STRUKTUR (BANGUNAN) ILMU, PENGELOMPOKKAN ILMU, DAN RIWAYAT PARA TOKOH FILSAFAT ILMU

Posted: November 26, 2012 in Artikel Pendidikan
  1. A.  STRUKTUR (BANGUNAN) ILMU
    1. 1.      Pengantar

                                        

Filsafat tumbuh sejak zaman Yunani. Pythagoras(572-497 s.M.) pertama kali mengenalkan istilah philosophia (dari kata philos yang artinya sahabat, dan sophia yang artinya kebijaksanaan, maka philosophia berarti sahabat kebijaksanaan). Penemuan terpenting dari Pythagoras adalah proposisi tentang segitiga siku-siku.

Filsuf Yunani Socrates(469-399 s.M.)  menamakan dirinya philosophos yang artinya pecinta kebijaksanaan/penyampai kebenaran.  Buah pikirannya banyak didokumentasikan muridnya yakni Plato(428-348 s.M.). Catatan Platotentang pengadilan Socratesmenggambarkan pandangan Socrates yang cenderung etis daripada ilmiah. Yang diutamakan Socrates antara lain adalah nilai-nilai etis seperti kesederhanaan atau tahu batas, persahabatan, keberanian, dan lain-lain.

Plato, murid Socrates dan juga sebagai guru dari Aristoteles mengemukakan gagasannya yang terpenting di bidang filsafat adalah tentang ide (idea). Pertama-tama Plato mengemukakan tentang adanya dunia intelek dan dunia indrawi. Dunia intelek terdiri dari akal dan pemahaman, Kedudukan akal lebih tinggi karena berkaitan dengan ide-ide murni. Sedangkan pemahaman adalah jenis intelek yang dipakai dalam matematika yang menggunakan hipotesis-hipotesis yang tidak dapat diuji. Plato meragukan visi indrawi, yang dipandangnya persepsi indrawi yang menggunakan indra penglihatan tidak hanya memerlukan mata dan obyek, juga membutuhkan cahaya. Objek baru bisa dilihat dengan jelas apabila kena sinar matahari. Maka Plato lebih cenderung kepada kemampuan akal daripada kemampuan indrawi yang dianggapnya mempunyai kelemahan dalam membangun penegtahuan.

Sedangkan Aristoteles (384-322 s.M.) mengkritik gurunya Plato tentang gagasan ide/akal yang menurut pandangannya memang akal itu penting, akan tetapi persepsi indrawi yang akumulasinya membentuk pengalaman manusia adalah juga yang membangun pengetahuan manusia.

 

  1. 2.      Ilmu dan Filsafat Ilmu

a)   Ilmu

Kegiatan berpikir yang berlangsung dalam akal kita, terutama berpikir kritis yang melibatkan analisis dan sintesis, sebagai hasilnya adalah pengetahuan atau informasi, dan akumulasi pengetahuan yang diproses dengan metode tertentu (ilmiah) akan berkembang menjadi ilmu (Suriasumantri, 1983:2-3). Sedangkan zaman Yunani kuno, filsuf Aristoteles memberikan definisi ilmu bersama filsafat sebagai pengetahuan rasional. Atau episteme, yaitu “an organized body of rational knowledge with its proper object”, yang artinya: suatu kumpulan yang teratur dari pengetahuan rasional dengan obyeknya yang tepat (The Liang Gie, 1991: 1). Maka dalam pandangan Aristoteles, keterkaitan antara ilmu dengan filsafat sangat jelas, dengan dikelompokkannya kedua ilmu dalam satu konsep episteme atau pengetahuan rasional.

Pada waktu kita mempelajari segala sesuatu tentang ilmu, maka kita akan lihat bahwa ilmu memiliki beberapa karakteristik, yakni ontology, epistemology, dan aksiologi. Ontologi menjelaskan apa, tentang apa, apa yang ingin kita ketahui tentang ilmu itu. Epistemologi menerangkan tentang bagaimana cara kita mendapatkan ilmu itu, metodenya, untuk memelihara dan mengembangkannya; sedangkan aksiologi menjelaskan guna atau manfaat ilmu tersebut. Dalam aksilogi, ilmu berkaitan dengan nilai atau values yang memotivasi penggunaan ilmu tersebut (Suryasumantri, 1983:5).

Sebagai contoh, sejarah sebagai ilmu maka karakteristik ontologinya adalah bahwa yang disebut sejarah berasal dari bahasa Arab “syajaratun” yang berarti pohon, atau keturunan, atau silsilah, atau genealogi. Kalau sejarah itu diambil dari bahasa Inggris, kata historiayang berasal dari bahasa Yunani, yang berarti belajar dengan cara bertanya. Istilah ini menunjukkan pemahaman tentang masa lampau. Maka sejarah adalah kajian tentang masa lampau, antara lain telaah tentang silsilah atau keturunan yang akan memberikan kepada kita pengetahuan tentang keberadaan kita, siapa kita (Fredrick dan Soeroto, 1982:1). Sedangkan karakteristik epistemologi sejarah yang sangat tergantung dari bukti-bukti sejarah yang bisa berbentuk peninggalan prasasti, candi, artefak lainnya, atau dokumen, dan catatn lainnya maka metode yang menyelidiki kebenaran bukti-bukti tersebutlah yang akan memelihara dan mengembangkan sejarah sebagai ilmu. Metode ini dikenal sebagi “metode historis” dengan melakukan ktirik intern dan kritik ekstern terhadap sumber, serta melakukan “heuristic” yang kritis, meluas, dan mendalam untuk mencapai “wie est eigentlich gewesen” atau sebagaimana sebenarnya terjadi, untuk kemudian dibuat pelaporannya atau penulisannya atau historiografinya (Abdullah Soerjomihardjo, 1985:289: Kartodirdjo, 1982:5). Apabila kita menelusuri kegunaan atau manfat sejarah, maka seperti sudah dikemukakan di atas adalah untuk menjelaskan keber”ada”an kita, siapa kita, jati diri kita. Melalui kajian sejarah kita mengenal para pahlawan, tokoh utama, tokoh sejarah yang menjadi contoh keteladanan dari perbuatan dan jasa-jasanya. Nilai-nilai (values) yang baik masuk untuk dijadikan wahana pendidikan kepribadian atau karakter bangsa.

