UTS Landasan Filosofis

Posted: November 20, 2012 in Makalah

UJIAN TENGAH SEMESTER

LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN

 

  1. Filsafat adalah salah satu pendekatan untuk memecahkan masalah pendidikan di samping pendekatan-pendekatan lainnya seperti pendekatan ilmiah dan pendekatan sistem.

a)      Kemukakan pendapat Anda perbedaan ketiga pendekatan tersebut dalam memecahkan masalah pendidikan!

b)      Jelaskan pula mengapa landasan filosofis pendidikan diperlukan dalam mengkaji dan menyelenggarakan pendidikan dasar baik bagi praktisi, pakar, maupun pengambil keputusan dalam bidang tersebut!

JAWAB:

a)    Pendekatan filosofis adalah cara pandang atau paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya. Pendekatan filosofis memberikan suatu cara untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidkan dengan menggunakan metode filsafat. Dalam pendidikan akan muncul maslah-masalah yang lebih luas, kompleks dan mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta factual, yang tidak mungkin dijangkau dengan ilmu sains. Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup.  Pendekatan filosofis pada intinya bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat mengenai sesuatu yang berada di balik objek tertentu. Inti tujuan pendidikan ialah Keimanan kepada Tuhan YME,  hakikat pendidikan adalah membebaskan atau memerdekakan manusia lebih manusiawi, (blog.umy.ac.id/sitirohana/2012/01/04/pendekatan-filosofis-terhadap-hakekat-tujuan-pendidikan/ diakses tanggal 11 November 2012). Cara kerja pendekatan filsafat dalam pendidikan dilakukan melalui metode berpikir yang radikal, sistematis, dan menyeluruh tentang pendidkan, sehingga dikelompokkan menjadi model filsafat spekulatif, model filsafat prespektif, dan model filsafat analitik.

Pemecahan masalah pendidikan dengan menggunakan pendekatan sistem. (irnarajak.blogspot.com/2011/11/normal-0-style-definitions-table.html?m=1 diakses tanggal 11 November 2012) pemecahan masalah dengan pendekatan system sebagai berikut: suatu cara yang sistematik dan sistemik untuk memecahkan masalah, proses yang teratur untuk mengembangkan cara pemecahan, proses yang disusun untuk meminimalisisr pendapat terdahulu yang bersifat prasangka dan mengoptimalkan keobyektifan. Ada beberapa tahapan dalam pendekatan system: merumuskan kebutuhan nyata, merumuskan tujuan, mengidentifikasi kendala, merumuskan alternative-alternatif, memilih alternative, mengimplementasi pilihan, mengadakan evaluasi, mengadakan modifikasi.

Pendekatan ilmiah atau pendekatan sains adalah suatu pengkajian penddikan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidkan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya (akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/01/07/pendekatan-pendekatan-dalam-teoti-pendidikan/ diakses tanggal 11 November 2012) Cara kerja pendekatan ilmiah menggunakan prinsip dan metode kerja ilmiah yang bersifat kuantitatif dan kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang detail dan mendalam. Melalui pendekatan ilmiah inilah maka lahirlah ilmu-ilmu seperti sosiologi pendidikan, psikologi pendidikan, administrasi/manajemen pendidikan, teknologi pendidikan, evaluasi pendidikan, dan bimbingan konseling.

b)        Landasan filosofis pendidikan diperlukan dalam mengkaji dan menyelenggarakan pendidikan dasar karena pada dasarnya bahwa landasan filosofis merupakan suatu dasar yang akan menjawab persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosofis dan memerlukan jawaban filosofis pula. Peranan landasan filosofis pendidikan adalah memberikan rambu-rambu apa dan bagaimana seharusnya pendidikan dilaksanakan. Rambu-rambu tersebut bertolak pada kaidah metafisika, epistemology dan aksiologi pendidikan sebagaimana studi dalam filsafat pendidikan Dalam hubungannya dengan metafisika, maka pendidikan mendapatkan apa itu hakikat pendidikan, hakikat anak, dan tujuan pendidikan yang akan dicapai. Kemudian berhubungan dengan epistemology, maka kita akan mengetahui pengetahuan-pengetahuan apa saja yang akan diberikan kepada anak, menentukan bagaimana guru dan siswa belajar, penentuan isi kurikulum, metode serta strategi pembelajaran yang cocok. Lalu mengenai aksiologi, maka tatanan nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan akan masuk ke dalam pendidikan sehingga akan memberikan masukan nilai-nilai apa saja yang pantas untuk diberikan kepada anak.

