UTS Landasan Pedagogik

Posted: November 20, 2012 in Makalah
Tag:

LANDASAN PEDAGOGIK

 

  1. Apa arti pedagogik? Mengapa guru harus memahami pedagogik? Jelaskan secara logik  alasan ilmiah dan filsafiahnya?

JAWAB:

Menurut Uyoh Sadulloh (2010:1), pedagogik merupakan ilmu yang membahas pendidikan, yaitu ilmu pendidikan anak. Jadi, pedagogik mencoba menjelaskan tentang seluk-beluk pendidikan anak, pedagogik merupakan teori pendidikan anak. Pedagogik berasal dari Bahasa Yunani, “paedos” yang berarti anak laki-laki dan “agogos” artinya mengantar, membimbing. Hoogveld (Sadulloh, 2020:2) mendefinisikan pedagogik ialah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu agar kelak ia mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya. Sehingga dengan kata lain pedagogik ialah ilmu mendidik anak.

Berbeda dengan Langeveld (Sadulloh, 2010:2), Beliau membedakan istilah pedagogik dan pedagogi. Pedagogik diartikan dengan ilmu mendidik, lebih menitikberatkan kepada pemikiran, perenungan tentang pendidikan. Suatu pemikiran bagaimana kita membimbing anak, mendidik anak. Sedangkan pedagogi berarti pendidikan, yang lebih menekankan kepada praktik, menyangkut kegiatan mendidik, kegiatan membimbing anak.

Mendidik menurut Darji Darmodiharjo (Sadulloh, 2010:7) ialah menunjukkan usaha yang lebih ditujukan kepada pengembangan budi pekerti, hati nurani, semangat. Kecintaan, rasa kesusilaan, ketaqwaan, dan lainnya. Guru seyogyanyalah mengayomi siswa dengan memberikan contoh teladan. Konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yang sangat terkenal yakni Ing Madya Mangun Tulodo yang berarti apabila pendidik berada di depan maka ia harus member contoh yang baik terhadap anak didiknya; Ing madya Mangun Karso, apabila pendidik berada di tengah maka ia harus mendorong kemauan anak, membangkitkan kreativitas dan hasrat untuk berinisiatif dan berbuat; Tut Wuri Handayani, berarti mengikuti dari belakang. Handayani berarti mendorong, memotivasi, atau membangkitkan semangat. Kata Tut Wuri, berarti pendidik diharapkan dapat melihat, menemukan, dan memahami bakat atau potensi yang muncul dan terlihat pada anak didik, untuk selanjutnya mengembangkan pertumbuhan yang sewajarnya dari potensi-potensi itu.

Teori tabularasa empirisme John Locke di mana seorang anak merupakan kertas putih yang belum ditulisi apapun sehingga segala kecakapan dan kemampuan serta pengetahuan ia dapatkan dari pengalaman dengan bantuan panca indra. Teori nativisme menerangkan bahwa anak sudah membawa bakatnya masing-masing ketika lahir. Kemudian teori konvergensi di mana teori ini memadukan empirisme dan nativisme yaitu anak memliki potensi luar biasa yang dimilikinya sejak lahir dan bakatnya tersebut haruslah dikembangkan sehingga faktor lingkunganlah yang berperan dalam pengembangannya.

Melihat adanya ketiga pendapat mengenai aliran pendidikan di atas maka pendidik hendaknya menjadi fasilitator dalam mendidik serta mengembangkan bakat serta potensi peserta didik secara maksimal agar kelak menjadi orang yang dapat berguna dalam kehidupan bermasyarakat. Dan istilah Tut Wuri Handayani lebih mengarah ke teori konvergensi di mana perkembangan bakat anak dipengaruhi oleh pembawaan serta lingkungan. Dan itulah diperlukannya keterampilan pedagogik bagi seorang guru.

  1. Jelaskan makna dan peranan dari komponen-komponen pendidikan di bawah ini;

a)      Tujuan pendidikan

b)      Hakikat anak

c)      Peranan guru

d)     Alat pendidikan yang paling utama

e)      Situasi pendidikan

 

JAWAB:

a)      Tujuan pendidikan

Tujuan berisi arah atau hasil yang ingin dicapai setelah dilaksanakannya pembelajaran. Tujuan pendidikan ada yang jangka pendek dan jangka panjang. Di sini juga terdapat berbagai macam tujuan dalam pendidikan, yakni: (a) tujuan pendidikan nasional, bersifat umum dan merupakan tujuan global dari setiap usaha pendidikan yang dilakukan yang tertuang dalan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003; (b) tujuan institusional, berarti tujuan yang hendak dicapai oleh institusi yakni sekolah,  di mana tujuan ini dihubungkan dengan tujuan umum dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan yang mencakup standar kompetensi pendidikan dasar, menengah, kejuruan, dan jenjang pendidikan tinggi; (c) tujuan kurikuler, ialah tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi tertentu sehingga masing-masing mata pelajaran berbeda-beda tujuannya; (d) tujuan instruksional/tujuan pembelajaran, ialah penjabaran khusus dari tujuan kurikuler di mana akan terdapat suatu kompetensi khusus yang akan dicapai siswa setelah pembelajaran, yang biasanya meliputi kompetensi dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Pada akhir dari pendidikan ialah dicapainya tujuan pendidikan dan akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang diharapkan berdasarkan klasifikasi dalam ranah taksonomi Bloom. Sehingga peranan tujuan pendidikan ini mengarahkan apa yang harus dilakukan serta dicapai oleh peserta didik sehingga dapat membentuk perubahan tingkah laku yang positif dan akan membawa

manfaat praktis dalam kehidupan bermasyarakat.

