ONTOLOGY

Posted: November 20, 2012 in Makalah
Tag:

ASPEK ONTOLOGIS ILMU PENGETAHUAN

 

  1. A.      ONTOLOGI ATAU METAFISIKA

Istilah “ontologi ” berasal dari kata Yunani onta yang berarti “sesuatu yang sungguh-sungguh ada”, “kenyataan yang sesungguhnya”, dan logos yang berarti “studi tentang”, “teori yang membicarakan” (Angeles: 1981).

Ontologi mempelajari ciri hakiki (pokok) dari keberadaan (being) yang berbeda dari studi tentang hal-hal yang ada secara khusus. Ontologi mempelajari keberadaan dalam bentuknya yang paling abstrak, dan pertanyaan yang diajukan adalah “apakah keberadaan atau pengada atau yang ada itu? Apakah hakikat keberadaan sebagai keberadaan (being-as-being)?”

Ontologi merupakan cabang filsafat yang membicarakan tatanan (keteraturan) dan struktur kenyataan dalam arti yang luas. Kategori-kategori yang dipakai adalah: mengada/menjadi, aktualitas/potensionalitas, nyata/nampak, perubahan, eksistensi/noneksistensi, hakikat, kemutlakan yang terdalam.

Ontologi dipakai searti dengan metafisika atau dianggap sebagai cabang dari metafisika jika tinjauannya dikaitkan dengan cabang filsafat yang lain misalnya epistemologi, etika, dan estetika. Pandangan yang menyatakan bahwa ontologi sebagai cabang dari metafisika dikatakan pandangan tradisional.

Bertitik tolak dari uraian di atas metafisika atau ontologi mengandung arti sebagai berikut.

1)   Suatu usaha intelektual untuk mendeskripsikan sifat-sifat umum dari kenyataan

2)   Suatu usaha untuk memperoleh penjelasan yang benar tentang kenyataan

3)   Studi tentang kenyataan yang terdalam dari semua hal

4)   Studi tentang sifat pokok kenyataan dalam aspeknya yang paling umum sejauh hal itu dapat dicapai

5)   Teori tentang sifat pokok dan struktur dari kenyataan

Dengan demikian konsep-konsep yang fundamental dari metafisika di samping keberadaan (yang ada; pengada) ialah eksistensi, kenyataan, dan alam semesta. The Liang Gie (1978) menyatakan bahwa secara tradisional metafisika dicirikan sebagai studi yang paling fundamental dan juga yang paling komprehensif maupun yang sepenuhnya kritis terhadap diri sendiri dari semua studi.

Menurut Jalaluddin (2012:77), ontologi berarti ilmu hakikat yang menyelidiki alam nyata dan bagaimana keadaan yang sebenarnya, apakah hakikat di balik alam nyata ini. Ontologi menyelidiki hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata yang sangat terbatas bagi pancaindra kita. Bagaimana realita yang ada, apakah hanya terbatas pada materi, apakah wujud sesuatu ini bersifat tetap, kekal tanpa perubahan, apakah realita berbentuk satu unsur (monoisme), dua unsur (dualisme) ataukah terdiri dari unsur yang banyak (pluralisme).

Rene Descartes, John Locke, dan Goerge Berkeley berpendapat bahwa apa yang ditangkap oleh pikiran, termasuk penginderaan dari segenap pengalaman manusia, adalah bersifat mental. Bagi Descartes maka yang bersifat nyata adalah pikiran sebab dengan berpikirlah sesuatu itu lantas ada. Locke sendiri menganggap bahwa pikiran manusia pada mulanya dapat diibaratkan sebuah lempeng licin di mana pengalaman indera kemudian melekat pada lempeng tersebut. Makin lama makin banyak pengalaman indera yang terkumpul dan kombinasi dari pengalaman-pengalaman indera ini seterusnya membuahkan ide yang kian lama kian rumit. Dengan demikian pikiran dapat diibaratkan sebagai organ yang menangkap dan menympan pengalaman indera.

