UTS Kurikulum dan Pembelajaran

Posted: November 26, 2012 in Makalah

UJIAN TENGAN SEMESTER

 

  1. Jelaskan istilah-istilah berikut:

a)    Kurikulum

b)   Pengembangan kurikulum

c)    Perubahan kurikulum

d)   Perbaikan kurikulum

e)    Pembinaan kurikulum

f)    Model kurikulum

JAWAB:

a)    Kurikulum

Ditinjau dari pengertian secara etimologis, kurikulum berasal dari kata curir yaitu pelari, dan curere yang artinya tempat berlari. Di sini, pengertian kurikulum dihubungkan dengan lintasan tempat berlari sehingga ditafsirkan ke dalam dunia pendidikan sebagai suatu rencana yang harus dipelajari oleh peserta didik dalm sistem pendidikan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kurikulum berarti sejumlah perangkat mata pelajaran yang diajarkan di lembaga pendidikan. Dalam Dictionary of Education dikatakan bahwa “curriculum is a general overall plan of the content or specific studies of that the school should offer the student by way qualifying him for graduation or certification or for entrance into a professional or a vocational field” (Good, Carter V. 1973:157).

 

b)   Pengembangan kurikulum

Pengembangan dapat diartikan sebagai proses serta cara yang dilakukan untuk membuat sesuatu itu menjadi besar, luas, atau banyak. Jika pengembangan dikaitkan dengan kurikulum maka dapat kita definisikan bahwa pengembangan kurikulum ini merupakan proses atau cara yang dilakukan oleh sejumlah praktisi serta pakar pendidikan dalam rangka menjadikan kurikulum lebih mantap dan ideal untuk dipakai dalam satuan pendidikan di suatu negara tertentu.

 

c)    Perubahan kurikulum

Perubahan di sini diartikan suatu keadaan di mana terjadi pertukaran dan/atau peralihan dari suatu bentuk ke bentuk lainnya. Dalam dunia pendidikan, perubahan kurikulum dimaksudkan sebagai keadaan pertukaran, peralihan, serta perombakan suatu kurikulum yang telah ada menjadi suatu kurikulum yang baru. Perubahan ini bukan berarti harus mengganti total keseluruhan komponen serta isi yang ada pada kurikulum yang lama melainkan bisa juga dengan menambah atau mengurangi kurikulum tersebut sehingga dirasa sudah pas untuk digunakan pada zamannya.

 

d)   Perbaikan kurikulum

Perbaikan diartikan sebagai perubahan yang akan mengakibatkan suatu benda atau keadaan dapat digunakan dalan jangka waktu yang cukup lama, produksi hasil/produk yang lebih banyak, serta adanya penekanan dalam biaya produksi. Jika kita kaitkan dengan istilah kurikulum, maka perbaikan kurikulum dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan merubah sedikit atau banyak dalam komponen atau isi kurikulum berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan sehingga kurikulum tersebut bisa dipakai untuk jangka waktu yang lama, memproduksi hasil/out-put yang lebih baik, serta adanya penekanan terhadap biaya dalam pendanaan pendidikan.

 

e)    Pembinaan kurikulum

Pembinaan dilakukan dalam rangka mengusahakan agar sesuatu itu lebih maju dan sempurna sehingga akan lebih bersifat efektif dan efisien untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Dalam hal pendidikan, pembinaan kurikulum ini merupakan segala usaha penyempurnaan yang dilakukan oleh sejumlah praktisi maupun pakar pendidikan agar proses pendidikan dapat berjalan berdasarkan asas efektif dan efisien sehingga akan mempermudah dalam mencapai hasil yang lebih baik, dalam hal ini out-put yang dihasilkan akan memberikan kontribusi yang lebih di dalam kehidupan masyarakat.

 

f)    Model kurikulum

Model diartikan sebagai suatu acuan, patokan, maupun pola dari sesuatu yang akan dibuat, dihasilkan atau digunakan sehingga menjadi terarah dan mempunyai dasar hukumnya. Dalam dunia pendidikan, model kurikulum ini diartikan sebagai acuan dasar maupun patokan dalam pengembangan jenis kurikulum yang akan digunakan selanjutnya sehingga akan jelas apa-apa saja yang dibutuhkan serta alur kerja dalam pengembangan kurikulum tersebut.

 

  1. Kemukakan empat pengertian kurikulum menurut para ahli dan menurut undang-undang sisdiknas (yang masih berlaku), kemudian buat sintesis substansi dari kurikulum merujuk pada keempat pengertian tersebut!

JAWAB:

a)    Pengertian kurikulum menurut ahli dan UU

  1. 1.      Pengertian Kurikulum menurut ahli
  • Hilda Taba (1962)

Curriculum is a plan for learning; therefore, what is known about the learning process and the development of the individual has beating on the shaping of a curriculum”

Menurut Hilda Taba, kurikulum adalah sebuah perencanaan dalam pembelajaran; Oleh karena itu, segala sesuatu mengenai apa yang diketahui tentang proses pembelajaran dan perkembangan seorang individu telah tercantum dalam bentuk sebuah kurikulum.

  • Peter F. Olivia (2004)

“Curriculum is a plan or program for all experiences when the learner encounters under the direction of the school”

Peter Olivia mengemukakan bahwa pengertian kurikulum adalah sebuah rencana atau program untuk segala jenis pengalaman di mana ketika pembelajar berada di bawah arahan dari pihak sekolah.