Van Melsen (dalam Fuad Hasan 2010:114-115) mengemukakan delapan ciri yang menandai ilmu, yakni:

  • Secara metode harus mencapai suatu keseluruhan yang sevara logis, koheren. Ini menandai berarti adanya sistem dalam penelitian (metode) dan harus tersusun secara logis.
  • Ilmu dibangun tanpa pamrih
  • Obyejtif, tanpa distorsi prasangka-prasangka yang subyektif
  • Kebenaran ilmu yang dicari adalah kebenaran universial
  • Verifikasi untuk mendapatkan pengakuan masyarakat ilmuwan dan untuk sosialisasi
  • Progresif, dalam pengertian membuka kemungkinan baru bagi kemajuan ilmu yang bersangkutan dengan data yang baru ditemukan
  • Kritis, dalam pengertian bahwa tidak ada teori yang definitif, selalu terbuka bagi pengujian kritis, apabila data baru ditemukan.
  • Ilmu dalam pemanfaatannya harus menunjukkan kaitan antara teori dan praktek.

 

Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Ilmu tanpa (bimbingan moral) agama adalah buta, demikian kata Einstein (Suriasumantri, 2010:92). Kebutaan moral pada ilmu akan menyebabkan ilmu tersebut membawa petaka bagi dunia manusia. Bisa dilihat sudah berapa banyak korban perang nuklir di dunia seperti yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki.

b)   Filsafat Ilmu

Karakteristik filsafat ialah:

  • Radikal, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya sampai kepada hakikat sesuatu
  • Universal, merupakan hasil generalisasi dan abstraksi pengalaman manusia
  • Koheren dan konsisten atau sesuai dengan kaidah berpikir logis, konsisten artinya taat asas
  • Sistematis, harus saling berhubungan secara teratur dan ada maksud dan tujuan
  • Komprehensif, yakni menyeluruh
  • Bebas, hasil pemikiran yang bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, bahkan religius
  • Bertanggung jawab, paling tidak kepada hati nuraninya sendiri (Mustansyir dan Munir dalam Hasan, 2010:19-20)

Dari gambaran karakteristik kedua jenis pengetahuan tersebut mengenai ilmu dan filsafat. Maka jelaslah bahwa kesamaan, hubungan, dan jalinan ilmu dengan filsafat adalah saling menjelaskan, mendukung, dan menguatkan. Ilmu memberikan jawaban terhadap persoalan kehidupan manusia tentang apa yang ingin diketahuinya, bagaimana caranya mendapat pengetahuan itu, dan apa manfaat pengetahuan itu. Sedangkan filsafat mempelajari permasalahan itu seluas-luasnya dengan mendalam sehingga memberikan dasar/fundamental bagi eksistensi ilmu yang bersangkutan.

  1. B.  PENGELOMPOKKAN ILMU

Ruang penjelajahan keilmuan kemudian kita menjadi “kapling-kapling” berbagai disiplin keilmuan. Kapling ini makin lama makin sempit sesuai perkembangan kuantitatif disiplin keilmuan. Kalau pada fase permulaan hanya terdapat ilmu-ilmu alam (natural philosophy) dan ilmu-ilmu sosial (moral philosophy) maka dewasa ini terdapat lebih dari 650 cabang keilmuan (Sagan, Carl dalam Suriasumantri, 2010:92).

Dalam analisis paradigmatik, pengetahuan dan ilmu yang dikembangkan dahulu sebelum adanya metode ilmiah (Cartesian-Newtonian), diakui kebenarannya sebagai ilmu/sains yang disebut normal science, dibentuk melalui observasi atau percobaan sederhana dan diakui para pakar zamannya untuk menjadi landasan perkembangan selanjutnya.

Alur pikir para digmatik yakni:

Paradigma I          Normal Science            Anomali          Krisis

 

Paradigma II             Revolusi

Perubahan yang terjadi pada gagasan dan pikiran pada zaman pencerahan/enlightment, dimulai dengan Rence Descrates (1596-1650) yang mengemukakan teori pengetahuan baru diawali dengan metode keraguan yang disebut “keraguan Cartesian”, bahwa hal itu untuk membangun dasar yang kuat bagi ilmu dan filsafatnya. Selanjutnya Descrates berargumen, bahwa skeptisisme terhadap indra manusia membuat dirinya berpikir ketika ia ingin menganggap sesuatu itu salah, pastilah ada diri yang berpikir dan mengungkapkan kebenaran; maka diperlukan akal manusia, bukan perasaan atau pengalaman. Maka lahirlah aliran Rasionalisme. (Hasan, 2010:151-152 dan Russel, 2007:739-740).

 

Logika Matematika

Metode keilmuan yang berdasarkan aliran rasiolisme ini kemudian dikritik oleh kaum empirisme yang menganggap bahwa memang akal itu penting, akan tetapi pengalaman juga sama pentingnya. Bahwa dalam implementasi metode ilmiah yang rasional itu dibutuhkan metode empirismenya untuk emndapatkan kredibilitas. Karena kecenderungan Descrates dalam aspek astronomi lebih mengarah kepada Newton, maka metode ilmiahnya dilengkapi dengan teori induktif Newton dans ekarang dikenal dengan metode “Cartesian-Newtonian” untuk metode imiah yang menggunakan alur pikir “hypothetic-deductive-verificative” (Russel, 1997:738 dan Surisumantri, 1983:88).