  1. B.       OBJEK FORMAL ONTOLOGI

Ontologi dalam meninjau kenyataan atau realitas melakukannya dengan satu perspektif. Sudut pandangan atau objek formalnya adalah memberikan dasar-dasar yang paling umum bagi semua masalah yang menyangkut manusia, dunia, dan Tuhan seperti misalnya masalah keberadaan, penggolongan keberadaan, kebersamaan, kebebasan, badan, jiwa, perkembangan, moralitas, dan agama. Yang menjadi titik tolak dan dasar ontologi adalah refleksi terhadap kenyataan yang paling dekat yaitu manusia sendiri dan dunianya pribadi. Dengan demikian jalan ontologi merupakan suatu jalan hermeneutic yaitu memberikan suatu interpretasi mengenai keseluruhan pengalaman sehari-hari.

Ontologi bergerak dalam dua bagian, yakni antara pengalaman akan kenyataan konkrit dan prapengertian “mengada” yang paling umum. Atas dasar pengalaman tentang kenyataan akan semakin disadari dan diungkapkan arti dan hakikat “mengada” akan semakin menyoroti pengalaman konkrit itu, dan membuatnya sungguh-sungguh terpahami.

  1. C.      KEDUDUKAN ONTOLOGI

Ontologi berbeda dengan bidang lain dalam hal objek yang diteliti serta corak yang dimilikinya. Bakker (1992) menyatakan bahwa ontologi merupakan “ilmu pengetahuan” yang paling universal dan paling menyeluruh. Ontologi meneliti pengada atau yang ada sekadar pengada. Sedangkan mengada itu merupakan sekaligus hal yang paling terkenal, dan hal yang paling sukar diungkapkan. Oleh karena ontologi meneliti dasar paling umum untuk segala-galanya maka ontologi disebut filsafat pertama.

 

  1. D.      KARAKTERISTIK ONTOLOGI

Ontologi dibandingkan dengan bidang-bidang lain memiliki ciri-ciri yaitu susunan sistematis baru, bipolar structural dan strukturan hirarkis pyramidal (Bakker, 1992). Yang dimaksud dengan susunan sistematis baru ialah bahwa pemikirannya ditentukan oleh parameter atau lingkup paling luar yaitu sosialitas dan historisitas. Setelah itu, ruang yang ditentukan oleh batas-batas itu diisi dan dikembangkan lebih lanjut, seperti dimensi kejasmanian dan kerohanian, kegiatan, arti dan, nilai.

Yang dimaksud dengan bipolaritas structural adalah bahwa seluruh realitas memperlihatkan pertemuan dua kutub structural yang selalu bersama dan seukuran, dan yang mutlak saling menentukan. Hal ini tidak dimaksudkan sebagai dialektika afirmasi dan negasi (Hegel) tetapi dengan jauh lebih sederhana setiap kali dianalisis sebagai fakta dua kutub positif, yang bersama-sama mengkonstitusikan suatu medan baru dalam pengalaman manusia utuh. Tiga pasang kutub merupakan bipolaritas paling fundamental yang mewarnai semuanya yaitu otonomi dan korelasi, permanensi, dan kebaruan, kejasmanian dan kerohanian.

Kemudian, strukturasi hirarkis piramida ialah bahwa pusat kenyataan adalah manusia dan realitas dengan paling jelas dan eksplisit ditemukan dalam refleksi atas eksistensinya pribadi.

  1. E.       METAFISIKA DAN ILMU PENGETAHUAN KHUSUS

Filsafat ialah induk ilmu, Objek material filsafat ialah seluruh kenyataan. Sedangkan ilmu-ilmu khusus memerlukan objek material yang terbatas sehingga mereka meisahkan diri dari filsafat, seperti astronomi, fisika, kimia, biologi, dan geologi. Kemudian pada abad ke-19 dua ilmu baru muncul, yakni psikologi dan sosiologi. Perbedaan yang paling mendasar antara metafisika dan ilmu-ilmu khusus terletak dalam onjek formal. Objek formal metafisika adalah relaitas sebagai realitas, sedangkan ilmu pengetahuan menyangkut sebagian realitas (Bagus, 1991).

Metode dan teknik ilmu pengetahuan khusus tidak mengantarkan manusia kepada insight khusus mengenai realitas objek-objek yang diteliti. Ilmu khusus tidak mengantar manusia sampai pada makna terdalam dari yang diselidiki. Metafisika memiliki objek formal tersendiri, karena itu merupakan sebuah ilmu otonom.