  • Prof. Dr. H. Engkoswara, M.Ed

Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia ini telah merumuskan beberapa pengembangan dari definisi kurikulum, yakni sebagai berikut:

  1. K = ————-, artinya kurikulum adalah jarak atau lintasan yang harus ditempuh oleh pelari.
  2. K = ∑ MP, artinya kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik.
  3. K =  ∑ MP + KK, artinya kurikulum  adalah sejumlah mata pelajaran serta kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan sekolah yang harus ditempuh oleh peserta didik.
  4. ∑ MP + KK + SS + TP, artinya kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran dan kegiatan-kegiatan dan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap pembentukan pribadi peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau sekolah.

Sehingga berdasarkan formulasi dari kurikulum di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kurikulum merupakan serangkaian cakupan beberapa mata pelajaran tertentu serta beberapa kegiatan pembelajaran yang telah direncakan dan harus ditempuh oleh peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau sekolah.

  • L. Thomas Hopkins (1941)

The curriculum is a design made by all of those who are most intimately concerned with the activities of the life of the children while they are in school”

Beliau mengungkapkan bahwa kurikulum itu merupakan suatu rancangan yang dibuat dengan memperhatikan pendekatan aktivitas individu (peserta didik) di sekolah.

 

  1. 2.      Pengertian kurikulum dalam Pasal 1 butir 19 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

“Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”

 

b)   Substansi kurikulum

  1. Tujuan Pendidikan

Tujuan berisi arah atau hasil yang ingin dicapai setelah dilaksanakannya pembelajaran. Tujuan pendidikan ada yang jangka pendek dan jangka panjang. Di sini juga terdapat berbagai macam tujuan dalam pendidikan, yakni: a) tujuan pendidikan nasional, bersifat umum dan merupakan tujuan global dari setiap usaha pendidikan yang dilakukan yang tertuang dalan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003; b) tujuan institusional, berrati tujuan yang hendak dicapai oleh institusi yakni sekolah,  di mana tujuan ini dihubungkan dengan tujuan umum dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan yang mencakup standar kompetensi pendidikan dasar, menengah, kejuruan, dan jenjang pendidikan tinggi; c) tujuan kurikuler, ialah tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi tertentu sehingga masing-masing mata pelajaran berbeda-beda tujuannya; d) tujuan instruksional (tujuan pembelajaran, ialah penjabaran khusus dari tujuan kurikuler di mana akan terdapat suatu kompetensi khusus yang akan dicapai siswa setelah pembelajaran, yang biasanya meliputi kompetensi dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

  1. Isi/materi

Isi mencakup muatan materi ajar yang akan disampaikan guru ke siswa yang didasari karakteristik siswa, lingkungan, serta tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan harus menggambarkan aspek pengetahuan yang akan didapatkan oleh siswa setelah pembelajaran berakhir (bermakna).

  1. Metode

Metode lebih mencakup bagaimana siswa dapat memperoleh muatan pengetahuan dalam rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran. Di sini ditekankan siswalah yang banyak melakukan aktivitas pembelajaran, guru hanya sebagai fasilitator.

  1. Evaluasi

Evaluasi merupakan kgiatan akhir dalam kurikulum, di mana akan terjadi proses penilaian dalam pembelajaran, bagaimana out-put yang dihasilkan apakah sesuai dengan tujuan pendidikan ataukah belum, apa-apa saja kendalanya, dan apa yang harus dilakukan untuk perbaikannya. Keberhasilan dalam pencapaian tujuan tidak terlepas dari alat evaluasinya, yakni tes dan non-tes yang dapat menunjang pemerolehan informasi yang didapat mengenai pelaksanaan pembelajaran.

 

  1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan landasan pengembangan kurikulum; Hal-hal yang menjadi landasan pengembangan kurikulum; dan apa yang akan terjadi seandainya pengembangan kurikulum tidak memperhatikan landasan-landasan tersebut!

JAWAB:

a)      Pengertian landasan pengembangan kurikulum

Menurut Hornby (MKDP, 2012:16), “landasan adalah suatu gagasan atau kepercayaan yang menjadi sandaran, sesuatu prinsip yang mendasari”. Dengan demikian jika kata landasan digandeng dengan kata pengembangan kurikulum yang telah saya kemukakan pada jawaban soal no 1 item (b) maka landasan pengembangan kurikulum berarti segala prinsip atau kepercayaan atau panduan/acuan ataupun asumsi yang mendasari dalam proses atau cara untuk menjadikan atau mengembangkan kurikulum lebih mantap dan ideal untuk dipakai dalam satuan pendidikan.

 

 

b)      Landasan pengembangan kurikulum

Dalam pengembangan kurikulum, terdapat empat landasan yang mendasarinya:

  1. Landasan Filosofis

Seperti yang kita ketahui bahwa falsafah Negara Indonesia adalah Pancasila yang dijadikan pandangan hidup dan sebagai acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Peranan Pancasila ini ialah menentukan dan memberikan arah tujuan pendidikan sehingga akan adanya kejelasan apa yang harus dicapai oleh peserta didik selama kegiatan pendidikan berlangsung.