 

 

Statistika

Metode Penelitian Keilmuan

Deduksi

Khazanah ilmu

Ramalan

Fakta

Pengujian

Induksi

Dunia Rasional

 

Dunia Empiris

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan menggunakan metode ilmiah yang menggabungkan rasionalisme dan empirisme, maka kemajuan penelitian/riset dan percobaan/eksperimen semakin meningkat. Kesadaran untuk mengembangkan pnegetahuan dan ilmu merupakan tanda dan jiwa zaman karena sejak Renaissance, Barat mewarisi kembali gairah mengkaji ilmu dan filsafat Yunani. Kemajuan yang dialami oleh ilmu-ilmu tentang alam, diikuti oleh ilmu-ilmu tentang manusia. Metode ilmiah Cartesian-Newtonian yang berlaku untuk mengkaji ilmu-ilmu kealaman, karena menghasilkan begitu banyak kemajuan diikuti juga oleh ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, dengan langkah-langkah berikut:

  1. Adanya masalah dan perumusan masalah, yang merupakan pertanyaan mengenai obyek empiris yang jelas batas-batasnya dan dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya
  2. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis, yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling terkit dan membentuk konstelasi permasalahan, seperti premis-premis ilmiah yang teruji kebenarannya yang relevan dengan permasalahan, atau juga asumsi-asumsi yang diduga menjadi latar belakang permasalahan
  3. Perumusan hipotesis, yang merupakan jawaban sementara atau ndugaan terhadap pertanyaan yang diajukan, yang materinya merupakan eksimpulan dari kerangka berpikir
  4. Pengujian hipotesis, yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis atau tidak
  5. Penarikan kesimpulan, yang merupakan penilaian apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak

(Surisumantri, 1983:104 dan 1985:128 dengan modifikasi)

Sedangkan menurut Klemke, et.al. (1998), ilmu atau sains adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara:

  1. Membuat observasi seakurat mungkin
  2. Dicatatkan sejelas mungkin
  3. Dibuat klasifikasi sesuai dengan pokok bahasan yang dikaji
  4. Secara induktif dibuatlah pernyataan tersebut dengan melakukan observasi lebih lanjut
  5. Susunlah teori berdasarkan dan berkaitan dengan hukum-hukum yang ditarik secara induktif di atas

 

Kritik diajukan oleh Karl Popper (1958) yang disebut falsifikasi terhadap metode ilmiah di atas dan kemudian dimodifikasi menjadi: ilmu/sains adalah batang tubuh (body of knowledge) yang diorganisasikan dengan sistematis, sebagai berikut:

  1. Pernyataan-pernyataan yang dicatat dan diklasifikasikan berdasarkan observasi dan relevan dengan penyelesaian suatu permasalahan, dibuat seakurat dan sepasti mungkin
  2. Pernyataan umum, apakah itu hipotesis atau hukum, menentukan keteraturannya dari fenomena yang sedang diobservasi
  3. Teori yang ditarik harus berdasarkan atas sebanyak mungkin hukum
  4. Pernyataan umum atau khusus yang ditarik secara deduktif dan teori atau hukum harus dikonfirmasi dengan melakukan observasi dan tes lanjutan (Klemke, et.al., 1998:34-35)

 

Dalam metode ilmiah, verifikasi dilakukanuntuk menguji kebenaran dari uji hipotesis. Salah satu tujuan dari penelitian ilmiah adalah mencari kebenaran. Julienne Ford (dalam Lincoln  dan Guba, 1985:14) mengemukakan bahwa konsep kebenaran itu licin/elusive, susah dicarinya, ada empat makna yang berbeda yang perlu dijunjung tinggi dalam upaya penelitian, antara lain:

  1. Kebenaran empiric, dari ilmuwan dalam bentuk bentuk hipotesis yang membenarkan atau menolak dan konsisten/korespenden dengan alam
  2. Kebenaran logis, dinyatakan dalam bentuk hipotesis yang konsisten secara logis atau matematis dengan pernyataan sebelumnya yang sudah diakui kebenarannya
  3. Kebenaran etik/moral, peneliti yang membuat pernyataan bertindak sesuai dengan kaidah moral atau professional
  4. Kebenaran metafisik, tidak bisa diuji kebenarannya baik dengan ukuran logis sesuai dengan alamiah atau moral, kebenarannya diterima seperti apa adanya, “at face value or must be taken for granted

Kebenaran ilmu dan teknologi yang demikian pesat membutuhkan pengaturan dan klasifikasi sehingga pada abad ke-19 sosiologi ilmu menyusun pengorganisasian atau pengelompokkan ilmu untuk memudahkan para pengguna ilmu mengidentifikasi posisi keilmuan yang dikajinya, sebagai berikut:

Naturwissenschaften (ilmu-ilmu kealaman) Geistewissenschaften (ilmu-ilmu sosial) Humaniora Cultural Studies (ilmu-ilmu budaya)
Astronomi

Fisika

Kimia

Matematika

Biologi

Geologi

Antropologi

Sosiologi

Ekonomi

Sejarah

Politik

Hukum

Psikologi

Bahasa

Seni

Agama

Filsafat

Kajian kebudayaan

Kajian kemanusiaan

 

Dalam perkembangan selanjutnya, disiplin-disiplin ilmu di atas bercabang dan beranting. Sebagai contoh, di bidang ilmu-ilmu kealaman (Naturwissenschaften), fisika misalnya bercabang menjadi fisika optic, listrik, bunyi, magnet, fisika molekul, mekanika kuantum, dan lain-lain. Di bidang ilmu-ilmu sosial, seperti sejarah ada sejarah politik, sejarah sosial, sejarah kebudayaan, sejarah kawasan seperti Asia Selatan, dan laim-lain. Begitupun antropologi dan filsafat yang bercabang menjadi beragam ilmu-ilmu baru.

