air serta bela negara.
  3. Menguasai konsep dan prinsip perlindungan, pemajuan HAM, serta penegakan hukum secara adil dan benar.
  4. Menguasai konsep, prinsip, nilai, moral, dan norma kewarganegaraan Indonesia yang demokratis dalam konteks kewargaan negara dan dunia.
Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.
  1. Memahami standar kompetensi lima mata pelajaran SD/MI.
  2. Memahami kompetensi dasar lima mata pelajaran SD/MI.
  3. Memahami tujuan pembelajaran lima mata pelajaran SD/MI.
Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
  1. Memilih materi lima mata pelajaran SD/MI yang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.
  2. Mengolah materi lima mata pelajaran SD/MI secara integratif dan kreatif sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik
Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif
  1. Melakukan refleksi terhadap kinerja sendiri secara\ terus menerus.
  2. Memanfaatkan hasil refleksi dalam rangka peningkatan keprofesionalan.
  3. Melakukan penelitian tindakan kelas untuk peningkatan keprofesionalan.
  4. Mengikuti kemajuan zaman dengan belajar dari berbagai sumber.
Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.
  1. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam berkomunikasi.
  2. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan diri.

2.2  Sertifikasi Guru

Sertifikasi guru dalam jabatan telah diatur dalam Permendikbud No. 05 Tahun 2012. Sebelum mengikuti sertifikasi, guru diuji terlebih dahulu kemampuan awalnya yakni mengenai penguasaan guru terhadap kompetensi professional dan pedagogic. Selanjutnya mereka akan diberikan pelatihan dan latihan profesi guru yang disebut PLPG. Dalam proses pelaksanaan PLPG, pola penilaian sertifikasi guru diambil melalui pengamatan, uji kinerja, dan ujian tulis.  Selain PLPG, proses penilaian sertifikasi juga dapat dilakukan dengan penilaian portofolio.

Sertifikasi profesi guru adalah suatu proses untuk memberikan sertifikat kepada guru yang telah memenuhi standar kualifikasi dan standar kompetensi. Kegiaatn sertifikasi ini dilaksanakan oleh perguruan tinggi penyelenggara pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah. Melalui sertifikasi maka diharapkan aka nada perbaikan mutu sumber daya guru yang memadai sehingga akan memberikan pengaruh positif terhadap kualitas pembelajarannya di kelas.

Pada umumnya, sertifikasi ini bertujuan untuk: menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional; peningkatan proses dan mutu hasil-hasil pendidikan; dan peningkatan profesinalisme guru.

Pasal 3 Permendikbud No. 05 Tahun 2012 menjelaskan ketentuan kualifikasi akademik guru sebagai syarat mengikuti program sertifikasi, yakni:

  1. Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV)
  2. Belum memiliki kualifikasi akademik S-1 atau D-IV dengan syarat:

1)      Mencapai usia 50 tahun dan mempunyai pengalaman kerja 20 tahun sebagai guru

2)      Mempunyai golongan IV/a atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/a

Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi dan sertifikat pendidik. Kualifikasi akademik seorang pendidik diperoleh melalui pendidikan di perguruan tinggi dengan program sarjana maupun D-IV. Sedangkan kompetensi guru seperti pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional diperoleh melalui pendidikan profesi. Berikut adalah kompetensi dan subkompetensi yang harus dimiliki oleh guru dalam sertifikasi.