  1. Rujuk buku Pendidikan Taman Siswa karya Ki Hajar Dewantara.

a)      Kemukakan analisis Anda tentang hakikat: (1) pendidikan; (2) tujuan pendidikan; (3) isi pendidikan; (4) proses pendidikan; (5) pendidik; dan (6) peserta didik

b)      Jelaskan nilai-nilai pendidikan Taman Siswa yang relevan dengan Sistem Pendidikan Nasional Indonesia saat ini, serta implikasinya bagi penyelenggaraan pendidikan dasar!

JAWAB:

a)        Hakikat pendidikan

Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dalam Pendidikan Taman Siswa ialah sebagai media perjuangan untuk mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batinnya. Konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah merdeka lahir batin. Ada tiga prinsip dasar dalam pendidikan yang Beliau usung, yakni: (1) Ing ngarsa sung tulada (yang di depan memberi teladan/ contoh); (2) Ing madya mangun karsa (yang di tengah membangun prakarsa/semangat); (3) Tut wuri handayani (dari belakang mendukung). Ini berarti bahwa pendidikan merupakan interaksi antara pembawaan dan potensi dengan bakat yang dimiliki anak, di mana dalam interaksi tersebut pendidik memiliki peran-aktif, tidak menyerahkan begitu saja kepada anak didik, dan sebaliknya pendidik tidak boleh dominan menguasai anak.

Tujuan Pendidikan

Ki Hajar Dewantara ialah menjadikan manusia merdeka lahir dan batin, tidak ada tekanan dan paksaan dari orang lain. Merdeka lahiriah artinya tidak dijajah secara fisik, ekonomi, politik, dsb; sedangkan merdeka secara batiniah adalah mampu mengendalikan keadaan (pendidikan4sejarah.blogspot.com/2011/05/sejarah-taman-siswa.html?m=1 diakses tanggal 11 November 2012). Tujuan pendidikan Taman Siswa adalah membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, merdeka lahir batin, luhur akal budinya, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani dan rohaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya.

Isi Pendidikan

Di Taman Siswa ada “Konsep Tringa” yang terdiri dari ngerti (mengetahui), (memahami) dan nglakoni (melakukan). Maknanya ialah, tujuan belajar itu pada dasarnya ialah meningkatkan pengetahuan anak didik tentang apa yang dipelajarinya, mengasah rasa untuk meningkat-kan pemahaman tentang apa yang diketahuinya, serta meningkatkan kemampuan untuk melaksanakan apa yang dipelajarinya. Maka dapat disimpulkan bahwa isi pendidikan yang berikan kepada perserta didik yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara dalam Pendidikan Taman Siswa ialah membelajarkan nilai, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam dewasa ini dikenal dengan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

Proses Pendidikan

Pendidikan Taman Siswa yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara dilaksanakan berdasarkan Sistem Among, yaitu suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Sistem among ini didasarkan pada Sistem Tutwuri Handayani sehingga pendidikan diorientasikan pada system student centered. Konsep sistem pamong siantaranya seperti: (1) menjadikan anak enjoy  dalam belajar dengan mengajaknya bermain karena pada dasarnya seorang manusia dalam belajar bukan hanya mengandalkan otak kiri semata namun perlu ada keseimbangan juga dengan otak kanan; (2) mendidik siswa dalam mencari sendiri pengetahuan itu, ini bisa disebut dengan pembelajaran inquiry sehingga pembelajaran akan mengutamakan sistem student centered dan juga penanaman nilai-nilai moral kepada siswa; (3) melakukan pendekatan secara kekeluargaan artinya menyatukan kehangatan keluarga dengan sekolah dalam sistem wiyatagriya.