Ada hubungan timbale balik antara ilmu-ilmu khusus dengan filsafat. Banyak masalah filsafat yang memerlukan landasan pada pengetahuan ilmiah apabila pembahasannya tidak ingin dikatakan dangkal dan keliru. Setiap ilmu memiliki konsep-konsep dan asumsi-asumsi yang bagi ilmu itu sendiri tidak perlu dipersoalkan lagi. Terhadap ilmu-ilmu khusus, filsafat khususnya filsafat ilmu secara kritis menganalisis konsep-konsep dan memeriksa asumsi-asumsi dari ilmu-ilmu untuk memeproleh arti dan validitasnya. Kalau konsep-konsep dari ilmu tidak dijelaskan dan asumsi-asumsi tidak dikuatkan maka hasil-hasil yang dicapai ilmu tersebut tanpa memperoleh landasan yang kokoh.

Interaksi antara filsafat dan ilmu-ilmu khusus menyangkut tujuan dari filsafat. Filsafat berusaha mengatur hasil-hasil dari berbagai ilmu-ilmu khusus ke dalam suatu pandangan hidup dan pandangan dunia yang tersatupadukan, kemprehensif, dan konsisten.

 

  1. F.       MASALAH FILSAFAT

Masalah filsafat dapat dibedakan menjadi tiga, yakni:

  1. Masalah tentang ada, yang ada, keberadaan (being)/eksistensi. Masalah keberadaan/eksistensi dibahas dalam cabang filsafat metafisika. Masalah metafisika dibedakan menjadi tiga, yaitu: masalah ontologi (ada-mana), kosmologi (ada-dunia), dan antropologi (ada-manusia).
  2. Masalah tentang oengetahuan (knowledge)/kebenaran (truth). Masalah tentang pengetahuan/kebenaran ditinjau dari segi isinya dibahas dalam cabang filsafat epistemology. Masalah pengetahuan/kebenaran ditinjau dari segi bentuknya dibahas dalam cabang filsafat logika.
  3. Masalah tentang nilai-nilai (values). Masalah tentang nilai-nilai dibahas dalam cabang filsafat aksiologi. Aksiologi (nilai-nilai kebenaran) dibedakan menjadi dua: (a) nilai-nilai kebaikan yang dibahas dalam filsafat etika, (b) nilai-nilai keindahan yang dibahas dalam filsafat estetika.

 

  1. G.      MASALAH METAFISIS

Masalah metafisis dibagi tiga, yaitu: problem ontologis, problem kosmologi, dan problem antropologi.

  1. Problem ontologis

a)      Apa yang dimaksud dengan ada, keberadaan, atau eksistensi dan bagaimanakah penggolongan cara beradanya?

b)      Bagaimanakah kuantitas dan susunan dari keberadaan atau eksistensi?

c)      Bagaimanakah kualitas (sifat) dari keberadaan atau eksistensi?

d)     Kualitas dari keberadaan itu tetap ataukah berubah?

e)      Apa saja kualitas (sifat) dari keberadaan?

f)       Bagaimanakah proses dari keberadaan?

  1. Problem kosmologi

a)      Jenis keteraturan apa saja yang ada dalam alam?

b)      Apa hakikat hubungan sebeb dan akibat?

c)      Apakah ruang itu dan apakah ruang tidak terbatas?

d)     Apakah waktu itu dan apakah waktu mempunyai permulaan?

  1. Problem antropologi

a)      Bagaimanakah susunan hakikat manusia itu?

b)      Bagaimanakah terjadi hubungan badan dan jiwa?

c)      Apa yang dimaksud dengan kesadaran?

d)     Manusia sebagai makhluk bebas ataukah tak bebas?

  1. H.      BEBERAPA PANDANGAN TENTANG KEBERADAAN (PANDANGAN ONTOLOGIS)
    1. Beberapa pandangan yang menyangkut keberadaan dipandang dari segi jumlah atau kuantitas.

a)      Monoisme

Berpandangan bahwa hanya ada satu keberadaan yang fundamental. Keberadaan tersebut dapat berupa jiwa, roh, materi, Tuhan atau substansi lainnya

Bakker (1992) membedakan antara monoisme mutlak dan monoisme lunak. Monoisme mutlak mereduksi sedapat mungkin segala kegandaan tunggal saja apakah itu berupa materi seragam atau roh unik. Yang ada atau keberadaan hanya satu tanpa perbedaan. Monoisme lunak berpandangan bahwa hanya ada satu keberadaan apakah materi atau roh yang meliputi seluruh kenyataan.