KOMPETENSI

SUB KOMPETENSI

INDIKATOR

Kompetensi Kepribadian: Kemampuan personal yang mencerminkan kerpibadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia 1.1          Kepribadian yang mantap dan stabil
  1. Bertindak sesuai dengan norma hokum
  2. Bertindak sesuai dengan norma sosial
  3. Bangga sebagai guru’memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma
1.2          Kepribadian yang dewasa
  1. Menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik
  2. Memiliki etos kerja sebagai guru
1.3          Kepribadian yang arif
  1. Menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat
  2. Menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak
1.4          Kepribadian yang berwibawa
  1. Memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik
  2. Memiliki perilaku yang disegani
1.5          Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan
  1. Bertindak sesuai dengan norma religious (iman, taqwa, jujur, ikhlas, suka menolong)
  2. Memiliki perilaku yang diteladani peserta didik
Kompetensi pedagogic: meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi haisl belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya 2.1        Memahami peserta didik secara mendalam
  1. Memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif
  2. Memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian
  3. Mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik
2.2        Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran
  1. Memahami landasan pendidikan
  2. Menerapkan teori belajar dan pembelajaran
  3. Menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang akan dicapai dan materi ajar
  4. Menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih
2.3        Melaksanakan pembelajaran
  1. Menata latar (setting) pembelajaran
  2. Melaksanakan pembelajaran yang kondusif
2.4        Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran
  1. Merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode
  2. Menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery learning)
  3. Memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum
2.5        Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbgaai potensinya
  1. Memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik
  2. Memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi non akademik
Kompetensi Profesional: Merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya 3.1 menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi
  1. Memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah
  2. Memahami struktur, konsep, dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar
  3. Memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait
  4. Menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari
3.2        Menguasai struktur dan metode keilmuan Menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan atau materi bidang studi
Kompetensi Sosial: Merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar 4.1 Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik Berkomunikasi secara efektif
4.2 Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesame pendidik dan tenaga kependidikan Berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesame pendidik dan tenaga kependidikan
4.3 Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua atau wali peserta didik dan masyrakat sekitar Berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua atau wali peserta didik dan masyarakat sekitar

2.3  Kinerja Guru

Kinerja merupakan hasil unjuk kerja, prestasi kerja, maupun pelaksanaan kerja dari seseorang, sehingga dapat kita ketahui bahwa kinerja guru merupakan unjuk kerja guru dalam melaksanakan tigasnya sebagai guru. Kualitas kinerja guru ini akan menentukan pula kualitas pendidikan di Indonesia karena tidak bisa disangkal lagi bahwa gurulah yang sering berinteraksi dengan pembelajaran di kelas.

Menurut August W. Smith, Kinerja adalah performance is output derives from processes, human otherwise, artinya kinerja adalah hasil dari suatu proses yang dilakukan manusia. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan suatu wujud perilaku seseorang atau organisasi dengan orientasi prestasi. Kinerja seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: ability, capacity, held, incentive, environment dan validity (Noto Atmojo, 1992). Adapun ukuran kinerja menurut T.R. Mitchell (1989) dapat dilihat dari empat hal, yaitu:

a)  Quality of work – kualitas hasil kerja

b)  Promptness – ketepatan waktu menyelesaikan pekerjaan

c)   Initiative – prakarsa dalam menyelesaikan pekerjaan

d)  Capability – kemampuan menyelesaikan pekerjaan

e)  Comunication – kemampuan membina kerjasama dengan pihak lain.

Berkenaan dengan kepentingan penilaian terhadap kinerja guru. Georgia Departemen of Education telah mengembangkan teacher performance assessment instrument yang kemudian dimodifikasi oleh Depdiknas menjadi Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). Alat penilaian kemampuan guru, meliputi: (1) rencana pembelajaran (teaching plans and materials) atau disebut dengann RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), (2) prosedur pembelajaran (classroom procedure), dan (3) hubungan antar pribadi (interpersonal skill).

Indikator penilaian terhadap kinerja guru dilakukan terhadap tiga kegiatan pembelajaran dikelas yaitu:

  1. a.    Perencanaan Program Kegiatan Pembelajaran

Tahap perencanaan dalam kegiatan pembelajaran adalah tahap yang berhubungan dengan kemampuan guru menguasai bahan ajar. Kemampuan guru dapat dilihat dari cara atau proses penyusunan program kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, yaitu mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

  1. b.   Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran di kelas adalah inti penyelenggaraan pendidikan yang ditandai oleh adanya kegiatan pengelolaan kelas, penggunaan media dan sumber belajar, dan penggunaan metode serta strategi pembejaran. Semua tugas tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab guru yang secara optimal dalam pelaksanaanya menuntut kemampuan guru.