b)        Dalam system pendidikan di Taman Siswa dilakukan system aming, di mana guru bukan lah sebagai pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan semata, tetapi juga mendidik, membina, serta mengayomi segala tingkah laku siswa serta memberikan suatu metode pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Misalnya dengan mengajak siswa bermain sambil belajar, menggunakan metode yang dapat membuat siswa enjoy serta cepat memahami pelajaran dengan baik. Dalam Azas Tamansiswa butir 2 disebutkan pula “Pamong jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik (menurut silabus) saja, akan tetapi harus mendidik siswa mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum.” Dan system ini adalah baik untuk diterapkan di pendidikan dasar di Indonesia. Sekarang Indonesia telah menganut system KTSP di mana guru bebas mengembangkan metode pembelajaran apa yang sesuai dengan materi ajar serta dapat diseimbangkan dengan cara belajar siswa. Siswa SD masih dalam tahap operasional konkret sehingga perlu daya imajinasi guru dalam menyampaikan pelajaran agar dapat diterima siswa tanpa membebani pikiran siswa. Sistem pamong ini kiranya baik untuk diterapkan agar siswa tidak merasa bahwa belajar itu menyusahkan dan siswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan.

  1. Sejak tahun 1945 hingga saat ini Sistem Pendidikan Indonesia memiliki landasan idiil yang sama yaitu Pancasila. Namun, memiliki rumusan tujuan pendidikan nasional yang berbeda.

a)      Deskripsikan dan analisis makna rumusan tujuan pendidikan nasional periode 1945-1950 berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1954, Undang-Undang Sisdiknas No 2 Tahun 1989, dan Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003

b)      Kemukakan analisis Anda implikasi dari tujuan pendidikan nasional sebagaimana dirumuskan dalam setiap periode terhadap penyelenggaraan pendidikan dasar khususnya bagi pengembangan kurikulum dan proses pendidikan

JAWAB:

a)      Pada periode tahun 1945-1950, pendidikan Indonesia sedang mengalami perubahan karena pada periode ini Bangsa Indonesia telah merdeka sehingga cita-cita dan tujuan pendidikan pun berubah. Dari yang dulunya terkonsep oleh kepentingan Jepang, sekarang disesuaikan dengan cita-cita Bangsa Indonesia yang merdeka. Maka, tujuan pendidikan pada periode ini dirumuskan dengan menyesuaikan kebutuhan Bangsa Indonesia yakni “mendidik warga negara yang sejati, sedia menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk negara dan masyarakat.” Dengan kata lain tujuan pendidikan ditekankan kepada semangat patriotisme karena Bangsa Indonesia baru saja merdeka. Hal ini berbeda dengan tujuan pendidikan yang berubah di periode 1949.

Pada tahun 1949 Bangsa Indonesia mengalami perubahan ketatanegaraan menjadi Republik Indonesia Serikat dan berdampak pada perubahan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan periode 1945-1950  berbeda dengan tujuan pendidikan dan pengajaran dalam UU No. 4 Tahun 1950 (jo Undang-Undang No 12 Tahun 1954) Bab II Pasal 3 adalah “Membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air”. Karena Bangsa Indonesia sudah merdeka dan menganut system demokrasi maka tujuan pendidikannya pun menghendaki agar system pendidikan menghasilkan warganegara yang bersifat demokratis. Sehingga sistem persekolahan menanamkan dan mengembangkan sifat-sifat demokratis pada anak-anak didiknya dan tujuan pendidikan tahun 1945-1950 tidak lagi dipergunakan karena situasi pemerintahan Indonesia telah berubah.  Tujuan pendidikan bertahan dan tetap diterapkan sampai adanya perubahan tujuan pendidikan pada tahun 1989.

Pada UU Sisdiknas No. 2 Tahun 1989, tujuan Pendidikan Nasional  amatlah jauh berbeda dari tujuan pendidikan tahun 1945-1950 maupun dengan tujuan pendidikan UU No. 4 Tahun 1950 (jo Undang-Undang No 12 Tahun 1954), yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Pada UU No 20 Tahun 2003, pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan amatlah berubah di mana yang diperiotaskan bukan hanya kepatuhan terhadap Tuhan tetapi juga bagaimana siswa mempunyai kecakapan serta kreatif secara mandiri dalam kehidupan masyarakat.

b)     Tujuan Pendidikan Periode 1945-1950

Tujuan pendidikan pada periode ini dirumuskan dengan menyesuaikan kebutuhan Bangsa Indonesia, yakni “mendidik warga negara yang sejati, sedia menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk negara dan masyarakat.” Awal kurikulum terbentuk pada tahun 1947 yang diberi nama Rentjana Pembelajaran 1947. Kurikulum pada saat itu meneruskan kurikulum yang sudah digunakan oleh Belanda karena pada saat itu masih dalam proses perjuangan merebut kemerdekaan (malikabdulkarim.blogspot.com/2011/05/sejarah-perkembangan-kurikulum.html?m=1 diakses tanggal 11 November 2012) yang lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain.  Asas pendidikan ditetapkan Pancasila.