Dalam hal perumusan tujuan pendidikan, penyusunan program-program pendidikan, pemilihan dan penggunaan pendekatan atau strategi pendidikan, kegiatan dari pendidik/peserta didik harus dilakukan sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia, yakni Pancasila.

  1. Landasan Psikologis

Setiap peserta didik adalah individu-individu dengan kepribadian yang beragam. Begitupun dengan perilaku. Maka tujuan akhir dari pendidikan ialah pembentukan pribadi yang dewasa baik fisik, mental, emosional, moral/akhlakul karimah, intelektual, serta interaksi dalam kehidupan sosialnya. Dalam hal ini, diharapkan seyogyanyalah kurikulum harus memperhatikan proses perubahan tingkah laku peserta didik yang akan mampu mengembangkan kemampuan/potensi peserta didik baik dalam bidang akademik maupun non-akademik.

Ada dua cabang psikologi yang hendaknya diperhatikan dalam landasan pengembangan kurikulum, yakni:

a)       Psikologis perkembangan, di mana aspek psikologis ini mempelajari periode perkembangan fisik peserta didik berdasarkan usia masa sekolah.

b)      Psikologis belajar

Hal-hal yang berkenaan dengan psikologis belajar ini ialah tentang teori-teori belajar yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Sebagai guru, penting sekali untuk dipahami bagaimana teori belajar ini sedikit banyak mempengaruhi lahirnya berbagai pendekatan-pendekatan dalam pembelajaran sehingga untuk peserta didik yang sedang mengalami proses belajar akan mampu mencapai tujuan pendidikan yang sudah dirumuskan sebelumnya. Berikut adalah beberapa teori-teori belajar:

  1. Teori Psikologi Kognitif (Kognitivisme)

Teori kognitif ini merupakan teori pengolahan informasi sehingga manusia aktif dalam merekonstruksi, mencari, serta mengolah informasi dalam pemecahan masalah dan mengorganisasikan informasi yang telah ia ketahui untuk mendapatkan pemahaman baru.

  1. Teori Psikologi Behavioristik

Teori behavioristik agak berbeda dengan teori kognitif, di mana penganut aliran behavioristik ini menganggap bahwa anak tidaklah membawa potensi apapun ketika lahir melainkan perkembangannya terjadi akibat faktor-faktor yang berasal dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.

  1. Teori Psikologi Hunanistik

Teori ini menganut paham bahwa keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh intelegent dan emosional pribadi itu sendiri, tidak ada faktor eksternal yang mempengaruhi. Dorongan belajar dan keingintahuan hanya berasal dari dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, teori belajar ini menekankan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran.

  1. Landasan Sosiologis

Landasan sosiologis dalam pengembangan kurikulum adalah anggapan atau pandangan yang bersumber dari aspek sosiologi (lingkungan sosial, masyarakat) yang dijadikan sebagai titik tolak dalam mengembangkan sebuah kurikulum. Pada dasarnya tujuan pendidikan ialah memberikan out-put yang dapat berbaur dengan masyarakat dan menggunakan skill serta ilmunya demi kemaslahatan umat manusia. Sehingga keragaman serta karakteristik budaya dalam masyarakat sangatlah penting untuk diperhatikan dalam mengembangkan kurikulum. Sehingga pendidikan juga dipandang sebagai proses memanusiakan manusia yang berbudaya.

  1. Landasan Teknologis

Teknologi merupakan aplikasi dari penerapan ilmu-ilmu yang didapatkan dalam proses pendidikan sebelumnya yang digunakan untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam kehidupan. Pendidikan harus mengikuti perkembangan teknologi masa kini agar keluaran dari pendidikan pun bisa beradaptasi dengan lingkungan global dan mampu mengaplikasikan ilmunya dengan baik. Kemudian pada akhirnya kemajuan teknologi pun dimanfaatkan sebagai aspek penunjang dalam pelaksanaan program pendidikan.

 

c)      Pentingnya landasan pengembangan kurikulum

Sebelum menjawab pertanyaan bagaimana jika pengembangan kurikulum tidak memperhatikan landasan-landasan pengembangan kurikulum, saya ingin memberikan sedikit kritik mengapa landasan teologis tidak ada? Menurut saya landasan teologis harus terpisah dari landasan sosiologis. Jikalau landasan teologis ada, maka setiap praktisi pendidikan akan memperhatikan aspek-aspek agama, akhlak, dan moral sehingga akan membentuk karakter baik dari peserta didik.

Baiklah, sekarang bagaimana jika ada satu saja landasan pengembangan kurikulum yang dimasukkan dalam proses penyusunan kurikulum maka akan robohlah sistemn pendidikan. Kita tahu bahwa landasan merupakan fondasi dasar dalam proses pembentukan kurikulum. Seperti halnya bangunan rumah, jika fondasinya lengkap dan kokoh maka bangunan rumah itu pun akan tetap berdiri dan tahan lama. Sehingga jika dalam proses pendidikan, kurikulum tidak berdasarkan keempat landasan tersebut maka akan terjadilah ketimpangan dalam pendidikan. Misalnya jika pengembangan kurikulum tidak memasukkan aspek sosilogis maka out-put dari pendidikan tidak akan pernah mencapai kepuasan dari masyarakat. Begitupun dengan landasan filosofis, psikologis, dan iptek. Jika salah satu saja tidak dimasukkan ke dalam  pengembangan kurikulum maka jangan harap mendapatkan pondasi kuat dalam pendidikan.