Arah pembelajaran lebih menekankan keterlibatan siswa dalam belajar, membuat siswa secara atif terlibat dalam proses pembelajaran, Guru harus mampu mengembangkan pola pembelajaran yang mengarah pada kemandirian siswa  dalam belajar (Sapari, 2006:10). Artinya, guru harus mampu menciptakan pola pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenagkan, yang dapat membawa siswa ke dunianya sendiri yaitu bermain dengan penuh keasyikan serta tanpa tekanan.

  1. c.    Evaluasi/Penilaian Pembelajaran

Penilaian hasil belajar adalah kegiatan atau cara yang ditujukan untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dan juga proses pem belajaran yang telah dilakukan. Pada tahap ini seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam menentukan pendekatan dan cara-cara evaluasi, penyusunan alat-alat evaluasi, pengolahan, dan penggunaan hasil evaluasi.

2.5    HIPOTESIS PENELITIAN

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan (Sugiyono, 2010 : 64).

Bertitik tolak pada uraian teori yang dikemukakan dalam kajian  pustaka diatas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara penguasaan kompetensi pedagogik guru pasca sertifikasi terhadap hasil kinerja di SD Negeri Se-Kecamatan Indralaya Utara Utara . Dengan hipotesis statistik sebagai berikut :

H0 : ρ = 0,  0  berarti tidak ada hubungan antara penguasaan kompetensi terhadap hasil kinerja guru pasca sertifikasi di SD Negeri Se-Kecamatan Indralaya Utara

Ha : ρ ≠ 0,   ”tidak sama dengan nol” berarti lebih besar atau kurang dari nol berarti ada hubungan antara penguasaan kompetensi terhadap hasil kinerja guru pasca sertifikasi di SD Negeri Se-Kecamatan Indralaya Utara

Keterangan:

ρ = nilai korelasi dalam formulasi yang dihipotesiskan.

(Sugiyono, 2010 : 69)

 

  1. III.          METODOLOGI PENELITIAN

3.1  Metode penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian korelasi.

3.2  Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Variabel Independen (variabel X) yaitu penguasaan kompetensi guru pasca sertifikasi
  2. Variabel Dependen (variabel Y) yaitu hasil kinerja guru pasca sertifikasi

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1  Populasi

“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya” (Sugiyono, 2010:61). Sesuai dengan batasan masalah dan tujuan penelitian, maka populasi dalam penelitian ini adalah jumlah keseluruhan siswa kelas IV di 25 SD Negeri Se-Kecamatan Indralaya Utara tahun ajaran 2011/2012.

 

Tabel 3.1 Data Populasi SD Negeri Se-Kecamatan Indralaya Utara

NO

NAMA SD NEGERI

JUMLAH GURU

JUMLAH GURU TERSETIFIKASI

1

SDN 01 INDRALAYA

X

Y

2

SDN 02 INDRALAYA

X

Y

3

SDN 03 INDRALAYA

X

Y

4

SDN 04 INDRALAYA

X

Y

5

SDN 05 INDRALAYA

X

Y

6

SDN 06 INDRALAYA

X

Y

7

SDN 07 INDRALAYA

X

Y

8

SDN 08 INDRALAYA

X

Y

9

SDN 09 INDRALAYA

X

Y

10

SDN 10 INDRALAYA

X

Y

11

SDN 11 INDRALAYA

X

Y

12

SDN 12 INDRALAYA

X

Y

13

SDN 13 INDRALAYA

X

Y

14

SDN 14 INDRALAYA

X

Y

15

SDN 15 INDRALAYA

X

Y

16

SDN 16 INDRALAYA

X

Y

17

SDN 17 INDRALAYA

X

Y

18

SDN 18 INDRALAYA

X

Y

19

SDN 19 INDRALAYA

X

Y

20

SDN 20 INDRALAYA

X

Y

21

SDN 21 INDRALAYA

X

Y

22

SDN 22 INDRALAYA

X

Y

23

SDN 23 INDRALAYA

X

Y

24

SDN 24 INDRALAYA

X

Y

25

SDN 25 INDRALAYA

X

Y

 JUMLAH

∑X=

∑Y=

                                                                           (Sumber : Data Cabdin )