b)      Hakikat anak

Anak ialah manusia yang masih kecil. Di sini kita fokuskan terhadap anak dalam rentang usia 6-12 tahun atau anak pada usia sekolah dasar. Pada masa anak-anak, mereka mengalami perkembangan dunia kecerdasan yang sangat pesat. Mereka aktif mempelajari apa yang ada di lingkungannya, dorongan untuk mengetahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. Anak sebagai individu yang memiliki karakteristik tertentu dalam dirinya yang membedakan ia dengan individu lainnya. Oleh karena itu anak didik di sekolah hendaklah difasilitasi dalam pengembangan kemampuannya.

Anak mempunyai peranan yang sangat besar karena merupakan pbjek dari pendidikan, merekalah yang akan dididik, dibentuk kepribadiannya, dibimbing, serta diayomi dalam membentuk kepribadian serta tingkah laku yang baik dan dewasa.

c)      Peranan guru

Guru adalah pendidik di sekolah. Menurut UU Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005, guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik, pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Peranan guru sebagai pendidik sangatlah besar. Guru membentuk sikap siswa, menjadi contoh teladan bagi siswa-siswanya, bukan hanya sekedar mengajar. Menurut WF Connell, ada tujuh peran seorang guru, yakni sebagai: pendidik, model, pengajar dan pembimbing, pelajar, komunikator terhadap masyarakat setempat, pekerja administrasi, dan setiawan terhadap lembaga.

d)     Alat pendidikan yang paling utama

Alat pendidikan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu kedewasaan. Alat pendidikan juga berarti langkah-langkah yang diambil demi kelancaran proses pendidikan. Alat pendidikan umumnya didefinisikan sama dengan media. Namun, di sini ada beberapa alat pendidikan yang dibedakan oleh ahli.

  1. Menurut Ahmad D. Marimba, alat pendidikan terdiri dari: a) alat-alat yang memberikan perlengkapan berupa kecakapan berbuat dan pengertian hafalan; b) alat-alat untuk memberi pengertian, membentuk sikap, minat, dan cara berpikir; 3) alat-alat yang membawa ke arah keheningan batin, kepercayaan dan pengarahan diri sepenuhnya kepadaNya
  2. Suwarno membagi alat-alat pendidikan: a) alat pendidikan positif jika ditunjukkan agar anak mengerjakan sesuatu yang baik berupa pujian dan negatif jika tujuannya menjaga supaya anak didik jangan mengerjakan sesuatu yang jelek berupa larangan; b) alat pendidikan preventif yang mencegah sebelum anak melakukan sesuatu yang tidak baik dan korektif jika maksudnya memperbaiki perilaku anak; c) alat pendidikan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan
  3. Madyo Ekosusilo, alat pendidikan dibedakan menjadi: a) alat pendidikan material yang bersifat material untuk menunjang pencapaian tujuan pendidikan atau disebut dengan media pembelajaran dan alat pendidikan yang bersifat non-material yakni berupa keadaan atau dilakukan dengan sengaja sebagai sarana dalam kegiatan pendidikan.
  4. Alat pendidikan menurut Langeveld ialah: a) perlindungan; b) kesepahaman; c) kesamaan arah dalam pikiran dan perbuatan; d) perasaan bersatu; e) pendidikan karena kepentingan diri sendiri
  5. Sedangkan menurut Uyoh Sadulloh, alat-alat pendidikan meliputi: a) pembiasaan; b) pengawasan; c) perintah; d) larangan; e) hukuman

Alat-alat pendidikan amatlah penting peranannya, diantaranya ialah sebagai pembiasaan dan pengawasan, perintah dan larangan, serta ganjaran dan hukuman dalam kegiatan pendidikan agar tujuan dalam proses pendidikan yang sudah ditentukan dapat tercapai dengan maksimal.

e)      Situasi pendidikan

Situasi pendidikan merupakan kondisi yang ditandai dengan adanya sejumlah kandungan pokok yang terdapat pada kegiatan pendidikan pendidikan, yaitu adanya peserta didik, pendidik, dan tujuan pendidikan yang ketiganya terintegrasi melalui proses pembelajaran. Menurut Uyoh Sadulloh (2010:111), situasi pendidikan ialah situasi yang diciptakan di mana pendidik melakukan interaksi kepada anak didik untuk mencapai tujuan tertentu dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan kewaspadaan. Di sini akan terjadi proses interaksi belajar-mengajar antara guru-siswa untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

Peranan situasi pendidikan ini amatlah penting karena di sinilah terjadi proses transfer ilmu dan nilai dari guru ke siswa. Situasi pendidikan juga dapat berarti latar atau tempat di mana berlangsungnya pendidikan yang dibedakan menjadi pendidikan informal, formal, dan non-formal.