  1. Coba Anda jelaskan sekaitan dengan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum!

JAWAB:

Prinsip berarti asas atau kebenaran yang dijadikan rujukan atau pokok dasar dalam berpikir dan bertindak. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum diartikan sebagai sesuatu yang dijadikan patokan dalam menentukan berbagai hal yang berkenaan dengan proses pengembangan kurikulum.

Ada dua jenis prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum, yakni:

a)      Prinsip Umum

Prinsip umum dimaksudkan sebagai prinsip yang biasanya digunakan untuk semua jenis pengembangan kurikulum sehingga fleksibel digunakan oleh semua kalangan atau negara. Prinsip umum ini meliputi:

  1. Relevansi

Relevansi berarti sesuai sehingga dimaksudkan bahwa dalam pengembangan kurikulum haruslah bersifat relevan. Relevansi ada dua, yakni: a) relevansi internal, yaitu berkenaan dengan kesesuaian antara setiap komponen kurikulum yang akan dikembangkan, misalnya kesesuaian antara isi, metode, sumber, alat evaluasi; b) relevansi eksternal, yaitu berkenaan dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat serta dinamika perkembangan sosial di mana siswa akan hidup di dalamnya.

  1. Fleksibel

Flesibel berarti luwes, dalam artian dalam pengembangan kurikulum yang dirancang untuk mencapai suatu tujuan tertentu dapat digunakan sesuai dengan inovasi dan kreativitas dari masing-masing satuan pendidikan. Walaupun standar kompetensi dan kompetensi dasar diberikan oleh pemerintah sama untuk semua sekolah, tetapi cara penyampaian dan materinya disesuaikan dengan masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan karakteristik siswa dan lingkungan di mana siswa tinggal.

  1. Kontinuitas

Kontinuitas berarti berkesinambungan. Setiap kurikulum yang akan dikembangkan harus memiliki keterkaitan antara satu jenjang pendidikan ke jenjang pendidikan lainnya. Dan urutan materinya juga didasarkan dari yang mudah (sebagai prasyarat pembelajaran) menuju yang kompleks sehingga ketika siswa telah berada di jenjang pendidikan tinggi mereka bisa menerapkan ilmu tersebut di dalam kehidupan masyarakat.

  1. Praktis atau Efisiensi

Praktis berarti dapat digunakan atau diterapkan sehingga pengembangan kurikulum harus mempertimbangan manfaat praktis dari pencapaian tujuan pendidikan dalam kehidupan masyarakat. Kemudian efisien berarti tepat guna guna di mana tidak akan terjadi pemborosan dalam hal pembiayaan sehingga kurikulum hendaknya bisa diterapkan tanpa memerlukan peralatan yang terlalu mahal dan langka jumlahnya.

  1. Efektivitas

Efektif dalam artian bahwa kurikulum yang dikembangkan haruslah berorientasi pada tujuan pendidikan yang akan dicapai sehingga segala sumber daya yang ada harus bisa menjamin ketercapaian hasil yang optimal.

b)      Prinsip Khusus

  1. Berkenaan dengan tujuan pendidikan

Tujuan pendidikan mencakup tujuan umum (jangka panjang), jangka menengah, dan jangka pendek (khusus). Rincian tujuan pendidikan didasarkan pada: a) ketentuan dan kebijakan pemerintah; b) survey tentang kebutuhan masyarakat; c) survey pandangan ahli; d) survey mengenai manpower; e) pengalaman negara lain; f) penelitian

  1. Berkenaan dengan isi pendidikan

Ada beberapa pertimbangan yang berkenaan dengan isi pendidikan: a) menkhususukan tujuan pendidikan, kurikulum, dan pembelajaran ke perilaku hasil belajar khusus; b) isi bahan pelajaran meliputi kognitif, afektif, dan psikomotorik; c) komponen kurikulum harus disusun secara logis dan sistematis.

  1. Berkenaan dengan proses pembelajaran

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran: a) strategi/teknik/metode pembelajaran yang akan digunakan; b) strategi/teknik/metode hendaknya memperhatiak setiap perbedaan individu; c) strategi/teknik/metode memberikan sistematika proses pembelajaran; d) strategi/teknik/metode dapat memfasilitasi pencapaian tujuan kognitif, afektif, dan psikomotorik; e) strategi/teknik/metode harus berorientasi kepada siswa; f) strategi/teknik/metode harus bisa mendorong terbentuknya pengetahuan baru; g) strategi/teknik/metode melatih mobilitas belajar siswa di rumah; h) Penekanan “learning by doing”

  1. Berkenaan dengan media dan alat bantu pembelajaran

Pembelajaran yang efektif dan efisien hendaknya menggunakan media dan alat bantu belajar lainnya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan: a) Ketersediaan media dan alat bantu belajar; b) proses pembuatan media dan alat bantu belajar; c) pengorganisasian media dan alat bantu belajar; d) dapat mengintegrasi seluruh kegiatan pembelajaran; e) penggunaan multimedia

  1. Berkenaan dengan evaluasi

Prinsip-prinsip evaluasi, yakni: a) objektivitas, di mana penilaian harus berdasarkan apa yang akan dinilai; b) komprehensif, penilaian dilakukan menyeluruh sesuai dengan tingkatan kognitif, afektif, dan psikomotor; c) kooperatif, dilakukan secara bersama-sama dengan setiap pihak komponen pendidikan; d) mendidik; e) akuntabilitas, dapat dipertanggungjawabkan hasilnya; dan f) praktis

Jika dalam pengembangan kurikulum tidak memasukkan salah satu dari semua prinsip yang telah dikemukakan di atas maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam penyusunan isi kurikulum dan otomatis kurikulum itu tidak akan pernah bisa mencapai tujuan dari pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya.