3.3.2  Sampel Penelitian

”Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh keseluruhan dari populasi” (Sugiyono, 2010:62). Pengambilan sampel menggunakan sampel random. Peneliti mengambil sampel guru yang telah disertifikasi sebanyak 2 orang pada masing-masing sekolah di Kecamatan X secara acak. Arikunto (2006:134) menjelaskan apabila subjeknya dalam jumlah besar, maka dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari : a) kemampuan seorang peneliti yang dapat dilihat dari waktu, tenaga, dan dana; b) sempit-luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek penelitian, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data; c) besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel 10% atau 50 orang guru dari jumlah keseluruhan populasi 25 SD Negeri Se-Kecamatan Indralaya Utara sehingga jumlah keseluruhan guru yang dijadikan sampel adalah 50 siswa.

Tabel 3.2 Jumlah Sampel Penelitian

NO

NAMA SD NEGERI

JUMLAH SAMPEL RESPONDEN

1

SDN 01 INDRALAYA

2

2

SDN 02 INDRALAYA

2

3

SDN 03 INDRALAYA

2

4

SDN 04 INDRALAYA

2

5

SDN 05 INDRALAYA

2

6

SDN 06 INDRALAYA

2

7

SDN 07 INDRALAYA

2

8

SDN 08 INDRALAYA

2

9

SDN 09 INDRALAYA

2

10

SDN 10 INDRALAYA

2

11

SDN 11 INDRALAYA

2

12

SDN 12 INDRALAYA

2

13

SDN 13 INDRALAYA

2

14

SDN 14 INDRALAYA

2

15

SDN 15 INDRALAYA

2

16

SDN 16 INDRALAYA

2

17

SDN 17 INDRALAYA

2

18

SDN 18 INDRALAYA

2

19

SDN 19 INDRALAYA

2

20

SDN 20 INDRALAYA

2

21

SDN 21 INDRALAYA

2

22

SDN 22 INDRALAYA

2

23

SDN 23 INDRALAYA

2

24

SDN 24 INDRALAYA

2

25

SDN 25 INDRALAYA

2

 JUMLAH

50

 

3.4 Teknik Pengumpulan Data

3.4.1  Wawancara

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data yang dilakukan sebelum peneliti mengadakan penelitian yang dipergunakan sebagai studi pendahuluan dalam menemukan permasalahan yang akan ia teliti. Teknik wawancara ini terbagi menjadi wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara terstruktur ialah wawancara yang digunakan oleh peneliti dengan terlebih dahulu menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah dipersiapkan. Sedanngkan wawancara tidak terstruktur ialah wawancara bebas di mana peneliti tidak menyiapkan pedoman wawancara khusus, hanya menanyakan secara garis besar sehingga akan mendapatkan jawaban responden yang lebih mendalam dan biasa digunakan untuk studi pendahuluan dalam mengidentifikasi permasalahan.

Peneliti akan menggunakan teknik wawancara sebagai teknik pengumpulan data awal studi pendahuluan untuk mengetahui permasalahan yang akan dibahas sehingga akan memperkuat alasan peneliti dalam melakukan penelitian ini.

3.4.2  Dokumentasi

Dokumentasi ialah mengumpulkan beberapa dokumen seperti catatan peristiwa yang telah berlalu yang dapat berbentuk tulisan, gambar, ataupun karya-karya monumental seseorang. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil teknik dokumentasi untuk melengkapi data-data empirik sehingga akan memperkuat dan mendukung hasil kajian peneliti mengenai permasalahan penelitian.

3.4.3 Angket

Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan tertulis dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Angket dapat dilakukan apabila jumlah responden dalam jumlah yang besar serta tersebar di wilayah yang luas. Pertanyaan angket dapat berupa jawaban tertutup dan terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung ataupun dikirim melalui pos dan internet.