  1. Bagaimana anda menerapkan teori perkembangan kognitif, teori sosial, emosional dan keputusan moral dalam pembelajaran di kelas?

JAWAB:

Sebelum menjawabnya, mari terlebih dahulu kita mempelajari satu persatu mengenai teori perkembangan kognitif, teori sosial, emosional dan keputusan moral.

a)      Teori perkembangan kognitif merupakan teori yang berhubungan dengan perkembangan intelegensi anak, kemampuan anak dalam memeperoleh pengetahuan-pengetahuan baru. Teori perkembangan kognitif yang paling dikenal ialah teori perkembangan kognitif Piaget. Piaget menggabungkan dua skema, yakni asimilasi, menggabungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan lama dan akomodasi, menyesuaikan diri terhadap pengetahuan baru. Berikut ialah tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget.

PERIODE USIA DESKRIPSI PERKEMBANGAN
Sensorimotor 0-2 tahun Pengetahuan anak diperoleh melalui interaksi fisik, baik dengan orang atau objek (benda). Skema-skemanya baru berbentuk refleks-refleks sederhana, seperti menggenggam atau menghisap
Praoperasional 2-6 tahun Anak mulai menggunakan simbol-simbol untuk merepresentasikan dunia secara kognitif. Simbol-simbol itu seperti kata-kata dan bilangan yang dapat menggantikan objek, peristiwa dan kegiatan
Operasi Konkret 6-11 tahun Anak sudah dapat membentuk operasi-operasi mental atas pengetahuan yang mereka miliki. Mereka dapat menambah, mengurangi, dan mengubah. Anak sudah dapat memecahkan masalah secara logis. Maka inilah usia tepat untuk anak bersekolah di jenjang sekolah dasar. Anak berpikir secara logik tetapi dengan menggunakan benda atau media konkrit
Operasi Formal 11 tahun sampai dewasa Periode ini merupakan operasi mental pada level tinggi. Anak sudah bisa menghubungkan peristiwa abstrak dan sudah dapat memecahkan masalah

Penerapan teori perkembangan kognitif ini dalam proses pembelajaran di kelas ialah: (1) Menggunakan benda konkrit dalam pembelajaran; (2) menggunakan peralatan visual; (3) memanfaatkan lingkungan sekitar; (4) memastikan presentasi yang singkat dengan jawaban sederhana; dan (5) mengkondisikan siswa agar menganalisis mulai dari tingkatan sederhana menuju yang kompleks agar tingkat kemampuan kognitifnya berkembang (secara induktif); (6) pengajaran discovery

b)      Teori sosial ialah teori yang berkenaan dengan lingkungan sosial dan hubungan interpersonal. Teori ini menekankan bagaimana anak dapat mengembangkan keterampilan sosialnya sesuai dengan kebudayaan masyarakat di sekitarnya. Perkembangan sosial anak dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orang tua serta guru terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anak bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penerapannya dalam proses pembelajaran, maka yang harus dilakukan guru ialah: (1) mengkondisikan proses pembelajaran yang mengeksplore keterampilan sosial siswa seperti adanya interaksi dalam kerja kelompok; (2) memberikan contoh konkrit tentang bagaimana cara penerapan interaksi sosial; (3) penanaman nilai budi pekerti; (4) menampilkan isu-isu sosial sehingga siswa dilatih untuk berpikir kritis dalam menyikapi masalah-masalah sosial

c)      Perkembangan emosional. Emosi merupakan perasaan-perasaan tertentu yang dialami saat menghadapi suatu situasi tertentu. Emosional anak dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar anak. Mereka belajar dan meniru bagaimana orang di sekitar memberikan reaksi emosi terhadap sesuatu. Emosional anak terjadi akibat respons yang ia berikan terhadap stimulus.

Peran guru dalam memfasilitasi perkembangan emosi anak ketika mereka berada di sekolah sangatlah vital. Hal ini disebabkan karena aktivitas anak bersama teman-temannya yang lain banyak terjadi di sekolah, khususnya di dalam kelas. Hubungan jiwa antara guru-siswa dapat membantu berkembangnya kecerdasan emosi anak sehingga mereka dapat belajar saling menghargai, memahami, dan meniru nilai-nilai budi pekerti yang ditanamkan oleh gurunya. Ini berarti bahwa pribadi seorang guru mampu memberikan suatu  “model” bagaimana ia seharusnya. Ada beberapa kondisi yang merupakan aspek penting dalam membentuk pola hubungan antara guru-siswa (James L. Paul, 1954:303-304): (1) Guru-siswa saling menghormati satu sama lain secara positif, karena siswa memerlukan rasa aman dan bernilai di mata gurunya; (2) Guru menyampaikan sikap penuh arti dalam ranah belajar dan menuju keberhasilan; (3) Guru menunjukkan kesediaan dan kemampuan untuk memecahkan masalah dan konflik; (4) Guru sebagai pribadi yang mengamankan.