 

  1. Kemukakan tiga model pengembangan kurikulum! Merujuk pada  ketiga model pengembangan kurikulum tersebut, menurut Anda, kurikulum yang berlaku sekarang menggunakan model yang mana? Kemudian, model manakah yang akan Anda gunakan jika Anda menjadi salah satu anggota tim pengembangan kurikulum di sekolah/daerah Anda!

JAWAB:

Model adalah desain, pola, contoh, acuan, panduan dari sesuatu yang akan dihasilkan. Jika kita hubungkan dengan model pengembangan kurikulum maka dapat diartikan suatu desain atau panduan dari suatu bentuk kurikulum yang akan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum berikutnya. Ada beberapa tipe model pengembangan kurikulum yang biasa dijadikan acuan, yakni:

a)      Model Administratif

Model pengembangan kurikulum ini merupakan tipe top-down approach. Artinya, bahwa pengembangan kurikulum dilakukan oleh kalangan atas praktisi pendidikan kemudian dilaksanakan sepenuhnya oleh guru dan pihak sekolah. Perhatikan gambar berikut:

 

       
 

Tim Penyusun

 

 
     
 
 

Sekolah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikut langkah-langkah perumusan pengembangan kurikulum menurut model administratif:

  1. Semua ide dalam pengembangan kurikulum berasal dari pejabat tingkat atas pembuatan keputusan dan kebijakan mengenai pengembangan kurikulum, mulai dari konsep-konsep umum, landasan, maupun strategi
  2. Pembentukan tim pelaksana pengembangan kurikulum, yakni yang terdiri dari ahli pendidikan, ahli kurikulum, para ahli disiplin ilmu, tokoh masyarakat, tim pelaksana pendidikan, dan pihak dunia kerja
  3. Kemudian para tim mengembangkan konsep-konsep umum, landasan, rujukan, maupun strategi pengembangan kurikulum yang merujuk kepada tujuan pendidikan, penyusunan isi/materi pelajaran, proses pembelajaran, dan penilaian hasil belajar
  4. Dilakukanlah uji coba dan pengkajian tingkat validitas ke beberapa sekolah yang beberapa sekolah representative dan melibatkan kepala sekolah dan guru-guru yang tidak dilibatkan dalam pengembangan kurikulum
  5. Sistem monitoring dan evaluasi dari kurikulum yang diujicobakan
  6. Kemudian setelah didapatkan hasil maka akan dilakukan sosialisasi kepada seluruh sekolah di seluruh wilayah dan akan dilakukan seragam dan serentak sehingga bersifat sentralistik
  7. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kurikulum

 

 

 

 

 

 

Berikut alurnya:

 

 

Model kurikulum ini dianggap kurang efektif untuk diterapkan di Indonesia mengingat sistem pemerintahan negara kita adalah desentralisasi dan juga kemajemukan budaya yang tidak memungkinkan adanya penyamarataan sistem pendidikan di setiap daerah.

b)      Model Grass-Roots

Model Grass-Roots merupakan kebalikan dari model administratif, yakni model Grass-Roots bersifat bottom-up yang berarti mengutamakan peranan dari kalangan bawah ) dalam hal ini guru yang melakukan pengembangan kurikulum karena dirasa bahwa gurulah yang mengetahui kondisi lingkungan di sekolah. Maka dengan bekerja sama dengan kepala sekolah, pihak stakeholder, kemudian beberapa praktisi pendidikan mereka mengembangkan kurikulum yang akan diimplementasikan. Namun, pengembangan kurikulum ini tidak mesti keseluruhan kurikulum melainkan bisa hanya beberapa bagian atau aspek tertentu saja sesuai kebutuhan dan hanya berlaku untuk beberapa bidang studi dan sekolah-sekolah tertentu.

 

 

 

Perhatikan gambar di bawah.

 

           
   

Pemerintah

 

 
     
 
 

Sekolah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Adapun langkah-langkah dalam proses pengembangan kurikulum model Grass-Roots yakni bottom-up yakni:

  1. Guru menentukan ide awal dari hal-hal apa saja yang berkenaan dengan pengembangan kurikulum
  2. Dilakukannya pengembangan kurikulum secara kooperatif mulai dari tujuan, pemilihan bahan materi, proses pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar
  3. Kemudian dilakukan uji coba validasi
  4. Lalu merevisi dan mengevaluasi dari hasil ujicoba tersebut
  5. Setelah didapatkan hasil yang pas maka akan diminta pengesahan hukum dari pemerintah mengenai pelaksanaan kurikulum
  6. Pelaksanaan kurikulum di lapangan
  7. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kurikulum

 

 

 

 