Tujuan Pendidikan Menurut Undang-Undang No. 4 Tahun 1950

Dalam Undang-Undang No. 4/1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah, Bab II pasal 3 dinyatakan, ”Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakup dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air”.

Kurikulum yang dipakai berganti nama menjadi Rentjana Pelajaran Terurai 1952yang memperhatikan isi pelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Silabus mata pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar satu mata pelajaran. Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis. Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.

Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Tujuannya membentuk manusia Pancasila sejati.

Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.

Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).

Tujuan Pendidikan Periode Undang-Undang Sisdiknas No. 2 Tahun 1989

Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya yakni Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan undang-undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak

Tujuan Pendidikan Periode Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003

Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004. KBK adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Depdiknas, 2002). Kurikulum ini menitikberatkan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap serangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab. Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Sayangnya, kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa, yakni ujian. Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP ini merupakan bentuk implementasi dari UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: (1)standar isi, (2)standar proses, (3)standar kompetensi lulusan, (4)standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5)standar sarana dan prasarana, (6)standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan (7)standar penilaian pendidikan. Guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Jadi pengambangan perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota(http://gledysapricilia.wordpress.com/study/sejarah-perkembangan-kurikulum-di-indonesia/ diakses tanggal 11 November 2012)

  1. Rujuk Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003. Berdasarkan perspektif filosofis, kemukakan analisis Anda tentang hakikat pendidikan dan hakikat pendidikan dasar!

JAWAB:

Berdasarkan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

Jika dilihat istilah etimologi, pendidikan berasal dari kata didik yang berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seeorang atau kelompok orang di usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam GBHN (Sadulloh, 2010:5) diungkapkan bahwa “pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu usaha yang disadari untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia, yang didasari untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia, yang dilaksanakan di dalam maupun di luar sekolah, dan berlangsung seumur hidup.”

Jalaluddin (2012:7) menjelaskan bahwa pendidikan ialah sebuah bimbingan yang dilakukan secara sadar oleh pendidik terhadap aspek perkembangan jasmani dan rohani siswa agar tercapai manusia yang memiliki kepribadian yang utama dan ideal, yakni kepribadian yang memiliki kesadaran moral dan sikap mental secara teguh dan sungguh-sungguh memegang dan melaksanakan ajaran atau prinsip-prinsip nilai (filsafat) yang menjadi pandangan hidup secara individu, masyarakat maupun filsafat bangsa dan negara.

Jadi, pendidikan adalah sebuah keharusan yang hendaknya diberikan oleh orang dewasa kepada siswa karena siswa belum mempunyai kemampuan apa-apa ketika mereka lahir hingga akhirnya lingkunganlah yang memberikan masukan pengetahuan-pengetahuan serta bimbingan agar mereka dapat mencapai kepribadian yang baik dan mempunyai pengetahuan yang luas. Seperti dalam aliran pendidikan, ada: a) nativisme, di mana aliran ini berkeyakinan bahwa setiap anak membawa bakat luar biasa yang akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak sebagai manusia; b) empirisme, di mana terjadi sebuah kontradiktif dengan aliran nativisme. Aliran empirisme berkeyakinan bahwa anak didik itu ibarat kertas putih yang kosong dan jika lingkungan yang menjadi ”pena” maka anak pun akan terisi penuh dengan segala pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh lingkungan melalui interaksi sosialnya.

Dalam mahzab humanisme rasional dikatakan bahwa faktor terpenting dalam alam semesta adalah manusia dan kemanusiaan. Pendidikan hendaknya bertujuan mengembangkan kecerdasan, dengan melalui latihan berpikir dan mengenali tata hokum ilmu sesuai dengan kebudayaan. Naturalistik romantik berpandangan bahwa kenyataan dari alam adalah baik, menjadi rusak karena tangan atau ulah manusia. Sehingga dengan demikian bahwa pendidikanlah yang akan menciptakan manusia-manusia bermoral yang akan menjaga lingkungan di sekitarnya.