b)      Dualisme

Berpandangan bahwa ada dua keberadaan (substansi) yang masing-masing berdiri sendiri. Plato membedakan dua dunia yaitu indera (dunia bayang-bayang) dan dunia intelek (dunia ide). Descartes membedakan dua substansi yaitu substansi fikiran dan substansi keluasan. Leibnitz membedakan antara dunia yang sesungguhnya dan dunia yang mungkin. Immanuel Kant membedakan antara dunia gejala (fenomena) dan dunia hakiki (noumena).

c)      Pluralisme

Berpandangan bahwa ada keberadaan yang banyak (lebih dari dua). Pendapat para tokoh ialah: (1) Empedokles, menyatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri dari empat unsur yaitu udara, api, air, dan tanah; (2) Anaxagoras, menyatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri dari unsur-unsur yang tidak terhitung banyaknya, sebanyak jumlah sifat benda dan semuanya dikuasai oleh suatu tenaga yang dinamakan nous; (3) Leibnitz, menyatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri dari monade-monade yang tidak terhingga banyaknya.

  1. Beberapa pandangan yang menyangkut keberadaan dipandang dari segi sifat atau kualitas

a)      Spiritualisme

Berpandangan bahwa keberadaan atau kenyataan yang terdalam adalah roh, idea, cita, yaitu sesuatu yang bukan materi. Plato mengemukakan bahwa idea atau cita adalah gambaran asli segala benda. Idea tidak dapat ditangkap dengan indera tetapi dapat dipikirkan. Yang dapat ditangkap oleh indera ialah dunia bayang-bayang. Leibnitz dengan teorinya tentang monade. Monade adalah sesuatu bersahaja, sederhana, tidak menempati ruang, tidak berbentuk. Sifatnya yang utama adalah gerak, menanggap, dan berpikir. Setiap monade bersifat otonom mutlak.

b)      Materialisme

Berpandangan bahwa yang merupakan keberadaan adalah materi, yaitu sesuatu yang menempati ruang, dapat diindera, dapat diraba, berbentuk. Para tokohnya ialah: (1) Demokritos, berkeyakinan bahwa alam semesta tersusun atas atom-atom kecil yang memiliki bentuk dan badan; (2) Thomas Hobbes, berpendapat bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia merupakan gerak dari materi, termasuk pikiran dan perasaan.

Lorens Bagus (1996) menggolongkan enam bentuk materialisme: (1) materialisme rasionalistis, pandangan yang menganggap bahwa seluruh kenyataan dapat dimengerti secara keseluruhan berdasarkan ukuran dan bilangan; (2) materialisme mitis, pandangan yang menyatakan bahwa dalam peristiwa-peristiwa material terdapat misteri yang mengungguli kita; (3) materialisme antropologis, muncul dalam dua bentuk, yakni membantah adanya jiwa dan menyangkal adanya ketidaktergantungan eksistensial jiwa pada materi; (5) materialisme dialektis, memadukan pandangan bahwa yang nyata adalah materi semata-mata di satu pihak dengan “dialektika” Hegel di pihak lain; (6) materialisme historis, menganggap bahwa sejarah terjadi karena proses-proses ekonomis.

  1. Beberapa pandangan yang menyangkut keberadaan dipandang dari segi proses, kejadian, dan perubahan

a)      Mekanisme

Berpandangan bahwa semua gejala dari keberadaan dapat dijelaskan berdasar asas-asas mekanik. Semua gejala adalah hasil dari materi yang bergerak dan berproses menurut kaidah sebab-akibat. Semua peristiwa berdasar pada sebab kerja yang dilawankan dengan sebab tujuan.

Descartes menganggap bahwa hakikat materi adalah keluasan (extension) dan semua gejala fisik dapat diterangkan dengan kaidah-kaidah mekanik. Sedangkan bagi Immanuel Kant, kepastian dari suatu kejadian sesuai dengan kaidah ssebab-akibat (causality) sebagai kaidah alam. Teori mekanik ini diterapkan dalam bidang psikologi assosiasional dan psikoanalisis.

b)      Teleology

Berpandangan bahwa yang berlaku dalam gejala alam bukanlah semata-mata kaidah sebab-akibat, akan tetapi sejak semula memang ada sesuatu kemauan atau kekuatan yang mengarahkan alam ke suatu tujuan. Plato membedakan antara idea dan materi. Tujuan berlaku di alam idea, sedangkan kaidah sebab-akibat berlaku dalam materi.