Dengan berkembangnya cabang dan ranting ilmu pada semua kelompok keilmuan, maka epistemologi juga ikut berkembang. Ilmu-ilmu sosial dan humaniora tidak semua permasalahannya dapat diselesaikan dengan metode ilmiah Cartesian-Newtonian yang lazim dipakai untuk kajian ilmu-ilmu kealaman, yang umum di kalangan mahasiswa sebagai metode kuantitatif atai positivistic, melainkan masalah yang banyak menyangkut manusia yang unik dan selalu berubah membutuhkan metode yang lebih spesifik, yang berjenis kualitatif.

Filsuf Jerman Windelband menbedakan proposisi ilmu-ilmu kealaman seperti Fisika, cenderung membuat generalisasi yang membentuk sifat “nomotetik” dan proposisi ilmu-ilmu sosial yang bertitik tolak dari individu (yang unik) membentuk sifat “ideografik”. Maka metode ilmiah yang diperlukan untuk pemecahan persoalan pun berbeda (Klemke, et.al, 1998:136).

Begitu banyak paradigm baru yang membutuhkan penyelesaian, seperti masalah kelas sosial, ras, etnisitas, gender yang menjadikan proses penelitian kea rah multicultural. Untuk permasalahan seperti etnografi, studi kasus, kajian naturalistic, penelitian tindakan, fenomenologi, hermeneutik, etnometodologi, dan lain-lain. Apabila dipertanyakan aspek-aspek validitas dan reliabilitas, maka dalam penelitian kulaitatif harus dipenuhi criteria kreadibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas (Denzin dan Lincoln, 1009:17; Lincoln dan Guba, 1985:290-291).

Proses Penelitian Kualitatif:

Fase 1: Penelitian dengan Subyek Multikultural

  • Sejarah dan tradisi penelitian
  • Konsepsi tentang diri dan orang lain
  • Etika dan strategi penelitian

 

Fase 2: Paradigma dan Sudut Pandang Teoritis

  • Positivisme, postpositivisme
  • Konstruktivisme
  • Feminisme
  • Model-model etnik
  • Model-model Marxis
  • Model-model Cultural Studies (kajian budaya)

Fase 3: Strategi Penelitian

  • Desain penelitian
  • Studi kasus
  • Etnografi, observasi partisipatif
  • Fenomologi, etnometodologi, hermeneutic
  • Grounded theory
  • Metode biografis
  • Metode historis
  • Penelitian tindakan dan terapan
  • Penelitian klinis

Fase 4: Metode Pengumpulan dan Analisis

  • Wawancara
  • Observasi
  • Artefak, dokumen, catatan
  • Metode pengalaman pribadi
  • Metode pengolahan data
  • Analisis dengan bantuan computer
  • Analisis tekstual

 

 

Fase 5: Seni Interpretasi dan Penyajian

  • Kriteria untuk menilai kecukupan seni dan strategi interpretasi menulis sebagai interpretasi analisis kebajikan tradisi evaluasi penelitian terapan

 

  1. C.  IMPLIKASI PADA PENDIDIKAN DAN SISTEM PENDIDIKAN BERDASARKAN PANCASILA

Filsafat melakukan perenungan secara analitis dan sintesis untuk menyusun suatu bagan konsepsional dan sistematik mengenai makna dunia. Hubungan antara filsafat dan ilmu menunjukkan simbiosis mutualistis, yaitu apa yang harus dikatakan ilmuwan mungkin penting bagi filsuf. Tapi tidak dapat dilakukan filsuf untuk mencoba memberitahu ilmuwan mengenai apa yang harus ditemukannya. Filsafat harus memperhatikan hasil ilmu sedangkan dalam penyelidikan alam harus mengetahui anggapan/pandangan filsafat mengenai alam.

  1. 1.    Implikasi cabang filsafat para pendidikan

Antara filsafat dan pendidikan memiliki hubungan problematika yang ada pada kedua disiplin tersebut, yaitu: a) Filsafat mengajukan pertanyaan filosofis terhadap realita dan pengalaman/praktek pendidikan; b) filsafat secara spekulatif menetapkan hakikat dunia dan makna hidup untuk dijadikan landasan konseptual tentang penyusungan tujuan, metode, dan pengalaman belajar untuk menumbuh-kembangkan peserta didik.

Gambaran pendidikan menggunakan konsep yang dihasilkan oleh cabang filsafat dan saling hubungan keduanya sebagai berikut:

 

Tabel Saling Hubungan Filsafat-Pendidikan

NO CABANG FILSAFAT PENDIDIKAN
1. Metafisika menghasilkan pendangan tentang kenyataan yang benar Pendirian dalam memilih pandangan tentang kenyataan yang benar
2. Epistemology menghasilkan prosedur memperoleh pengetahuan dan jenis-jenisnya Bahan pertimbangan untuk penyusunan kurikulum, terutama mengenai pengetahuan dan ilmu serta metode ilmiah
3. Logika menghasilkan ukuran besar dan tepat dalam keterkaitan gagasan Prosedur berpikir dalam mengutarakan gagasan yang benar dan tepat
4. Aksiologi (etika) menghasilkan pandangan mengenai nilai kehidupan Bahan pertimbangan untuk menentukan tujuan pendidikan

 

  1. 2.    Implikasi cabang filsafat pada guru dan lembaga pendidikannya

Filsafat membantu mengorganisir pemilihan filsafat pendidikan dari berbagai sumbernya. Sumber untuk kedua filsafat (filsafat hidup dan filsafat pendidikan) sangat banyak, mencakup semua pengalaman seseorang pada lingkungan lekuarga, sekolah, guru yang diperolehnya dan lingkungan sosio-kultural yang merasa member penghargaan kepadanya. Sehingga pengalaman tersebut diorganisasikan sedemikian rupa menjadi suatu keyakinan (kemandirian) dan wawasan.

Untuk profesi guru/pendidik, wawasan pengalamannya tampak dijasikan dasar pengembangan pengajaran di sekolah. Bila ia memperoleh pengalaman di sekolahnya menyenangkan, maka ia akan membangun kondisi pengajaran/sekolah yang menyenangkan juga. Begitupun sebaliknya.