Dalam proses pembelajaran, guru hendaknya:

1)   Merancang pembelajaran yang menarik dan dapat memberikan motivasi serta semangat siswa dalam belajar

2)   Hindari mengingat kesalahan-kesalahannya yang pernah terjadi di masa lampau

3)   Tanggap dan fokus terhadap isi dari materi pembelajaran

4)   Membangun pengulangan terhadap tindakan positif siswa

5)   Mendorong siswa mengontrol setiap tugas sekolahnya

6)   Tetap melibatkan siswa secara aktif

7)   Penggunaan bahasa sederhana, secara langsung, netral

d)     Keputusan moral

Moral adalah kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tata cara kehidupan. Nilai-nilai moral berupa seruan untuk berbuat baik dengan orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan, menjaga hak-hak orang lain, larangan berbuat jahat atau istilahnya amar ma’ruf nahi munkar. Seseorang dikatakan bermoral apabila menjunjung nilai-nilai moral yang berlaku dalam masyarakat. Penanaman nilai-nilai moral pada anak-anak hendaknya ditanamkan sejak dini. Perkembangan moral anak terjadi melalui pendidikan langsung, identifikasi, dan proses coba-coba

Anak-anak belajar untuk menjadi baik dengan dihadapkan pada perbuatan baik dan tindakan melalui model orang-orang terkenal (melalui teks dan multimedia) dan yang lebih diperkuat oleh penilaian guru tentang moral, etika, dan perilaku agar tidak memilih model yang salah. Ini adalah pendekatan langsung ke dalam pendidikan moral yang melibatkan membuat siswa melek moral dasar untuk mencegah mereka terlibat dalam perilaku tidak bermoral dan merugikan diri sendiri atau orang lain (Santrock 2001, hal. 108)

  1. Coba anda analisis kondisi guru dan sekolah di Indonesia dewasa ini dan bandingkan dengan standar pendidikan nasional (8 standar) yang ditetapkan pemerintah. Standar mana yang tidak ada atau melebihi dari pandangan Colin Marsh tentang penyiapan menjadi guru.?

JAWAB:

Kita ketahui bahwa ada 8 Standar Nasional Pendidikan telah ditetapkan, yakni sebagai berikut.

a)      Standar Kompetensi Lulusan

Pada Permendiknas No 23 Tahun 2006 pasal 1 ayat (1) dan (2), Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan  dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik yang meliputi SKL satuan pendidikan dasar dan menengah, SKL lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan SKL minimal mata pelajaran. Untuk jenjang pendidikan dasar, SKL ditujukan agar siswa dapat meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. SKL ini menyempit tatkala dibedakan berdasarkan kelompok mata pelajaran. Masing-masing kelompok mata pelajaran akan berbeda standar yang dipatok sebagai SKL. Sedangkan kemudian SKL ini akan kembali mengerucut ketika dikelompokkan berdasarkan mata pelajaran-mata pelajaran dalam setiap jenjang pendidikan. Untuk SKL per mata pelajaran inilah yang selanjutnya menjadi rujukan dalam pengembangan standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam kurikulum KTSP.

Dalam implementasi SKL di sekolah, guru telah mengupayakan kegiatan pembelajaran dapat mengarahkan serta membimbing siswa dalam mencapai SKL per mata pelajaran yang telah ditenatukan. Jika ada siswa atau beberapa siswa yang tidak mencapai SKL maka akan diberikan remedial. Dalam pemaparan Collin Marsh, Beliau tidak menjelaskan mengenai SKL yang harus dicapai oleh siswa. Di Indonesia, untuk mencapai SKL maka selain guru menerapkan kegiatan pembelajaran yang student centered, sekolah pun memfasilitasinya dengan beragam alat peraga seperti pengadaan kit media pembelajaran, pelayanan bakat siswa seperti adanya muatan local dan ekstrakurikuler, pemberian contoh teladan kepada siswa, dan lain-lain.

b)      Standar Isi

Pada Permendiknas No 22 Tahun 2006 standar isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang selanjutnya disebut Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

Kedalaman muatan kurikulum pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar sehingga guru dengan mudah merumuskan tujuan instruksional yang harus dicapai siswa. Implementasi mengenai standar ini dapat dilihat dalam penyusunan program tahunan dan program semester, silabus, serta RPP yang dibuat guru. Sekolah mempunyai peranan penting dalam pengembangan standar isi karena pada perumusan tujuan instruksional diserahkan menjadi hak otonomi masing-masing pihak sekolah yang disesuaikan dengan karakteristik siswa dan lingkungan.