Peneliti akan menggunakan teknik angket untuk memperoleh hasil penelitian yang signifikan serta dapat mengkomparasikannya dengan hasil dari teknik penelitian lainnya, seperti wawancara dan dokumentasi.

3.5     Teknik Analisis Data

Menurut Bogdan (Sugiyono, 2010:333) analisa data ialah “proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawncara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.”

Analisa data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menusun ke dalam pola-pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Analisa data yang akan peneliti gunakan ialah bersifat induktif, di mana analisanya berdasarkan data-data yang diperoleh selanjutnya akan dikembangkan pola hubungan tertentu atau menjadi hipotesis. Analisa ini dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan penelitian yakni ketika merumuskan dan menjelaskan masalah dan akan berlangsung sampai penulisan hasil penelitian.

Analisis statistika menggunakan uji hipotesis untuk melihat seberapa besar hubungan antara penguasaan kompetensi pedagogik guru pasca sertifikasi terhadap hasil kinerja, yang sebelumnya telah diujikan normalitas datanya. Apabila data setiap variabel yang akan dianalisis berdistribusi normal, maka peneliti akan menggunakan statistik parametris yaitu teknik korelasi product moment dengan rumus :

rxy =  

Keterangan :

rxy   =  koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y

x    =  X – X

y    =  Y – Y

Jika data tidak berdistribusi normal, maka teknik statistik parametris tidak dapat digunakan untuk alat analisis. Sebagai gantinya digunakan teknik statistik nonparametris. Untuk itu peneliti menggunakan teknik korelasi Spearman Rank, yang rumusnya sebagai berikut :

Tabel  Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi

Terhadap Koefisien Korelasi

Interval Koefisien

Tingkat Hubungan

0, 00  –  0, 199

0, 20  –  0, 399

0, 40  –  0, 599

0, 60  –  0, 799

0, 80  –  1, 000

Sangat rendah

Rendah

Sedang

Kuat

Sangat kuat

                                                                                                (Sugiyono, 2010:231)

 

  1. IV.    PEMBAHASAN

Guru sebagai seseorang yang memiliki “kekuasaan” untuk melakukan pembentukan perilaku di kelas sehingga perubahan tingkah laku siswa akan sejalan dengan tuntutan serta tugas perkembangannya. Guru sebagai arsitek dalam perubahan perilaku siswa dan sekaligus sebagai model panutan dituntut memiliki kompetensi yang nampak pada tabel berikut (Hanafiah, 2010:104).

1)    Aspek potensi siswa

2)    Teori belajar dan pembelajaran, strategi, kompetensi dan isi, serta merancang pembelajaran

3)    Menata latar dan melaksanakan

4)    Asesmen proses dan hasil

5)    Pengembangan akademik dan non akademik

1)    Norma hokum dan sosial, rasa bangga, konsisten dengan norma

2)    Mandiri dan etos kerja

3)    Berpengaruh positif dan disegani

4)    Norma religious dan diteladani

5)    Jujur

KEPRIBADIAN

Pemahaman siswa, perancangan, pelaksanaan, serta pengembangan siswa

Mantap dan stabil, dewasa, arif, berwibawa, dan akhlak mulia

Komunikasi dan bergaul dengan siswa, kolega, dan masyarakat

Menguasai keilmuwan bidang studi dan langkah kajian kritis pendalaman isi bidang studi

PROFESIONAL

SOSIAL

PEDAGOGIK

1)    Paham materi, struktur, konsep, metode keilmuwan yang menaungi, menerapkan dalam kehidupan sehari-hari

2)    Metode pengembangan ilmu, telaah kritis, kreatif, dan inovatif terhadap bidang studi

Menarik, empati, kolaboratif, suka menolong, menjadi panutan, komunikatif, dan kooperatif

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan dosen, diungkapkan bahwa, “sertifikasi merupakan pemberian sertifikat pendidikan untuk guru dan dosen”. Adapun sertifikasi pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga professional. Sertifikasi guru juga diartikan sebagai proses pemberian pengakuan bahwa seseorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan pada satuan, setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan lembaga sertifikasi. Pada tahun 2007, pemerintah RI telah melaksanakan sertifikasi guru secara bertahap dari 2, 7 juta guru PNS di Indonesia (Hanafiah, 2010:152). Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia bukan diakibatkan oleh rendahnya input pendidikan, tetapi akibat proses pendidikan yang tidak maksimal dan rendahnya kualitas guru.