Menurut Arbi, S.Z. (1900): “Baik filsafat pendidikan maupun pedagogik dapat secara langsung menyumbang kepada unsur kewibawaan”. Unsur kewibawan guru meliputi wawasan, komitmen, dan tanggung jawab profesionalnya. Guru yang wawasannya luas, komitmennya tinggi, dan sangat bertanggung jawab biasanya memiliki wibawa yang besar.

Yang paling dominan penopang profesi guru ialah “dua kaki”, di samping terdapat “kaki” (tambahan) penopang lainnya, seperti kode etik, organisasi, disiplin ilmu, dan sebagainya. “Kaki” penopang pertama ialah kewibawaan dan kedua ialah kompetensi guru.

 

  1. 3.    Implikasi cabang filsafat pada sistem pendidikan

Filsafat merupakan dasar perilaku suatu bangsa yang direfleksikan dalam perilaku warga negaranya. Rangkaian elaborasi yang ditempuh seharusnya mengikuti alur berikut.

  1. Filsafat Negara dengan Per-Undangannya mampu menurunkan Filsafat Pendidikan Nasional, Artinya, Filsafat Pendidikan dirumuskan berdasarkan pada Filsafat Negara
  2. Dari Filsafat Pendidikan, kemudian diturunkan menjadi Teori Pendidikan. Sehingga muncul Teori Pendidikan versi Indonesia yang melahirkan praktek (pedoman) pendidikan.

Karena itu, Filsafat Pendidikan akan menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan bagi bangsa itu utnuk mewujudkan hasil pendidikan yang dicita-citakan.

Kondisi pendidikan tanpa memperhatikan Filsafat Pendidikan sebagai dasarnya memang masih dapat memproduksi tenaga pembangunan yang dibutuhkan. Namun bila dunia pendidikan ingin dibangun secara lebih sempurna yaitu agar anak Indonesia memiliki keutuhan dan kemartabatan sebagai warga negara yang dicita-citakan, maka suatu kemutlakan praktek penyelenggaraan pendidikan di Indonesia harus didasarkan atas Filsafat Pendidikan versi negaranya. Sehingga tidak mengalami kondisi goals disappeared, goals are destroyed. Bila praktek pendidikan terlepas dari Filsafat Pendidikan yang emndasarinya akan menuai bahaya, yaitu terjadi penyalahgunaan pendidikan untuk kepentingan yang tidaks ejalan dengan cita-cita negara.

 

 

  1. D.  SEJARAH/RIWAYAT TOKOH FILSAFAT ILMU

1)        PLATO

Karya tulis Plato banyak mengungkapkan pikiran-pikiran gurunya Socrates tetapi ia juga mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap Socrates. Pikiran-pikirannya lebih banyak bersifat etis daripada akademik. Misalnya Plato membagi masyarakat menjadi tiga lapis. Pertama, adalah para filsuf yang bijaksana dan cakap. Mereka sudah dipersiapkan untuk menjadi pemimpin negara. Kedua, adalah lapisan prajurit yang tugasnya berperang melawan negara. Lapis ketiga, adalah para petani dan tukang yang memproduksi barang dan menyediakan tenaga kerja dan jasa.

Tugas para filsuf sebagai pemimpin adalah untuk membangun negara yang adil. Adil menurut Plato yang dipelajari dari gurunya Socrates adalah menyangkut relasi antar manusia dengan yang lain. Member keadilan kepada orang lain berarti menyatakan kebenaran dan mengembalikan apapun yang anda pinjam. Di samping itu dituntut dari rakyat, kepatuhan dan tunduk kepada para pemimpin.  Hanya manusia yang baik yang mengetahui apa yang baik dan buruk, benar dan salah, yang adil dan tidak adil.

Di dunia pikiran, gagasan Plato yang terpenting adalah teorinya tentang ide (idea). Menurut Plato, pengetahuan berasal  dari akal manusia. Penjelasannya adalah bahwa setiap manusia memiliki dunia intelek dan dunia indrawi. Dunia intelek terdiri dari dua bagian, yakni: akal dan pemahaman. Akal menduduki kedudukan yang lebih tinggi karena akal berkaitan dengan ide-ide murni (Innate ideas) dan metodenya ialah dialektika. Sedangkan pemahaman menggunakan hipotesis-hipotesis yang tidak dapat diuji.. Plato meragukan bahwa pengetahuan adalah hasil visi indrawi. Plato menjelaskan keraguannya itu mengingat bahwa indra penglihatan, misalnya menuntut adanya mata dan obyek yang dilihat. Obyek baru bisa dilihat apabila terkena cahaya. Dunia ide adalah ketika kita melihat obyek diterangi matahari, sedangkan dunia yang tidak abadi adalah dunia yang suram dengan cahaya yang taram temaram. Plato memandang mata sebanding dengan jiwa, dan matahari yang sumber cahaya sebanding dengan kebenaran atau kebaikan (Russel, 2007:168-171).

Menurut Plato, pendidikan itu sangat perlu, baik bagi dirinya selaku individu maupun sebagai warga negara. Menurut Plato, idealnya dalam sebuah negara pendidikan memperoleh tempat yang paling utama dan mendapatkan perhatian yang paling khusus. Karena itu pendidikan sebenarnya nerupakan suatu tindakan pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Dengan pendidikan orang mengetahui apa yang benar dan tidak benar, baik atau jahat, apa yang patut dan yang tidak patut (Rapar dalam Jalaluddin, 2012:72).

Plato berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah untuk menemukan kemampuan-kemampuan ilmiah setiap individu dan melatihnya sehingga ia menjadi seorang warga negara yang baik, masyarakat yang harmonis, yang melaksanakan tugas-tugasnya secara efisien sebagai seorang anggota masyarakat.