Collin Marsh tidak menjelaskan secara rinci apa saja lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal yang seharusnya menjadi bagian terpenting sebagai refleksi keberhasilan proses pendidikan di sekolah.

c)      Standar Proses

Dalam Permendiknas No 41 Tahun 2007, standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah mencakup perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran.

Kondisi di lapangan, sudah terlihat adanya pelaksanaan permendiknas ini di mana guru-guru telah membuat rencana pembelajaran, melaksakannya, serta memberikan penilaian terhadap hasil belajar siswa dan kemudian akhirnya dilakukan pengawasan dalam proses pembelajaran.

Collin Marsh menjelaskan juga mengenai hal-hal yang ada pada standar proses. Namun, Beliau tidak menyebutnya dengan RPP melainkan dengan Satuan Perencanaan

(1)   Prencanaan Pembelajaran

Dalam satuan perencanaan, Collin Marsh menyatakan bahwa ada beberapa katrakteristik, yakni: judul satuan, deskripsi tingkat kelas dan jumlah siswa, alasan untuk satuan, tujuan, sasaran, hasil, isi, memilih dan merancang aktivitas  pembelajaran, dan evaluasi.

(2)   Dalam proses pembelajaran, Collin Marsh menyatakan guru juga memberikan motivasi terlebih dahulu kepada siswa sebelum memasuki inti pembelajaran. Guru juga menggunakan beberapa instruction mode dalam mengajar. Pengorganisasian serta pengelolaan kelas diatur agar guru-siswa dapat berinteraksi secara efektif sehingga diperlukan keterampilan guru dalam me-manage kondisi siswa sebelum memulai pembelajaran.

(3)   Penilaian hasil belajar terdapat pada chapter 18. Collin Marsh (2008) menyatakan bahwa penilaian biasanya dilakukan untuk Diagnosis belajar dan memonitor kemajuan, memprediksi prestasi masa depan, memotivasi peserta didik, diagnosa proses pengajaran. Penilaian berbasis hasil merupakan salah satu jenis penilaian yang diungkapkan oleh Collin Marsh bagaimana seorang guru harus mampu menilai kemampuan siswa di akhir pembelajaran.

(4)   Pengawasan atau dalam istilah Collin Marsh ialah pencatatan dan pelaporan. Pencatatan ini dilakukan untuk membantu guru memantau perkembangan hasil belajar siswa, memberikan info kepada orang tua, memberikan arahan mengenai masa depan siswa, dan sebagai laporan kepada pemerintah.

d)     Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Dalam Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, ada 7 Permendiknas yang mengatur secara terpisah mengenai ini. Permendiknas No 12 mengatur tentang standar pengawas, Permendiknas No. 13 mengatur mengenai standar kepala sekolah, Permendiknas No. 16 mengatur menganai kualifikasi akademik, Permendiknas No.  24 tahun 2008 mengatur standar tenaga administratif, Permendiknas No. 25 mengatur tentang tenaga perpustakaan, Permendiknas No. 26 tahun 2008 mengatur standar tenaga laboratorium, dan Permendiknas No.`27 tahun 2008 mengatur tentang standar kualifikasi dan kompetensi konselor.

Melihat kondisi di lapangan, pelaksanaan keseluruh tenaga kependidikan ini dirasa sudah cukup baik. Namun, ada beberapa sekolah yang masih belum memiliki kelengakapan pegawai administrasi sehingga terkadang tugas-tugas yang seharusnya dilakukan oleh ahlinya malah diserahkan kepada guru padahal guru sudah memiliki tugasnya sendiri.

Collin Marsh tidak terlalu memaparkan mengenai standar pendidik dan tenaga kependidikan. Beliau menjelaskan mengenai kompetensi guru yang menghendaki adanya standar professional guru dalam mengajar, kompetensi kerja, adanya pelatihan bagi guru. Guru harus mempunyai sebuah kompetensi profesional yang memiliki atribut yang diperlukan untuk kinerja yang sesuai standar internasional (Gonczi, Hager & Oliver 1990). Artinya, profesional memiliki seperangkat atribut yang relevan seperti pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan sikap. Menurut Butler (1990:2) atribut dapat mencakup pengetahuan khusus, keterampilan kognitif, keterampilan teknis, keterampilan interpersonal, sifat-sifat (seperti tingkat energi pribadi dan tipe kepribadian tertentu) dan, akhirnya, sikap yang menimbulkan pola perilaku yang diinginkan.

e)      Standar Sarana dan Prasarana

Pada Permendiknas No. 24 Tahun 2007, setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi ruang kelas, ruang perpustakaan,  laboratorium IPA, ruang pimpinan, ruang guru, tempat beribadah, ruang UKS, jamban, gudang, ruang sirkulasi, tempat bermain/berolahraga. Di Indonesia masih ada sekolah yang belum memiliki ruang perpustakaan khusus, laboratorium IPA, serta ruang peribadatan yang dapat menunjang kegiatan keagamaan di sekolah. WC pun masih banyak yang tidak sehat dan bersih. Lahan sekolah pun terbatas untuk kegiatan olahraga sehingga siswa seringkali diajak ke luar sekolah untuk mencari lapangan kosong untuk berolahraga. Serta dengan lahan yang sempit, maka siswa cenderung untuk bermain di kelas pada saat jam istirahat.