 

 

Secara gamblang alur pelaksanaan model kurikulum Grass-Roots sebagai berikut:

 

Model pengembangan kurikulum Grass-Roots ini baik digunakan jika memang benar-benar berdasarkan sikap kritis guru yang menginginkan adanya perbaikan kurikulum berdasarkan temuan masalah di lapangan. Sehingga hanya bisa dilakukan oleh guru-guru cakap dan kritis serta mempunyai semangat berinovasi dan kreatif serta profesionalisme yang tinggi. Namun, penggunaan hak secara demokratis oleh guru dan pihak sekolah dikhawatirkan akan menyebabkan kelalaian dari kebijakan yang diberikan oleh pemerintah pusat.

c)      Model Sentral-Desentral

Adapun model pengembangan kurikulum sentral-desentral ialah model pengembangan kurikulum yang menggabungkan kedua model pengembangan sebelumnya, yakni: Model Administratif dan Model Grass-Roots di mana terjadinya kerja sama antara pihak pejabat tinggi pendidikan dengan para guru-guru di lapangan. Di dalam model ini, ide pengembangan kurikulum berasal dari pusat tetapi dalam pelaksanaannya guru dan pihak sekolah diberikan keluwesan dalam pelaksanaannya sesuai dengan kebutuhan sekolah, karakteristik siswa dan lingkungan, serta tuntutan masyarakat sekitar. Guru yang mengetahui kondisi di lapangan dirasa mempunyai otoritas menentukan apa yang akan ia lakukan dalam memfasilitasi pengembangan kemampuan siswa dalam pencapaian tujuan pendidikan yang dirancang oleh pemerintah pusat. Sehingga model ini disebutlah model sentar-desentral karena menggabungkan dua ide, yakni ide atas dan ide bawah.

 

       
 

Pemerintah

 

 
     
 
 

Sekolah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lahirnya ide model pengembangan kurikulum sentral-desentral karena adanya faktor-faktor kelemahan dari masing-masing model administratif dan model Grass-Roots sehingga model sentral-desentral ini berusaha menutupi kelemahannya dan saling mengisinya dengan menggunakan kelebihan-kelebihan model-model sebelumnya.

Jika dibuat alur pelaksanaan model pengembnagan kurikulum sentral-desentral adalah sebagai berikut:

 

 

Arus pelaksanaan model sentral-desentral ini berupa siklus di mana setelah evaluasi dari hasil pelaksanaan kurikulum maka pemerintah akan menuangkan ide apa yang harus dilakukan atau tindak lanjut setelah melihat hasil evaluasi. Jika dirasa masih cocok untuk dilakukan dan sesuai dengan perkembangan zaman maka kurikulum tersebut akan tetap lanjut untuk dilaksanakan. Sedangkan jika tidak sesuai dengan hasil dan tujuan pendidikan yang diharapkan serta terkesan out-of-date maka pemerintah kembali memikirkan ide dalam pengembangan kurikulum.

       Dari ketiga jenis model pengembangan kurikulum yang telah dikemukakan di atas maka saya mengambil kesimpulan bahwa kurikulum yang sedang berlaku di Indonesia saat ini, yakni KTSP menggunakan model pengembangan kurikulum sentral-desentral karena seperti yang telah kita ketahui bahwa standar kompetensi lulusan, standar kompetensi, serta kompetensi dasar ditentukan oleh pemerintah pusat tetapi dalam penentuan indicator hasil belajar, proses pembelajaran, strategi pembelajaran, sumber, serta evaluasi dilaksanakan oleh guru. Kemudian hasil dari pembelajaran tersebut akan dikembalikan lagi ke pemerintah pusat dan penilain akhir akan dilakukan oleh pemerintah pusat melalui Ujian Nasional.

Namun, jika saya menjadi seorang anggota tim pengembangan kurikulum maka saya setuju dengan pelaksanaan kurikulum KTSP tetapi yang perlu diubah ialah pada saat penilaian hasil belajar akhir, pemerintah sebaiknya tidak menilai secara rata kemampuan siswa melalui Ujian Nasional yang di mana soal diberikan sama tingkatan kesukarannya di seluruh daerah di Indonesia padahal setiap siswa di daerah mempunyai karakteristik yang berbeda. Sehingga penting untuk mengembalikan penilaian akhir kepada masing-masing satuan pendidikan atau pihak sekolah yang lebih mengetahui kondisi di lapangan, sehingga pemerintah hanya menerima hasil dan pelaporan pelaksanaannya saja.

Kemudian, saya juga akan mengusulkan pemangkasan materi yang cenderung agak berlebihan untuk “dimakan” oleh siswa. Kita dalam merumuskan kurikulum merujuk kepada karakteristik siswa dan perbedaan individu siswa sehingga dengan banyaknya muatan materi yang harus diajarkan guru, maka guru menjadi malas untuk berinovasi dalam mengembangkan strategi pembelajaran karena tuntutan untuk menuntaskan semua materi ajar. Sehingga metode klasikal catat buku sampai habis, metode ceramah, kemudian penggunaan buku LKS yang hanya memprioritaskan penuntasan aspek kognitif saja dan tidak adanya penanaman nilai dan keterampilan pada generasi penerus bangsa.

