OPINI

Posted: November 20, 2012 in Motivasi

“Hidup terasa pendek jika melihat sejarah. Begitu lama ketika menderita” (SHG)

Apa yang kau pikirkan mengenai hidup ini, kawan? Hanyalah kesenangan dunia? Bukan, hidup bukan hanya sekedar mencari kesenangan duniawi. Bekal akhirat kita persiapkanlah ketika kita di dunia. Bukan berarti tidak boleh mencari dunia, tapi cara dan hasil dari pencarian dunia itulah yang kita gunakan sebagai investasi akhirat. Bekerja dengan ikhlas untuk mencari nafkah bagi keluarga sebanyak-banyak mungkin itu bagus. Namun, ada hak saudara kita di dalam hasil nafkah itu. Sisihkanlah untuk bersedekah dan berzakat.

Mempunyai mimpi tinggi setinggi bintang di angkasa pun boleh. Tidak ada yang melarang. Pergunakanlah ilmumu nanti untuk investasi akhirat. Didiklah generasi bangsa (anak) dengan ilmu yang bermanfaat. Gunakanlah untuk kemaslahatan ummat. Yang menjadi dokter, berikanlah pelayanan kesehatan terbaik dan terjangkau bagi masyarakat. Ajak msyarakat untuk hidup bersih. Yang menjadi guru, didiklah anak bangsa menjadi berakhlak mulia dengan ilmu yang membawa mereka semakin tawadhu’. Yang menjadi polisi, jaksa, hakim, pengacara tegakkanlah hokum dengan seadil-adilnya. Menjadi presiden dan menteri yang jujur dan amanah. Dan segala apa yang menjadi profesi ataupun aktivitas kita untuk mengumpulkan dunia ini haruslah dilandasi dengan ketaqwaan kepada Allah agar dunia bukan hanya sekedar dunia. Janganlah kita yang dikendalikan dunia melainkan kitalah yang mengendalikannya. Bukankah Allah memberikan kita akal untuk berpikir. Jangan seperti hewan yang hanya mengandalkan insting. Tidak pernah berpikir untuk apa ia makan, tidur, dan berkembang biak. Hidup kita ini untuk menyembah Allah (Adz Dzariyat:59) bukan untuk menyembah dunia. Genggamlah dunia dan buatlah dunia itu tunduk dalam kebaikan kita bukan kerakusan semata.

Punya gadget super canggih dan mahal sah-sah saja asal pergunakanlah untuk kemaslahatan ummat. Berikan pemikiran serta ide-ide melalui media sosial. Manfaatkalah kecanggihan alat kemunikasi ini, kawan. Namun, jangan jadikan dunia sebagai prioritas utama. Ingatlah, jika kita menjauhi dunia dan mendekat kepada Allah maka dunialah yang akan mengejar kita. Janganlah heran jika ada ahli ibadah yang kaya raya tapi ia tetap sederhana dan tawadhu’. Ia tidak membutuhkan dunia, lantas ia sedekahkan semua hartanya dan apa yang terjadi? Harta itu pun kembali lagi kepadanya bahkan berlipay-lipat jumlahnya. Lihatlah sahabat Rasulullah SAW, Abu Baka, r.a yang rela hanya meninggalkan Al Quran dan sunnah Rasullah kepada keluarganya sedangkan ia seorang yang kaya raya. Seluruh hartanya ia jihadkan ke jalan Allah, Dan surga adalah tempat yang layak untuknya. Surga adalah puncak nikmat tertinggi, kawan. Kenikmatan dunia ini hanya 0,000…% dari kenikmatan surga.

Sebagai orang muslim, kita haruslah kaya, kawan. Bagaiman mungkin dunia ini akan makmur jika dikuasai oleh orang-orang kaya dari golongan agama lain. Sedangkan rakyat muslim lainnya kelaparan. Seorang muslim yang kaya maka ia akan berusaha membantu muslim lainnya dengan hartanya itu. Dapat memberikan kesempatan beribadah dengan nyaman bagi muslim lainnya dengan mendirikan masjid di daerah yang terpencil ataupun di daerah yang mayoritas penduduknya nonmuslim. Muslim yang kaya dapat membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi kaum muslim yang belum bekerja, Maka ekonomi rakyat muslim akan maju dan tidak akan aada lagi pengangguran, angkat kematian yang tinggi, tawuran, dan kelaparan jika semua muslim hidup berkecukupan. Tidak akan ada lagi orang-orang yang akan memusuhi, melecehkan, dan menindas Islam jika banyak muslim yang menguasai perekonomian, persenjataan, dan media.

Jadi, dunia hanya boleh kita kejar (diseimbangkan dengan ketaqwaan kepada Allah) dalam rangka melayani ummat muslim lainnya. Namun, jika kita meninggalkan dunia pun maka dunia masih akan mengejar kita. Karena itu dalam menyikapi dunia hendaklah tegas. Ambillah sesuai kebutuhanmu dengan sederhana kemudian bagilah dengan muslim lainnya maka kehidupan dunia ini akan menjadi “surga” sebelum mencapai “surga” yang sebenarnya di alam akhirat.

Wallahu ‘alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s