Collin Marsh memposisikan lingkungan belajar sebagai faktor penting dalam memberikan motivasi belajar anak. Pengaturan tata letak ruangan, pencahayaan, serta keberadaan sekolah itu yang tidak dekat dengan jalan raya. Kemudian sara pembelajaran seperti media dan sumber belajar juga dijelaskan oleh Marsh Collin ssecara lengkap sehingga guru hanya memilih media apa yang cocok dipergunakan dalam pembelajaran.

f)       Standar Pengelolaan

Pengelolaan pendidikan menurut Permendiknas No. 19 Tahun 2007 meliputi perencanaan program yang berisi visi, misi, tujuan serta rencana kerja sekolah; kemudian pelaksanaan rencana kerja; serta pengawasan dan evaluasi.

Di Indonesia rencana kerja sekolah sering disebut Rencana Pengembangan Sekolah (RPS). RPS ini disusun oleh pihak sekolah dan komite sekolah. proses penyusunan RPS tidak kalah penting dengan dokumen RPS yang merupakan hasil dariproses tersebut. Terkadang ada sekolah yang aktif dalam merancang RPS namun buruk dalam pelaksanaannya. Seyogyanyalah sekolah bersama anggota komite lain melakukan evaluasi rencana kerja sekolah kemudian mencari solusi atas kendala-kendala yang ditemui di sekolah.

Collin Marsh menyatakan bahwa para pemegang kebijakan harus terlibat secara aktif  dalam perencanaan RPS, hubungan dalam  budaya sekolah harus tercipta dengan baik. Rencana Pengembangan Sekolah merupakan rencana keseluruhan dari sistem, inisiatif sekolah, kebijakan dan prioritas karena bertujuan untuk perbaikan sekolah yang jelas dan berkelanjutan.

g)      Standar Pembiayaan

Menurut Permendiknas No 69 Tahun 2009, mengenai pembiayaan operasional di sekolah. Di Indonesia diberlakukan pendanaan BOS yang membantu pihak sekolah dalam menunjang ketersediaannya fasilitas serta sarana dan prasarana di sekolah. Collin Marsh tidak menjelaskan bagaimana standar pembiayaan yang ideal dalam pelaksanaan pendidikan.

h)      Standar Penilaian

Standar penilaian diatur oleh Permendiknas No 20 Tahun 2007 di mana di sini dijelaskan bahwa penilaian dilakukan oleh pendidik dalam rangka melihat pencapaian hasil belajar siswa berdasarkan KKM dan KKB. Kemudian dilakukan ujian semester. Dan di akhir jenjang pendidikan akan dilaksanakan ujian sekolah dan ujian nasional yang hasilnya nanti akan digunakan sebagai tolak ukur untuk menuju jenjang pendidikan berikutnya. Di Indonesia telah diberlakukan UN dan disediakan program remidi serta Program Paket A/B/C yang dapat memberikan kesempatan kembali bagi siswa untuk mencapai ketuntasan minimal yang telah ditetapkan sebelumnya.

Collin Marsh tidak menjelaskan bagaimana standar penilaian yang ideal dalam pelaksanaan pendidikan. Hanya telah dipaparkan pada point (c) mengenai proses penilaian dalam standar proses bahwa Collin Marsh menjelaskan juga dengan detail mengenai bentuk dan alat  penilaian, alasan melakukan penilaian, sasaran melakukan penilaian, penilaian berbasis hasil, pentingnya pencatatan dan pelaporan dalam melakukan penilaian.

  1. Prinsip-prinsip apa yang harus ada dalam pendidikan di sekolah menurut Collin Marsh, dimulai dari konsepsi tentang siswa, guru, tujuan dan hasil pendidikan, dan bagaimana langkah-langkah management untuk mencapai hasil pendidikan yang efektif, serta bagaimana selayaknya hubungan sekolah dengan orang tua?

 

JAWAB:

a)      Siswa

Siswa adalah individu-individu yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Mereka mamiliki kemampuan intelektual yang beragam dan itu adalah ciri khas dari mereka masing-masing. Dalam kemampuan kognitifnya, siswa SD umumnya berada dalam tahapan operasional konkret (dalam tahap perkembangan kognitif Piaget) di mana mereka memerlukan suatu objek yang konkrit yang dapat memberikan stimulus dalam pengembangan aspek kognitif mereka. Umumnya karakteristik siswa dalam tahapan ini ialah: (1) dapat menggunakan sistem klasifikasi yang berbeda; (2) dapat mengenali stabilitas dunia fisik; (3) dapat mengenali bahwa elemen-elemen dapat berubah tanpa kehilangan karakteristik dasarnya (conservation); (4) dapat merangking objek yang berbeda sesuai perintah, contohnya berdasarkan ukuran (serialising); (5) membangun lebih banyak sosiometri dan makin turunnya pendekatan egosentris ketika berkomunikasi dengan orang lain