Selanjutnya, ide lain yang akan saya kemukakan ialah perlu adanya tambahan penganggaran dalam penyediaan kurikulum berbasis karakter. Pendidikan karakter perlu dan sangat urgen sifatnya untuk dijadikan sebagai suatu kurikulum tersendiri sehingga tidak akan ada lagi kasus kekerasan pelajar atau genk-genk pelajar, tawuran, serta pelecehan seksual yang pelakunya adalah pelajar.

 

  1. Kemukakan rasional dilakukannya evaluasi kurikulum! Kemudian seandainya Anda diminta untuk menilai sejauh mana ketercapaian tujuan kurikulum setelah proses implementasi dilaksanakan, model evaluasi kurikulum manakah yang akan digunakan? Kemukakan alasan pemilihan model evaluasi tersebut! Uraikan pula langkah-langkah umum dari proses evaluasi yang akan dilakukan!

JAWAB:

Dalam setiap pelaksanaan program apapun termasuk program pembelajaran mesti diadakannya evaluasi mengenai bagaimana proses pelaksanaannya; apakah berlangsung dengan baik, perlukan perbaikan, adakah yang harus ditambahkan ataupun dikurangi, bagaimana dampaknya terhadap lingkungan sekitar (masyarakat). Maka dalam pengembangan kurikulum pun ada yang namanya proses evaluasi kurikulum yang telah digunakan sebagai acuan atau cerminan dalam melihat sejauh mana keefektifan pelaksanaan kurikulum tersebut. Nanti hasil dari evaluasi inilah yang akan menentukan keputusan untuk melakukan perubahan kurikulum selanjutnya, kemudian apakah akan tetap disebarluaskan ataukah diganti dengan pengembangan kurikulum yang lain.

Kita perlu ketahui bahwasanya tujuan dalam evaluasi kurikulum ini adalah untuk perbaikan program, pertanggungjawaban kepada berbagai pihak, dan penentuan tindak lanjut hasil pengembangan. Evaluasi mengkaji bagaimana kurikulum baru disebarluaskan ke dalam sistem yang ada. Sebelum membahasa model evaluasi mana yang baik untuk digunakan dalam mengevaluasi kurikulum, sebaiknya kita ketahui terlebih dahulu beberapa model evaluasi kurikulum.

Ada beberapa model evaluasi kurikulum, yakni:

a)      Measurement

Pada model measurement, evaluasi kurikulum dititikberatkan pada perilaku siswa yang menunjukkan perbedaan individual maupun kelompok. Hasil evaluasi ini dapat dipergunakan untuk keperluan seleksi siswa, bimbingan pendidikan, dan perbandingan efektivitas antara dua atau lebih program atau metode pendidikan. Sehingga evaluasi dititikberatkan pada aspek kognitif siswa dan diukur dengan instrument evaluasi. Berikut cara-cara yang ditempuh dalan evaluasi measurement:

  1. Menempatkan kedudukan setiap siswa dalam pengelompokkan melalui pengembangan norma kelompok dalam evaluasi hasil belajar
  2. Membandingkan hasil belajar antara dua atau lebih kelompok yang menggunakan program atau metode pengajaran yang berbeda-beda melalui analisis secara kuantitatif
  3. Teknik evaluasi yang digunakan terutama tes yang disusun dalam bentuk objektif, terus dikembangkan untuk menghasilkan alat evaluasi yang reliable dan valid.

Dalam pelaksanaannya, model evaluasi ini hanya menekankan pada evaluasi pengukuran hasil belajar pada aspek kognitif.

b)      Congruence

Evaluasi menurut model Congruence ini untuk memeriksa adakah hubungan linier antara tujuan pendidikan dan hasil belajar. Hasil evaluasi ini untuk melihat sampai di mana perubahan hasil pendidikan telah tercapai dan diperlukan dalam rangka penyempurnaan program, bimbingan pendidikan dan pemberian informasi kepada pihak-pihak di luar pendidikan. Cara yang ditempuh dalam evaluasi Congruence, yakni:

  1. Penggunaan langkah pre-test dan ­post-test dengan menempuh langkah-langkah pokok sebagai berikut: penegasan tujuan, pengembangan alat evaluasi, dan penggunaan hasil evaluasi
  2. Analisa hasil evaluasi dilakukan per-substansi kurikulum
  3. Teknik evaluasi mencakup tes dan teknik-teknik evaluasi lainnya yang dianggap cocok untuk menilai berbagai jenis perilaku dalam tujuan pendidikan
  4. Kurang menyetujui diadakannya evaluasi perbandingan antara dua atau lebih program

Dalam evaluasi ini, hanya ditekankah keterhubungan antara tujuan pendidikan dan hasil belajar padahal evaluasi kurikulum itu hendaknya memperhatikan input dan proses belajar-mengajar.

c)      Illumination

Pada evaluasi Illumination dititikberatkan pada pertimbangan yang hasilnya sangat diperlukan dalam menyempurnakan kembali program yang telah dibuat. Objek evaluasi ini meliputi latar belakang dan perkembangan program, program pelaksanaan, hasil belajar, dan kesulitan-kesulitan yang dialami. Langkah-langkahnya:

  1. Menggunakan prosedur Progressive focusing dengan langkah pokok: orientasi, pengamatan, dan analisis sebab-akibat
  2. Bersifat kualitatif: terbuka, dan fleksibel-eklektif
  3. Teknik evaluasi mencakup: obesrvasi, wawancara, angket, analisis dokumen, tes