Menjadi guru professional sesuai dengan tujuan sertifikasi dan yang tercantum dalam sertifikasi dalam sertifikat itu tidaklah mudah bagi guru untuk diaplikasikan di sekolah. Oleh karena itu, jika belum professional maka guru hendaknya mengikuti pelatihan-pelatihan, penelitian tindakan kelas, KKG serta MGMP agar bisa mencapai sebutan guru professional. Namun, yang menjadi persoalan sekarang ialah ketidakjelasan manfaat program sertifikasi guru dalam meningkatkan kinerja guru di Indonesia.

Hasil kajian Bank Dunia mengkonfirmasi kegagalan program sertifikasi guru di Indonesia. Tidak adanya hubungan yang jelas antara program sertifikasi dengan peningkatan mutu pembelajaran. Tak tanggung-tanggung Bank Dunia meneliti pelaksanaan setifikasi guru untuk kurun waktu 2009, 2011, dan 2012. Sasaran penelitian adalah 240 Sekolah Dasar, 120 Sekolah Menengah Pertama, 3000 guru, dan 90.000 siswa. Temuan yang mengejutkan. Pertama, sertifikasi tidak mengubah praktik mengajar dan perilaku guru. Kedua, peningkatan pendapatan guru yang lolos sertifikasi tidak ekuivalen dengan peningkatan mutu mengajar (www.jubile-jkt.sch.id/). Temuan dari kajian itu dipaparkan oleh Head of Human Development Sector Indonesia Bank Dunia, Mae Chu Chang pada pertemuan Organisasi Guru ASEAN di Denpasar, Bali menyebutkan bahwa belum jelasnya manfaat sertifikasi. Bahkan sejumlah penelitian membuktikan bahwa peningkatan profesionalisme pendidik tidak berpengaruh positif terhadap peningkatan mutu pendidikan, sehingga akan terlalu cepat untuk mengatakan bahwa relevansi kebijakan sertifikasi pendidik dengan peningkatan kesejahteraan pendidikan dan mutu pendidikan.

Pembinaan serta pemberdayaan kompetensi guru pasca sertifikasi akan ikut pula menentukan peningkatan mutu pendidikan. Dengan adanya KKG dan MGMP maka guru yang sudah dibekali dengan pendidikan kompetensi akan bisa saling berbagi pendapat dan meningkatkan kinerjanya sebagai guru yang professional. KKG dan MGMP merupakan wadah bagi guru untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi tugas keprofesionalannya. Selain itu, guru juga perlu diberdayakan kemampuannya dalam mengimplementasikan kompetensi yang telah ia miliki serta harus terus diberikan motivasi oleh pihak manajemen sekolah. Dengan demikian, meningkatanya penguasaan kompetensi guru maka akan meningkatkan kinerja guru yang akan berdampak pula pada meningkatnya kualitas pendidikan. Menurut Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jatim, Ikhwan Sumadi (Republika.co.id diakses tanggal 05 Januari 2012) mengatakan, kinerja guru sudah mulai meningkat.   “Guru-guru sekarang sudah mulai berlatih membuat penelitian hasil pembelajaran di kelas sehingga sertifikasi itu jelas berdampak. Kami harap tidak mudah menuding kinerja guru penerima sertifikasi tetap tidak meningkat,” ungkapnya. Lebih lanjut, Ikhwan mengungkapkan lebih dari 50 persen guru yang bersertifikasi telah meningkat kinerjanya. Dia menilai guru sudah lebih bersemangat ketika mengajar. “Mereka sudah mampu meningkatkan kualitas dalam proses pembelajaran,” tuturnya. Selama ini, dia mengaku PGRI telah mendorong guru penerima sertifikasi untuk terus meningkatkan kualifikasinya. Sertifikasi bukan hanya untuk mendapatkan tunjangan. “Kami mendorong para guru untuk meningkatkan kualitas, tidak hanya meminta haknya dapat tunjangan,” ujarnya.