b)      Guru

Guru atau biasa kita sebut sebagai pendidik di sekolah merupakan orang yang bertanggung jawab membimbing siswa untuk mencapai kedewasaan. Dalam Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevealuasi peserta didik, pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan fomal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Ciri seorang pendidik ialah: (1) memiliki kewibawaan; (2) mengenal anak didiknya; (3) membantu anak didiknya; (4) mampu menjadi teladan bagi siswa; (5) Guru berfungsi sebagai pendidik disamping sebagai pengajar. Guru membentuk sikap siswa, menjadi contoh atau teladan bagi siswa-siswanya.

c)      Tujuan dan Hasil Pendidikan

  • Tujuan membantu guru dan siswa untuk berfokus pada apa yang akan dievaluasi. Harus ada hubungan yang erat antara, tes dan daftar tugas  yang diberikan oleh guru dengan tujuan dari unit pelajarannya. Sehingga umpan balik yang diterima murid dari penilaian itu memungkinkan mereka tahu apakah mereka mencapai standar yang diperlukan atau tidak.

Dengan adanya rumusan tujuan maka guru akan mudah dalam menyusun kegiatan pembelajaran, media apa yang digunakan, metode pembelajaran, serta merancang alat tes yang sesuai dalam rangka pencapaian tujuan tersebut. Di lain sisi, tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arahan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap pendidikan.

Tujuan pendidikan menurut Collin Marsh terbagi menjadi: (1) Tujuan Behavioral. Tujuan-tujuan ini berfokus pada perubahan yang teramati dan terukur pada siswa. Biasanya, penganut tujuan perilaku membutuhkan tiga kriteria yang harus dipenuhi, yaitu: bukti prestasi, kondisi kinerja dan tingkat kinerja yang dapat diterima. (2) Tujuan Istruksional yakni tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran tertentu. Menurut Collin Marsh, ada beberapa kriteria yang memungkinkan guru dan pengembang kurikulum untuk menghasilkan tujuan instruksional yang efektif meliputi: ruang lingkup, konsistensi, kesesuaian, validitas, kelayakan, spesifisitas

Tujuan instruksional erat hubungannya dengan taksonomi Bloom di mana Bloom mengkelompokkan ada tiga domain yang harus diukur, yakni domain kognitif yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi; domain afektif yang terdiri dari menerima, menanggapi, menghargai, terorganisasi, karakterisasi dengan nilai; dan domain psikomotor yang keluar dari persepsi dasar untuk perkembangan kreatifitas.

  • Hasil pendidikan

Willis dan Kissane (1997) mendefinisikan “outcomes/hasil”sebagai gambaran yang mencerminkan kompetensi siswa dalam jangka panjang yang memberikan bayangan yang berarti di luar sekolah,  dan yang juga bisa digunakan pada rincian dari setiap isi kurikulum, urutan tertentu, atau pedagogi.

Menurut Spady (1993), ‘pendidikan yang berorientasi pada hasil’ (OBE) berarti memfokuskan  dan mengorganisasikan suatu program sekolah serta upaya pencapainnya pada hasilagar semua siswa, agar bisa diimplementasikan ketika mereka berada di masyarakat.

d)     Langkah-langkah management dalam mendapatkan hasil pendidikan yang efektif

Hasil pendidikan yang efektif akan didapat jika terdapat pengaturan dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi serta pengawasan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan guru di kelas. Untuk mendapatkan hasil pendidikan yang efektif maka diupayakan beberapa hal berikut:

(1)   Perumusan tujuan dari pendidikan/pembelajaran yang jelas sehingga siswa mengerti untuk apa ia belajar

(2)   Prose pembelajaran yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian, serta pengawasan hendaknya mengarahkan ketercapaian tujuan pendidikan yang telah dirumuskan. Strategi pembelajaran pun dirancang sedemikian rupa sehingga siswa merasakan adanya pengalaman yang ia dapatkan ketika proses pembelajaran berlangsung.

(3)   Selalu mengoptimalkan penggunaan sumber-sumber belajar dari apapun dan manapun selagi masih berkenaan dengan materi pembelajaran yang diajarkan.

(4)   Bebaskan siswa dalam mengembangkan bakat dan potensi mereka. Guru hanya sebagai fasilitator bukan mandor.

(5)   Kemudian fungsi dari manajemen sekolah hendaknya aktif dalam perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, serta pengawasan dalam pendidikan.

(6)   Pentingnya refleksi dari setiap kegiatan pendidikan berupa laporan mengenai perkembangan hasil belajar siswa sehingga akan dicarikan solusi dalam mengatasi permasalahannya dan akan meningkatkan kualitas program yang sudah dianggap baik.