Pendidikan dasar ialah salah satu jenis jalur pendidikan formal di mana di dalamnya adalah pendidikan sekolah dasar untuk anak usia 7-12 tahun. Pendidikan dasar ibaratkan salah satu gerbang pinti masuk bagi seseorang dalam memasuki “pintu” pendidikan berikutnya. Pembinaan sikap, akhlak, serta nilai-nilai amaga dan kemanusiaan hendaknya ditanamkan ketika anak berada di pendidikan dasar.  Anak usia sekolah dasar merupakan masa kritis bagi pembentukan karakternya di masa depan. Sehingga keberhasilan pembentukan kepribadian baik di masa depan ditentukan sejak dini. Pendidikan dasar menurut UNESCO (m.kompasiana.com/post/edukasi/2011/orientasi-penyelenggaraan-pendidikan-dasar-berbasis-pendidikan-karakter/ diakses tanggal 11 November 2012) dikonsepsikan sebagai pendidikan awal untuk setiap anak yang pada prinsipnya berlangsung dari usia sekitar 3 tahun sampai dengan sekurang-kurangnya berusia 12-15 tahun.

  1. Buatlah rancangan pembelajaran SD yang mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 41 Tahun 2007 yang mengandung makna pembelajaran yang mendidik!

JAWAB:

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Mata Pelajaran                        : Ilmu Pengetahuan Alam

Kelas/Semester                        : IV/I

  1. A.    Standar Kompetensi

Memahami hubungan antara struktur bagian tumbuhan dengan fungsinya

  1. B.  Kompetensi Dasar

Menjelaskan hubungan antara struktur akar tumbuhan dengan fungsinya

  1. C.    Indikator
    1. Kognitif

Produk:

  1. Menyebutkan pengertian akar
  2. Menjelaskan jenis-jenis akar
  3. Menyebutkan fungsi akar

Proses

a. Mengelompokkan jenis-jenis akar

b. Mendiskusikan fungsi akar

  1. Afektif (Keterampilan Sosial) :
    1. Menunjukkan perilaku berkarakter, meliputi : teliti, kerja sama, dan menghargai pendapat teman.
    2. Menampilkan keterampilan sosial, meliputi : bertanya, menyumbangkan ide atau berpendapat, dan berkomunikasi.
    3. Psikomotor
      1. Menggambarkan bentuk akar
      2. D.      Tujuan pembelajaran
        1. Kognitif

Produk:

  1. Siswa diharapkan dapat menyebutkan pengertian akar dengan tepat
  2. Siswa diharapkan dapat menjelaskan minimal 4 jenis akar dengan tepat
  3. Siswa diharapkan dapat menyebutkan minimal 3 fungsi akar dengan tepat

Proses

a. Siswa diharapkan dapat mengelompokkan jenis-jenis akar  dengan tepat

b. Siswa diharapkan dapat mendiskusikan fungsi akar dengan benar

  1. Afektif
    1. Terlibat dalam proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, siswa dapat menunjukkan perilaku berkarakter, meliputi : teliti, kerja sama, dan menghargai pendapat teman.
    2. Terlibat dalam proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, siswa dapat menampilkan keterampilan sosial, meliputi : bertanya, menyumbangkan ide atau berpendapat dan berkomunikasi.
    3. Psikomotor
      1. Siswa diharapkan dapat menggambarkan bentuk akar dengan benar
      2. E.       Materi pelajaran

Pengertian akar,  jenis akar, dan fungsi akar (terlampir)

  1. F.       Strategi pembelajaran

Metode pembelajaran

  1. Ceramah interaktif
  2. Inquiry berkelompok
  3. Permainan
  4. G.      Media dan sarana prasarana

Gambar aneka tumbuhan, Tabel pengelompokkan jenis akar, Lagu jenis akar, Lembar kerja siswa (terlampir)

  1. H.      Pengorganisasian kelas

Individu dan Kelompok

  1. I.         Kegiatan pembelajaran
Pelaksanaan Kegiatan
  1. Kegiatan awal (15 menit)
  1. Kegiatan inti (40 menit)

3. Kegiatan akhir (15 menit)

Apersepsi

– Guru menanyakan kepada siswa siapa yang pernah melihat tanaman yang dicabut dari dalam tanah