 

2)        ARISTOTELES

Aristoteles adalah murid Plato. Ia mempunyai gagasan sendiri. Menurutnya, akal tidaklah cukup dalam membangun pengetahuan melainkan juga diperlukan indrawi sehingga pandangannya ini disebut sebagai “genetic epistemology” yakni tentang bagaimana pengetahuan itu dibangun yang bersifat empiris. Menurutnya, sensasi yang diterima indrawi berulang-ulang diperoleh manusia akan menghasilkan pengetahuan. Prosedur pembentukan ini dinamakannya sebagai “dialektika”. Dan dengan penjelasan ini ia menekankan bahwa manusia secara intuitif dapat membedakan universal/general atau yang umum, dari particular atau yang khusus.

Mengenai etika Nikomachea, Aristoteles mengutarakan banyak hal tentang sesuatu yang baik, dan manusia yang baik. Gagasan yang mengungkapkan pemahamannya tentang aspek theologies manusia, tentang arah dan tujuan setiap tindakan dan hidup manusia itu harus selalu baik. Untuk penjelasannya, terlebih dahulu ia membagi empat sebab/cirri dari setiap benda/materi. Pertama, ada sebab material,  yaitu dari bahan apa benda itu terbuat? Kedua, sebab formal, yaitu benda itu apa? Ketiga, sebab efisien, yaitu apa guna/manfaat benda itu? Keempat, sebab final,  yaitu apa tujuan akhir benda itu; dalam hal ini ada kaitannya dengan keyakinan atau agama.

Teori-teori etika pada zaman Aristoteles terbagi menjadi dua aliran: 1) aliran yang memandang kebaikan atau keutamaan adalah sarana; 2) aliran yang memandang kebaikan atau keutamaan adalah tujuan. Aristoteles termasuk yang memandang kebaikan adalah sarana untuk mencapai tujuan, dan tujuan kebaikan adalah kebahagiaan (Russel, 2007:241).

Aristoteles sebagai bapak ilmu menganggap riset sebagai suatu gerak maju dan kegiatan-kegiatan observasi menuju pada penyusunan prinsip-prinsip umum yang bersifat menerangkan dan kembali kepada observasi. Aristoteles mempertahankan pandangan bahwa ilmuwan hendaknya menarik kesimpulan secara induktif tentang prinsip-prinsip yang menerangkan dan bersumber dari gejala-gejala yang diterangkan, dan kemudian menarik kesimpulan secara deduktif berupa pernyataan-pernyataan yang dijabarkan atau diturunkan dari premis-premis atau dalil-dalil yang tercakup di dalamnya, prinsip yang menerangkan gejala-gejala yang dihasilkan dari induktif. Metode ini disebut Metode Induksi-Deduksi. Metode ini terdiri atas dua tahap, yaitu: 1) tahap induksi; dan 2) tahap deduksi. Tahap induksi terdiri atas penjumlahan atau perhitungan sederhana (simple enumeration) dan induksi intuitif (intuitive induction). Deduksi terdiri atas empat macam silogisme kategoris (A, A, I, dan O).

  1. a.    Tahap Induksi

Aristoteles berkeyakinan bahwa melalui induksi, generalisasi-generalisasi (kesimpulan-kesimpulan umum) tentang bentuk, ditarik dari pengalaman pengindraan. Dia membahas dua tipe induksi, yaitu: 1) perhitungan sederhana; dan 2) induksi intuitif. Dalam perhitungan sederhana, pernyataan-pernyataan tentang hal atau peristiwa khusus diambil sebagai dasar untuk sebuah kesimpulan umum tentang suatu spesies dengan hal atau peristiwa tersebut menjadi anggota spesiesnya. Atau pada sebuah tingkatan yang lebig tinggi, pernyataan tentang spesies diambil sebagai sebuah dasar untuk sebuah genus. Hal tersebut digambarkan dalam bagan berikut.

Premis-premis                                                         Kesimpulan
Apa yang diobservasi benar    Generalisasi     Apa yang diduga benar dari

dari beberapa hal yang khusus                       spesies di mana hal-hal khusus

termasuk di dalamnya

 

Apa yang diobservasi           Generalisasi     Apa yang diduga benar dari

dari beberapa spesies                                   genus di mana spesies termasuk

di dalamnya

 

Sebuah penarikan kesimpulan yang khas melalui enumerasi sederhana mempunyai bentuk sebagai berikut:

a1 mempunyai sifat P

a2 mempunyai sifat P

a3 mempunyai sifat P

semua a mempunyai sifat P

Tipe induksi kedua ialah sebuah intuisi langsung tentang prinsip-prinsip umum yang dicontohkan dalam gejala-gejala. Induksi intuitif adalah sebuah tilikan (insight). Operasi induksi intuitif sama bentuknya dengan operasi “penglihatan” ahli taksonomi. Ada suatu kepandaian bahwa ahli taksonomi lebih dapat melihat/menangkap hal-hal yang tersirat dalam bagian daripada pengamat yang tidak terlatih.

 

  1. b.   Tahap Deduksi

Tahap kedua dalam penyelidikan ilmiah, kesimpulan-kesimpulan umum yang ditarik melalui induksi dipergunakan sebagai premis-premis umum untuk deduksi dari pernyataan-pernyataan tentang observasi yang pertama. Aristoteles mengutip silogisme dalam bentuk Barbara sebagai paradigma model penyajian. Silogisme Barbara terdiri dari penyataan-pernyataan yang disusun sebagai berikut.

Semua M adalah P

Semua S adalah M

Semua S adalah P

 

3)        IBNU SINA

Ibnu Sina atau Al-Syaikh Al-Rais atau dikenal juga Avicenna adalah seorang filsuf Islam yang telah menulis banyak karya tulis mengenai filsafat, pengobatan, geometri, theology, dan seni. Karyanya yang terkenal adalah Al-Shifa (tentang penyembuhan), di dalamnya terdapat pembagian pengetahuan praktis dalam etika, ekonomi, dan politik. Sedang pengetahuan teoritis ke dalam fisika, matematika, dan metafisika. Karya penting lainnya adalah Qanun fi al-Tibb (kitab tentang pengobatan) yang merupakan ensiklopedi medis. Baik dalam ilmu seni atau filsafat, pemikiran Ibnu Sina berlandaskan ketuhanan, Allah SWT semata. Ia berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan tetapi semua perbuatannya harus dipertanggungjawabkan.