Konsep evaluasi pada model ini dirasa cukup baik tetapi ada sisi kelemahan dari model ini, yakni pada saat pelaksanaannya di mana kegiatan evaluasi tidak didahului oleh adanya perumusan kriteria yang jelas sebagai dasar pelaksanaan dan penyimpulan hasil evaluasi.

d)     Educational Sistem Evaluation

Evaluasi ini berdasarkan perbandingan antara performance setiap dimensi program dan kriteria, yang akan berakhir dengan suatu deskripsi dan judgement. Objek evaluasi ini mencakup input (bahan, rencana, alat), proses, dan hasil yang dicapai dalam arti yang lebih luas. Prosedur yang ditempuh yakni:

  1. Membandingkan performance setiap dimensi program dengan kriteria internal
  2. Membandingkan performance program dengan menggunakan kriteria
  3. Eksternal, yaitu performance program yang lain
  4. Teknik evaluasi mencakup: tes, observasi, wawancara, angket, dan analisa dokumen.

Model evaluasi ini dianggap terlalu memberi kesimpulan mengenai kebaikan program secara komprehensif. Dalam membandingkan kurikulum yang baru dan kurikulum yang ada didapatlah hasil berdasarkan pengalaman-pengalaman lalu bahwa tidak adanya perbedaan yang berarti antara kedua kurikulum tersebut. Kemudian persoalan selanjutnya, bagaimana jika kurikulum yang baru tidak memberikan perbaikan yang berate maka akan ada ketimpangan antara masalah pembiayaan dan psikologis siswa.

e)      CIPP

Model ini menitikberatkan pada pandangan bahwa pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor: karakteristik peserta didik dan tujuan program, dan peralatan yang digunakan, serta prosedur, dan mekanisme pelaksanaan program itu sendiri. Evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk membandingkan performance atau kinerja dari berbagai dimensi program dengan beberapa kriteria tertentu untuk mendapatkan pertimbangan mengenai kekuatan maupun kelemahan dari kurikulum tersebut.

Model evaluasi ini mendeskripsikan evaluasi kurikulum yang cukup luas, mulai dari konteks, masukan (input), proses, dan produk atau hasil.

  1. Konteks (content)

Konteks biasanya dipengaruhi oleh kondisi yang melatarbelakangi yang memberikan masukan terhadap pengembangan kurikulum, seperti: kebijakan pemerintah, tujuan pendidikan, dan ketenagaan pendidikan.

  1. Masukan (input)

Berkaitan dengan bahan, peralatan, sarana, fasilitas yang sudah disiapkan seperti dokumen kurikulum, tenaga pengajar, fasilitas belajar seperti media.

  1. Proses (process)

Berkaitan dengan implementasi di lapangan tentang pembelajaran di kelas, kegiatan evaluasi, dan pengelolaan kurikulum pembelajaran.

  1. Produk (product)

Produk berarti hasil secara komprehensif yang telah dicapai oleh pengembangan kurikulum tersebut. Ada evaluasi jangka pendek dan jangka panjang.

 

Maka setelah mengenal beberapa model evaluasi pengembangan kurikulum maka saya mengambil kesimpulan bahwa model evaluasi CIPP merupakan model evaluasi yang ideal untuk digunakan karena keempat komponen atau kriteria dalam model evaluasi tersebut telah mencakup keseluruhan dimensi kurikulum, yakni konteks, input, proses, dan produk. Saya mencoba menguraikan kembalai bagaimana pelaksanaan model evaluasi CIPP sebagai berikut:

  1. Pada model evaluasi CIPP, huruf C berarti contect di mana kita dapat artikan sebagai keadaan atau kondisi yang dapat mempengaruhi atau menjadi latar belakang yang sedikit banyak mempengaruhi proses pengembangan kurikulum. Langkah ini menganalisis terlebih dahulu kebijakan pemerintah mengenai kurikulum kemudian selanjutnya tujuan pendidikan ditentukan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, lalu menyelidiki apa-apa saja yang menjadi masalah dalam ketenagaan kependidikan.
  2. Yang kedua I ialah input, di sini berarti evaluasi pengembangan kurikulum berkenaan dengan masukan yang dapat mendukung pencapaian tujuan pendidikan. Biasanya meliputi dokumen kurikulum seperti silabus, dan perangkat RPP, lalu staf pengajar serta sarana dan fasilitas yang tersedia di sekolah tersebut.
  3. Yang ketiga P ialah process, berkaitan dengan pelaksanaan dari kurikulum yang meliputi bagaimana, apa saja, serta cara pelaksanaan pembelajaran tersebut dilakukan.
  4. Terakhir ialah P, yakni product, di mana evaluasi meninjau seberapa jauh tingkat pencapaian peserta didik terhadap tujuan pendidikan, baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang.

TUGAS UJIAN TENGAH SEMESTER

 

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Tengah Semester

Mata Kuliah Kurikulum dan Pembelajaran

Dosen: Mulyani Sumantri, Prof., DR., H., M.Pd.

Deni Kurniawan, DR., M.Pd.

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

MIFTHA INDASARI

NIM 1200970

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR SEKOLAH SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2012

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s