Menurut Aristoteles, ada empat macam sebab, yaitu: (1) sebab bahan (material cause), ialah menjadikan sesuatu itu ada; (sebab bentuk (formal cause), ialah yang menjadikan sesuatu itu berbentuk; (3) sebab kerja (efficient cause), ialah yang menjadikan bentuk itu bekerja atas bahan; dan (4) sebab tujuan (final cause), ialah yang menyebabkan yujuan semata-mata karena perubahan tempat atau gerak.

c)      Vitalisme

Memandang bahwa kehidupan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan secara fisika-kimiawi karena hakikatnya berbeda dengan yang tidak hidup. Dalam hidup bekerja suatu asas khusus yang disebut asas hidup yang dinamakan entelechy. Bergson menyebutnya dengan elan vital, yang merupakan sumber dari sebab kerja dan perkembangan dalam alam. Asas hidup ini mengatur gejala hidup dan menyesuaikan dengan tujuan hidup. Vitalisme disebut juga finalisme.

d)     Organisme

Aliran ini biasanya dilawankan dengan maknisme dan vitalisme. Menurut organisme, hidup adalah suatu struktur yang dinamik, suatu kebulatan yang memiliki bagian-bagian yang heterogen. Akan tetapi, yang terutama adalah adanya system yang teratur.

 

  1. I.         BAGIAN DAN KESATUAN KESELURUHAN

Dalam kehidupan, ada banyak suatu kesatuan atau keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur. Untuk mengetahui hubungan antara bagian-bagian dan keseluruhan dan peranan fungsi keseluruhan maka dapat ditinjau dari teori sebagai berikut.

  1. Dalam kesatuan keseluruhan, setiap bagian berkedudukan secara mandiri.
  2. Dalam kesatuan-keseluruhan mekanis, hubungan secara fungsional tetapi tidak bergantung secara eksistensial.
  3. Dalam kesatuan organis, bagian-bagian dan keseluruhannya saling bergantung
  1. J.        HAKIKAT DAN ARTI ILMU PENGETAHUAN

Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan. Namun, hanya kumpulan pengetahuan yang memiliki syarat-syarat tertentu yang dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan. Pengetahuan adalah hasil dari kegiatan mengetahui. Proses manusia mengetahui melalui dua cara, yakni: lewat lewat indera (perceive) di mana hasil pengetahuannya disebut cerapan (perception) atau akal (conceive) di mana hasil pengetahuannya disebut pengertian (conception). Pengetahuan persepsi mengacu pada hal-hal konkrit sedangkan pengetahuan konsepsi mengacu pada hal-hal abstrak.

Dalam pengertian secara menyeluruh, ilmu adalah serangkaian kegiatan manusia dengan pikirannya dan menggunakan berbagai tata cara sehingga menghasilkan sekumpulan pengetahuan yang teratur mengenai gejala-gejala alami, kemasyarakatan dan perorangan yang bertujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan atau melakukan penerapan (The Liang Gie, 1997).

Ada tujuan umum yang ingin dicapai ilmuwan dalam kegiatan ilmiah, yakni mencapai kebenaran mengenai sesuatu hal. Kebenaran tersebut akan  memberikan pemahaman mengenai alam semesta, dunia sekeliling atau bahkan tentang masyarakat lingkungannya dan dirinya sendiri. Berdasarkan pemahaman ini, ilmu dapat memberikan berbagai penjelasan tentang gejala alam, peristiwa masyarakat atau perbuatan manusia yang perlu diterangkan, Akhirnya ilmu diarahkan pada tujuan penerapan, yaitu melaksanakan berbagai pengetahuan yang telah diperoleh untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi manusia.

Ada tiga arti mengenai ilmu pengetahuan, yaitu:

1)      Pengetahuan sebagai produk

Adalah pengetahuan yang telah diketahui dan diakui kebenarannya oleh masyarakat ilmuwan. Fakta ilmiah memungkinkan untuk disepakati dan terbuka untuk diteliti, diuji, atau ditambah oleh seseorang. Oleh karena itu, satu fakta ilmiah tidaklah bersifat original, melainkan penemuan fakta ilmu tersebutlah layak disebut original.