– Guru menjelaskan sekilas tentang bagian-bagian tumbuhan

– Menunjukkan gambar beberapa tanaman dengan jenis akar yang berbeda kepada siswa

– Guru menanyakan kepada siswa nama tanaman  tersebut

– Guru mengajak siswa menyanyikan lagu jenis-jenis akar

– Menjelaskan tujuan pembelajaran

  1. Guru-siswa melakukan tanya-jawab
  2. Siswa menjelaskan pengertian akar, jenis-jenis akar, beserta fungsinya
  3. Guru menunjukkan jenis-jenis akar yang telah dibawa
  4. Guru meminta siswa mengidentifikasi tanaman di sekitar kelas atau sekolah mereka termasuk ke dalam jenis akar apa
  5. Guru membagi siswa menjadi beberapa   kelompok
  6. Siswa mengelompokkan tanaman berdasarkan jenis akarnya
  7. Tiap kelompok saling menilai hasil pekerjaan kelompok yang lain
  8. Perwakilan siswa menyampaikan hasil  kerja kelompok yang diperiksa dan siswa lainnya menanggapi
  9. Guru memberikan penguatan kepada setiap siswa selama proses pembelajaran
  10. Siswa melakukan permainan adu cepat “koboi” (aturan permainan terlampir)
  1. Membimbing siswa untuk menyumbangkan ide  untuk bersama-sama menyimpulkan hasil kegiatan dan meminta siswa utuk mencatat hasil rangkuman secara individu
  2. Guru mengadakan refleksi pembelajaran
  3. Pelaksanaan tes untuk mengetahui kemampuan kognitif siswa
  4. Guru memberikan penghargaan kepada siswa secara perorangan ataupun kelompok  yang tekun selama mengikuti pembelajaran
  5. Guru memberikan tindak lanjut berupa menggambarkan bentuk akar
  6. Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
  7. J.        Sumber belajar

1. Standar isi mata pelajaran IPA kelas IV  Sekolah Dasar.

2. Sulistyanto, Heri. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam Untuk Siswa Kelas IV SD. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

3. Haryanto. 2007. Sains Jilid 4. Jakarta: Erlangga

  1. K.      Penilaian
  2. Prosedur tes          : Tes Proses dan Tes akhir
  3. Bentuk tes                        : Tes perbuatan dan tes tertulis
  4. Jenis tes:               : Isian sebanyak 10 soal
    1. Alat tes                 : Lembar Kerja Siswa, Lembar  pengamatan, dan

Lembar soal

  1. Penilaian kognitif produk

Alat tes berupa Lembar Soal. Bobot nilai keseluruhan adalah 100 (terlampir)

  1. Penilaian Psikomotor:  Lembar kegiatan siswa (terlampir)
  2. Penilaian Afektif: lembar penilaian sikap (terlampir).

DAFTAR PUSTAKA

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1979. Pendidikan Indonesia dari Jaman ke Jaman. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan

Jalaluddin, dkk. 2012. Filsafat Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Sadulloh, Uyoh. 2010.  Pedagogik (Ilmu Mendidik). Bandung: Alfabeta

Akses Internet:

akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/01/07/pendekatan-pendekatan-dalam-teoti-pendidikan/ diakses tanggal 11 November 2012

blog.umy.ac.id/sitirohana/2012/01/04/pendekatan-filosofis-terhadap-hakekat-tujuan-pendidikan/ diakses tanggal 11 November 2012

http://gledysapricilia.wordpress.com/study/sejarah-perkembangan-kurikulum-di-indonesia/ diakses tanggal 11 November 2012

irnarajak.blogspot.com/2011/11/normal-0-style-definitions-table.html?m=1 diakses tanggal 11 November 2012

malikabdulkarim.blogspot.com/2011/05/sejarah-perkembangan-kurikulum.html?m=1 diakses tanggal 11 November 2012

m.kompasiana.com/post/edukasi/2011/orientasi-penyelenggaraan-pendidikan-dasar-berbasis-pendidikan-karakter/ diakses tanggal 11 November 2012

pendidikan4sejarah.blogspot.com/2011/05/sejarah-taman-siswa.html?m=1 diakses tanggal 11 November 2012

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s