 

4)        IBNU KHALDUN

Ibnu Khaldun atau dikenal dengan nama Abu Zaid ‘Abd Rahman ibn Khaldun. Karya tulisnya yang berjudul Al-Ibr merupakan sumbangan penting bagi sejarah. Penjelasannya tentang kehidupan suku-suku, terutama kaitannya dengan kehidupan kenegaraan, melukiskan kehidupan merkea yang mengikuti asa ikatan kekerabatan, digambarkan ada yang disebut suku lingkaran dalam, lingkaran tengah, dan lingkaran luar. Suku yang berada di lingkaran dalam adalah pihak penguasa, biasanya bebas tidak membayar pajak. Sedangkan yang berada di lingkaran tengah adalah suku-suku yang harus membayar pajak. Kemudian suku lingkaran luar adalah mereka yang tidak terjangkau untuk ditarik pajak. Permusuhan lokal sering terjadi dan adakalanya suku luar berhasil mengambil alih kekuasaan. Faktor yang mempersatukan mereka adalah misi religious.

Di bidang sosial, Ibnu Khaldun sangat memperhatikan kehidupan bermasyarakat, terutama tentang organisasi manusia. Ia menjelaskan sifat-sifat dasar manusia, yang dicirikan oleh tiga hal, yakni: 1) usaha-usaha manusia untuk memperoleh sarana-sarana kehidupan; 2) kebutuhan akan otoritas yang membatasi; 3) ilmu keterampilan dan seni, sesuai dengan kebutuhan pokok manusia pada umumnya yaitu politik, ekonomi, dan kebudayaan.

5)        MULLA SADRA

Mulla Sadra yang dikenal dengan Shadr Al-Din Syirazhi atau nama lengkapnya Muhammad ibn Ibrahim Al-Qawami Al-Syirazhi. Bagian penting dari filsafat yang didapat dari pengalaman gnostik (arif) Mulla Sadra adalah tentang “Wujud” sebagai realitas. Menurut visi Mulla Sadra, keseluruhan eksistensi manusia bukanlah sebagai obyek-obyek yang ada (exist) atau maujud-maujud (existens), melainkan sebagai realitas tunggal (wujud), Karena dibatasi oleh berbagai “kuiditas” memunculkan kemajemukan yang “ada” dengan berbagai maujud yang saling berdiri sendiri satu sama lain. Dalam filsafat Barat, Heidegger-lah yang pertama menjelaskan bahwa focus mengenai subyek metafisika adalah eksistensi itu sendiri, atau “das sein” (Nassr dan Leaman, 2003:915).

Mulla Sadra membedakan antara realitas wujud. Yang pertama adalah konsep yang jelas dan mudah dimengerti. Akan tetapi konsep realitas wujud sulit dimengerti karena memahaminya memerlukan penyucian jiwa dan persiapan mental yang ekstensif agar potensi intelek dalam diri kita mampu berfungsi sepenuhnya tanpa kendala nafsu duniawi, sehingga dapat melihat “wujud” dalam “realitas”nya. Wujud itu mempunyai perbedaan, hierarki, dan gradasi. Metafisika mengenai wujud yang berlandaskan theology, kosmologi, psikologi, dan eskatologinya menghasilkan prinsip wujud dari Mulla Sadra.

6)        HAMZAH FANSURI DAN NURUDDIN Ar-RANIRI

Di dalam karya tulisnya, Hamzah Fansuri yang juga penyair dalam bahasa Melayu, membahas berbagai masalah tasawuf Ibnu Arabi, seperti tentang sifat-sifat Tuhan dan hubungannya dengan Esensi Tuhan, manifestasi esensi Tuhan pada berbagai tingkat determinasi dan relasi antara Tuhan dengan alam. Hamzah Fansuri merupakan tokoh aliran tasawuf Wahdah Al-Wujud dari Ibnu Arabi dengan fokus meuju ke arah pembentukan manusia sempurna atau Insan Kamil. Ulama Nuruddin Ar-Raniri menganggap aliran ini adalah bid’ah. Menurutnya, konsep Wujudiyah yang menyatakan bahwa kestuan Tuhan dengan alam adalah sama dengan panteisme, yang bertentangan dengan islam. Menurut Ar-Raniri harus dibedakan dengantegas antara wujud alam yang mungkin dan wujud Tuhan yang niscaya. Ar-Raniri juga menulis karya besar yang terdiri dari tujuh buku yang menbahas tentang penciptaan langit dan bumi yang berjudul Bustan al_salathin (Moris dalam Nassr dan Leaman, 2003:1482-1483).

7)        RENEE DESCARTES

Pada periode 1628-1629 Descrates menulis “Rules of  the Direction of Understanding” yang merupakan dasar filsafat dan pemikiran metodologis dari sains universal. Dalam buku ini ia menjelaskan isu metafisika tentang kekuatan pikiran intelektual, dasar dari perbedaan antara berpikir dan imajinasi. Dalam bukunya yang berjudul “Discourse on Method” (1637), ia meletakkan dasar-dasar bagaimana melakukan perjalanan mencari pengetahuan/ilmu pada umumnya. Metode yang ia sarankan sangat analitik, mungkin karena pengaruh dari kajian matematikanya. Yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa analisis dimulai dari yang sederhana meningkat kepada yang lebih kompleks. Tujuan dari kajian analitik ini adalah untuk mencapai kepastian. Jadi, buku tentang metode ini secara garis besar meletakkan empat aturan: 1) tidak menerima kebenaran daris esuatu sebelum mengakuinya benar; 2) membagi permasalahan ke dalam bagian-bagian sebanyak mungkin untuk diselidiki dan diperiksa; 3) melakukan refleksi untuk memahami permasalahan dari bagian yang terkecil dan termudah untuk dipahami sedikit demi sedikit, untuk kemudian bergeser ke permasalahan yang lebih kompleks; dan 4) laksanakan pemahaman itu setiliti mungkin, tidak ada yang terlewat atau tersisihkan, sehingga secara umum permasalahan itu secara menyeluruh sudah dianalisis (Hamlyn, 1987:136).