2)      Ilmu pengetahuan sebagai proses

Adalah kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan demi penemuan dan pemahaman dunia alami sebagaimana adanya dan bukannya sebagaimana yang kita kehendaki. Metode ilmiah yang khas dipakai dalam proses ini adalah analisis rasional obyejtif, sejauh mungkin bersifat “impersonal”, dari masalah-masalah yang didasarkan pada percobaan dan data yang diamati. Bagi Thomas Khun, “normal science” adalah ilmu pengetahuan dalam artian proses (penelitian).

3)      Ilmu pengetahuan sebagai masyarakat

Adalah dunia pergaulan yang tindak tanduknya, perilaku, dan sikap serta tutur katanya diatur oleh empat ketentuan: (a) universal, berarti metode ilmiah empiric-eksperimental dan rasional, bekerja menurut penyimpulan logis, ia dapat dipakai kapan saja dan di tempat manapun; (b) komunalisme, artinya bahwa ilmu oengetahuan merupakan milik masyarakat; (c) tanpa pamrih, berarti ilmu pengetahuan tanpa propaganda; (d) skeptisisme, berarti keinginan untuk mengetahui dan bertanya didasarkan pada nalar dan keteraturan berpikir.

Pada tataran ontologi, ilmu pengetahuan merupakan proses kegiatan refleksi ilmuwan/pemikir dalam menghadapi masalah yang menyangkut dirinya sendiri maupun lingkungannya. Ada beberapa macam proses kegiatan refleksi.

1)   Kegiatan refleksi: spekulatif

Merupakan kegiatan pokok dalam berfilsafat. Spekulasi membuat dugaan-dugaan yang masuk akal atau cerdas mengenai sesuatu yang tidak berdasarkan pada bukti.

2)   Kegiatan refleksi: deskripsi

Memberikan deskripsi tentang sesuatu hal berarti memberikan keterangan bagaimana hal itu bekerja. Tujuan lain dari filsafat adalah menerangkan dunia dengan pengetahuan.

3)   Kegiatan refleksi: analisis

Analisis dimaksudkan sebagai penjelasan arti istilah-istilah yang menjadi dasar pada penyelidikan filsafat. Menurut Schlick, filsafat adalah suatu kegiatan mental tentang penjelasan gagasan-gagasan dengan suatu analisis terhadap arti-arti (the Liang Gie, 1978).

4)   Kegiatan refleksi: evaluasi

Ini merupakan penaksiran tentang sifat nilai atau bernilai atau keberhagaan yang melekat pada sesuatu hal, pengalaman tertentu atau sesuatu tindakan manusia. Kegiatan penilaian atau member nilai berarti menetapkan patokan-patokan nilai dan mempertimbangkannya. Hasil-hasil pertimbangan tersebut menjadi pedoman atau pembenaran bagi pilihan-pilihan yang dibuat manusia.

5)   Kegiatan refleksi: komprehensi

Pemahaman ialah kegiatan mengerti dengan sungguh-sungguh atau mengerti secara cerdas tentang masalah, fakta, gagasan, atau implikasi. Pemahaman dapat dicapai dengan lima cara, yakni: (a) menyatukan dan menghubung-hubungkan bermacam-macam fakta atau gagasan; (b) mendeduksikan sesuatu dari premis-premis; (c) menyesuaikan fakta-fakta atau gagasan-gagasan baru dengan pengetahuan yang telah mapan; (d) meninjau sesuatu hal atau gagasan dalam hubungannya yang tepat dan penting; (e) menghubungkan suatu fakta atau gagasan dengan sesuatu yang diketahui, universal, dan terikat pada kaidah (The Liang Gie, 1978).

6)   Kegiatan refleksi: penafsiran

Ini merupakan kegiatan akal untuk memberikan arti pada pengalaman manusia. Tujuan utamanya adalah dapat dipahaminya sesuatu yang dialami manusia. Melalui penafsiran dan mungkin penafsiran kembali suatu pengalaman atau peristiwa dapat memperoleh pemahaman rasional yang sempurna, dapat diketahui secara sinoptik atau dinilai secara benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s