Tiada bolehkah tuk mempunyai cita-cita yang bersifat duniawi?

Posted: November 20, 2012 in Motivasi

 

            Ada seseorang yang bilang kepada saya bahwa tidak perlu mempunyai cita-cita yang bersifat keduniawian, hidup itu mengalir saja hanya mengharap ridho Allah. Tiada yang salah dengan pendapat ini. Setiap orang mempunyai pendapat masing-masing. Tapi saya ingin mengungkapkan ketidaksetujuan saya dengan perspektifnya terhadap cita-cita.

(Seketika setelah ia mengatakan ini kepada saya, maka ingatan saya langsung melayang ke siswa-siswa SMA yang berusaha keras belajar untuk lulus di SNMPTN)

Saya ilustrasikan, ada seorang anak SMA kelas 3 yang berjuang belajar siang malam karena ingin lulus di fakultas kedokteran di salah satu universitas ternama. Segala soal serta kursus ia ikuti demi mencapai cita-citanya tersebut. Kemudian setelah ujian masuk, ia pun lulus dan selang beberapa tahun kemudian ia pun menjadi dokter yang berjuang demi kemaslahatan manusia. Kemudian ada seorang siswa SMA lainnya yang berjuang keras belajar demi masuk ke fakultas hukum di universitas terkenal. Namun, setelah ia mengikuti tes seleksi masuk, ia pun lulus di pilihan kedua yakni fakultas komputer. Ia tidak kecewa dan beberapa tahun kemudian ia menjadi ahli komputer di sebuah perusahaan yang melayani kebutuhan ummat manusia.

Kisah yang kita lihat barusan adalah gambaran bagaimana manusia itu berusaha mencapai apa yang ingin ia cita-citakan kemudian ia mengikuti tes untuk mencapainya. Jika ia mendapatkan hasil terbaik yakni tercapailah cita-citanya maka ia akan bersyukur. Namun, jika tidak maka ia berusaha yakin akan keputusan Allah karena mungkin itulah yang terbaik baginya.

Lantas, jika cita-cita yang bersifat duniawi itu pada akhirnya akan membawa manusia yakin dengan qadar Allah, kemudian membuat ia berbakti kepada Allah melalui cita-citanya, kenapa “haram” mempunyai ambisis atau cita-cita duniawi?

Hidup itu bukanlah seperti air mengalir. Hidup haruslah mempunyai tujuan apa yang hendak dicapai. Tujuan hidup manusia sudah jelas menyembah dan berbakti kepada Allah. Namun, apakah salah mempunyai tujuan hidup (cita-cita) yang dapat mengantarkan kita untuk berbakti kepada Allah?

Atau bagaimana dengan pendapat untuk apa mencari banyak uang yang bersifat duniawi kalau uang juga tidak dibawa mati? Ini adalah kekeliruan besar. Dengan uang kita bisa membantu orang lain yang sedang mengalami kesussahan. Ini adalah perbuatan baik, kan? Bukankah perbuatan baik adalah salah satu indicator bahwa kita berbakti kepada Allah? Bukankah membantu orang lain melalui cita-cita kita juga adalah bukti kecintaan kita kepada ummat manusia yang merupakan ciptaan allah.

Apa salahnya jika saya berambisi menjadi seorang dosen? Toh, dengan menjadi dosen, kuliah S2 maka saya akan mendapatkan banyak ilmu yang pada akhirnya nanti akan saya salurkan kepada banyak orang dan merupakan amal jariyah untuk saya kelak di akhirat? Namun jika Allah menghendaki sesuatu yang berbeda dengan cita-cita saya makan seharusnyalah saya berbaik sangka terhadap keputusan Allah. Inilah yang menjadi ibadah tambahan mengapa kita harus mempunyai cita-cita. Yang salah itu adalah jika kita terlalu menuhankan cita-cita sehingga tidak ridho terhadap keputusan Allah yang kita anggap tidak sesuai dengan keinginan kita.

Lantas bagaimana dengan siswa SMA yang tidak lulus di fakultas hukum melainkan di fakultas computer? Apakah ia lantas marah dengan Allah dan membiarkan diri bersedih karena kegagalannya? Tidak. Ia tetap menerima keputusan Allah dan itu adalah ibadah tambahan baginya. Ia jalani dengan ikhlas dan akhirnya memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.

Jadi, janganlah langsung menilai bahwa jika seseorang mempunyai ambisi bersifat keduniawian yang tinggi maka ia akan terperosok jatuh ke jurang kehinaan di hadapan Allah. Bermimpi, bercita-cita, berambisi untuk kehidupan dunia itu boleh namun pelaksanaan dalam usaha memperolehnyalah yang harus selalu bergantung pada ridho Allah. Sehingga segala sesuatu yang terjadi di masa akhir perjuangan mencapai cita-cita itu akan dikembalikan kepada Allah mana yang terbaik bagi kita. Itulah inti dari kenapa kita harus mempunyai cita-cita dan tujuan hidup. Jadikanlah ia sebagai kendaraan dalam beribadah kepada Allah.

Sekian uneg-uneg saya mengenai ketidaksetujuan saya bahwa tidak perlu repot-repot mempunyai cita-cita dunia dan hiduplah seperti air yang mengalir…!!!!!!!!

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s