Maka, perlu adanya peran utama dari pemerintah dalam memberdayakan kembali kemampuan guru-guru pasca sertifikasi. Dalam dunia pendidikan, pemberdayaan merupakan cara yang sangat praktis dan produktif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari kepala sekolah, para guru, dan para pegawai. Dalam standar kompetensi dan sertifikasi guru, pemberdayaan dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja sekolah, melalui kinerja guru agar dapat mencapai tujuan secara optimal, efektif, dan efisien. Pemberdayaan guru melalui standar kompetensi dan sertifikasi guru terjadi melalui beberapa tahapan (Hanafiah, 2010:161). Pertama, guru-guru mengembangkan sebuah kesadaran awal bahwa mereka bisa melakukan tindakan untuk meningkatkan kehidupannya dan memperoleh seperangkat keterampilan agar mampu bekerja dengan baik. Tahap kedua, mengurangi rasa ketidakmampuannya dan mengalami peningkatan kepercayaan diri. Tahap ketiga, seiring dengan tumbuhnya keterampilan dan kepercayaan diri, para guru bekerja sama untuk berlatih lebih banyak mengambil keputusan dan memilih sumber-sumber daya yang akan berdampak pada kesejahteraan.

Ada beberapa kelebihan dalam pemberian pemberdayaan kemampuan guru pasca sertifikasi. Pertama, kemampuan guru pasca sertifikasi tetap dapat terpantau. Kedua, memberikan up-grading serta follow up kemampuan guru yang masih dirasakan kurang memenuhi kompetensinya sebagai pendidik. Ketiga, penilaian kinerja nantinya akan menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam meningkatkan kualitas guru dan pendidikan pada umumnya.Kemudian, di samping kelebihan, maka ada kelemahan dalam teori ini, yakni, ketegasan pemerintah dalam memantau kinerja guru yang masih belum terlihat sehingga banyak guru yang tidak ter-up grade kemampuan serta kesdarannya untuk menjadi guru professional.

E. PENUTUP

  1. 1.        KESIMPULAN

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Guru dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama, yaitu: (1) kompetensi pedagogik, (2) kepribadian, (3) sosial, dan (4) professional. Maka setiap guru di Indonesia berkewajiban memiliki keempat standar kompetensi guru tersebut. Sehingga pemerintah memberikan suatu program PLPG untuk meningkatkan kualitas kompetensi guru yang nantinya diharapkan akan terjadi perbaikan kualitas ndalam proses pembelajaran dan akan berdampak pula pada perbaikan pendidikan di Indonesia.

Untuk mengetahui sejauh mana guru menguasai keempat kompetensi itu bisa dilihat melalui kinerja guru. Berdasarkan hasil penemuan peneliti di lapangan telah menunjukkan bahwa kinerja guru yang telah mengikuti program PLPG dan mendapatkan sertifikat PLPG, kinerja guru di Indonesia tidak mengalami perubahan secara signifikan. Oleh karena itu perlu diadakan tinjauan ulang mengenai kualitas out-put dari program PLPG dan hasil kinerja guru di lapangan yang mencakup proses perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi.

 

  1. 2.        SARAN

Berikut adalah beberapa saran yang bisa diberikan penulis:

  1. Guru

Perlu mengikuti diklat secara berkala untuk pembinaan dan pemberdayaan kembali dalam penguasaan kompetensi guru sehingga akan berdampak pada peningkatan kualitas kinerja guru

  1. Sekolah

Diharapkan kepala sekolah dapat memantau kinerja guru di sekolah dan hendaknya dilakukan evaluasi bersama dengan guru untuk meningkatkan keprofesionalismean guru

  1. Pemerintah

Pemerintah sebaiknya meninjau kembali pelaksanaan program PLPG serta menguji kinerja guru yang sudah mengikuti program PLPG lalu diberikanlah diklat sebagai follow up untuk terus meningkatkan keprofesionalismean guru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s