(7)   Pemberian achievement dan teguran kepada pihak-pihak yang bekerja dengan baik atau teguran kepada yang lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan tenaga kependidikan

e)      Hubungan sekolah dan orang tua

Dalam dunia pendidikan, mendidik bukan hanya dibebankan hanya kepada pihak sekolah khususnya guru, tetapi peran orang tua pun sangat penting. Perjalanan seorang siswa dalam mencapai kedewasaan dipengaruhi oleh orang-orang di sekelilingnya. Maka sudah seharusnyalah orangtua dan pihak sekolah bekerja sama dalam menjadi teladan bagi siswa. Peran orang tua dalam pensuksesan belajar siswa di sekolah amatlah penting, baik dari segi dukungan moril, dana, pemikiran, pengambilan keputusan bahkan membuat kebijakan di sekolah.

Seorang guru yang baik hendaknya mengkomunikasikan permasalahan siswa dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah. Jika siswa mengalami masalah di rumah maka orang tua akan memberikan suatu tindakan yang dapat membangkitkan motivasi siswa dalam belajar. Dan juga orang tua bertukar pikiran dengan guru bagaimana cara belajar anaknya di sekolah serta hambatan-hambatan apa saja yang ia temukan ketika belajar di sekolah, bagaimana interaksi sosialnya dengan teman-teman di sekolah, adakah keantusiasannya dalam mengikuti pelajaran di sekolah, dll.

Dan juga orang tua berhak untuk ikut berpartisispasi dalam membuat kebijakan sekolah yang dapat menunjang keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

  1. Coba anda bandingkan antara RPS menurut Collin Marsh dengan sistem penyusunan RPS di Indonesia pada umumnya! Apa kebaikan dan kelemahan di antara kedua konsep tersebut?

JAWAB:

a)   RPS di Australia

Gambaran Umum Rencana Pengembangan Sekolah

Data Program

Sistem Informasi

Rencana Pengembangan Sekolah 2005

Rencana Prioritas untuk Melek Huruf, Berhitung dan Kesehatan

Rencana untuk : Bahasa Inggris

Matematika

Informasi lokal

Teknologi dan Perusahaan

Ilmu pengetahuan

Seni Visual

Masyarakat dan Lingkungan

LOTE

Seni

Fisik Pendidikan

Kesehatan

Teknologi Komunikasi

Model Sekolah dan Model Sekolah Kelompok untuk Pengembangan Sekolah di Australia Barat

Sekolah Individu Sekolah Kelompok
TanggungjawabPenguasaanProgram Pembelajaran

Infrastruktur

Sumber Daya Manusia

Hasil laporan tahunan, pendaftaran, kepuasan orang tua, keuangan sekolahTinjauan dewan sekolah dan perencanaan pendukung sekolah, pengembangan anggaran dan kebijakan sekolahMengumpulkan data basis menggunakan hasil laporan siswa dan menentukan bentuk laporan untuk orang tua

Mengelola peralatan dan program pemeliharaan

Menetapkan profil staf yang disukai

Laporan tahunan pada hasil per komunitas sekolah yang rapiDewan daerah berpartisipasi dan mendukung komunitas sekolahMengumpulkan database menggunakan hasil laporan siswa dann menentukan bentuk laporan kepada orang tua

Bekerjasama dalam penyebaran sumber daya

Menetapkan profil staf yang disukai

Sumber: Berdasarkan Departemen Pendidikan Australia Barat. 1999

b)   FORMAT-FORMAT RPS di Indonesia

Halaman Pengesahan

Format 1 : Data Sekolah

Format 2 : Gambaran Keadaan Sekolah

Format 3 : Pandangan dan Harapan Pihak-Pihak yang Berkepentingan

Format 4 : Analisis Masalah, Penyebab Masalah, Tujuan dan   Penanganan

Format 5 : Rencana Kerja

Format 6 : Jadwal Kegiatan Tahunan

Format 7 : Rencana Pendapatan dan Penggunaan Dana Sekolah

Format 8 : Jadwal Pemantauan Kinerja Sekolah oleh Masyarakat

Kebaikan dan Kelemahan RPS Australia dan Indonesia

  Kelemahan Kelebihan
RPS Australia
  • Masih kurang lengkap mengenai komponen-komponen RPS yang akan dinilai
  • Program-program strategis sekolah tidak tercantum
    • Indikator penilaian dalam pencapaian pelaksanaan RPS telah disusun sesuai dengan hasil yang ingin dicapai
RPS Indonesia
  • Format RPS yang begitu “indah” terlihat terkadang pelaksanaannya tak seindah isinya. Masih banyak sekolah yang mengisi format RPS tatkala akan dilakukan akreditasi sekolah ataupun ketika pengawas datang ke sekolah
  • Banyaknya komponen yang akan diisi pada format RPS membuat sekolah bekerja keras dalam membuat RPS demi tercapainya sekolah yang ideal bagi siswa
    • Rincian komponen RPS disusun sedemikian jelas sehingga akan mempermudah pengecekan dalam tingkat ketercapaian indikator penilain RPS

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s