8)        IMMANUEL KANT

Kant memulai filsafat kritis dengan mengkritik “bagaimana metafisika bisa menjadi ilmu?”. Karena pandangannya yang tertuang juga dalam karya-karyanya, maka aliran filsafat Kant disebut juga aliran kritis. Pikiran-pikiran pokoknya ialah:

  1. Mengakui empirisme dalam kajian pentingnya pengalaman indrawi pada potensi manusia
  2. Mensintesiskan empirisme dan rasionalisme bahwa pengetahuan adalah hasil kerjasama pengalaman indrawi dan aktivitas akal budi.
  3. Peralihan dari obyek ke subyek. Dalam buku “Ktitik atas Rasio Murni”, pengetahuan terbagi dalam tiga jenis: (1) pengetahuan analitis; (2) pengetahuan sintesis a-posteriori; dan (3) pengetahuan sintesis a-priori
  4. Contoh pengetahuan analisis: “ …. Saya tahu berdasar analisis bahwa lingkaran itu bulat.”

Contoh pengetahuan sintesis a-posteriori: “… berdasarkan pengalaman indrawi, hari ini sudah hujan.”

Contoh pengetahuan sintesis a-priori: yaitu akal budi dan pengalaman indrawi dipakai serentak: di bidang matematika dan fisika. Misalnya: 2 + 2 = 4 atau aksi = reaksi. Untuk mejelaskannya diperlukan analisis struktur dari seluruh proses pengetahuan.

  1. Bagian penting lainnya dari buku “Kritik ….” Adalah yang menjelaskan tentang Trancenndental Aesthetic, dank arena itu pula filsafat Kant disebut Trancendental Philosophy yang antara lain menjelaskan soal ruang dan waktu.
  2. Pengenalan indrawi selalu ada dua bentuk a-priori, yaitu ruang dan waktu.

 

9)        HEIDEGGER

Karyanya yang utama adalah “Sein und Seit” (being and Time, 1927). Ia mengemukakan pertanyaan mendasar dalam filsafat, mengapa “ada” daripada “tidak ada”. Jawaban filosofis yang ia bangun adalah suatu upaya untuk memahami bagaimana segala sesuatu itu berada sebagaimana adanya. Sebagai awal ia menjelaskan perbeadaan fundamental antara Sein (being, ada) dengan Dasein (ada di sini, ada di dunia). Maksud Heidegger dengan Dasein, adalah bagaimana hubungan seorang individu dengan dunia, menjelaskan status individu dalam relasinya dengan dunia. Karena kepeduliannya denagn persoalan dan nasib keberadaan individu, human existence. Sebagian orang memandang filsafat Heidegger cenderung ke arah eksistensialisme (Hamlyn, 1987:324). Heidegger mengemukakan bahwa salah satu karakteristik dari Dasein adalah Sorge (care), yaitu kepedulian kepada orang lain. Ia mengaitkan konsep dasar Dasein dengan waktu, bukanlah waktu dalan arti jam atau fakta obyejtif atau hubungan temporal, melainkan waktu yang dihubungkan dengan kesadaran, terutama dengan masa depan atau yang lazim dikenal dengan filsafat “temporal becoming”.

Menurutnya, masa depan membuka kemungkinan walaupun secara bersamaan kita harus sadar akan keterbatasan (waktu), kefanaan kepada kenyataan akan kematian. Hal inilah yang menjelaskan karakter lain dari Dasein, terutama human exixtence, ialah Agst (kecemasan atau ketakutan). Heidegger memandang kematian sebagai kemungkinan yang nyata, reliastik dan harus diterima karena merupakan karakteristik dari “authentic existence” (keberadaan otentik manusia). Konsep kematiannya bahwa sesudah eksistensi/hidup manusia kita “there is nothing”.

 

10)    MAHZAB/SEKOLAH FRANKURT

Yang disebut mhazab Frankurt adalah suatu gagasan yang bertujuan untuk mengembangkan teori Marx, dipelopori  J. Weil maka didirikan Institut Penelitian Sosial di Frankurt pada tahun 1923. Pemikir-pemikir yang berorientasi Marxian bergabung di mahzab ini seperti Horkheimer Adorno, Erich Fromm, Harbert Marcusse, dan Jurgen Habermas.

Salah seorang di antara pakar Mahzab Frankurt adalah Erich Fromm menulis buku berjudul “To Have or To Be” (1976) yang menggambarkan pergulatan dalam eksistensi manusia di zaman modern dengan kondisi dunia yang menghadapi pengrusakkan ekologi, perubahan sosial, dan kegalauan psikologi. Menurutnya ada dua pilihan eksistensi, yaitu “To Have” atau memiliki dan “To Be” atau menjadi (diri). Memiliki merupakan kecenderungan eksistensi manusia pada abad kapitalisme yang pada saat itu manusia berlomba-lomba memiliki benda, mengejar kebahagiaan hidup yang ditandai oleh kekayaan yang serba benda/materi, yang konsekuensinya adalah pengerukan/eksploitasi kekayaan alam sebesar-besarnya sehingga berdampak pada zaman industri ini. Pilihan “To Be” dalam eksistensi manusia modern yang menghadapi globalisasi membuka alternative-alternatif bagi pembentukan sikap dan perilaku yang dalamdunia pendidikan dapat dijadikan modus untuk pembentukan karakter.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Jalaluddin. 2012. Filsafat Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Mudyahardjo, Redja. 2010. Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Hamied, Fuad Abdul, dkk. 2012. Filsafat Ilmu. Bandung: Sekolah Pascasarjana UPI

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s