GEJOLAK PERTEMANAN PADA REMAJA

Posted: November 20, 2012 in Motivasi

“Siapa yang meremehkan pertemanan akan hilang kehormatannya. Di antara adab berkawan, jangan engkau putuskan seorang kawan setelah engkau berteman dengannya, dan jangan engkau menolaknya setelah engkau menerimanya” (Abdullah bin Mubarak).

Masa remaja ialah masa di mana ia sudah tidak di sebut anak-anak lagi, mulai mencari pengakuan terhadap eksistensinya dalam keluarga dan masyarakat. Rentang umur pada masa remaja berlangsung sekitar umur 11-13 tahun sampai 18-20 tahun atau dengan kata lain ketika seorang anak menginjakkan kaki di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada masa remaja inilah mereka memulai suatu hubungan baru dengan dunia luar. Mereka mulai bertemu kembali dengan orang-orang baru yang akan disebutnya sebagai teman atau sahabat. Mereka mulai membentuk sekelompok pertemanan yang disebut geng, membuat sekat-sekat pemisah antar kelompok lain yang tidak sama ambisi serta pola perilaku dengan mereka. Mereka cenderung ingin berteman hanya dengan orang-orang yang sama pola perilaku dan kebiasaannya sehingga ia akan merasa nyaman melakukan apa yang biasa ia lakukan. Misalnya seorang siswa yang gemar membaca buku maka ia akan bergabung dengan sekelompok siswa lainnya yang gemar menbaca buku pula atau siswa yang suka dengan olahraga maka ia akan mencari teman yang cenderung suka olahraga agar apa yang mereka lakukan itu sama-sama nyambung dan bisa membentuk kebiasaan positif dalam diri mereka.

Teman bagi sebagian remaja adalah seseorang yang dianggap akan membagi seluruh kisah suka dan dukanya sehingga ia berharap untuk didengarkan dan diberikan jalan keluar dari persoalan yang ia ceritakan. Hakikat pertemanan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipelajari karena dalam memilih teman remaja hendaknya harus hati-hati karena orang akan tahu siapa kita dari siapa kita berteman. Ingat hadist Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang pentingnya selektif dalam menentukan kepada siapa kita akan berteman. Jika berteman dengan penjual minyak wangi maka kita akan ikut tercium harumnya minyak wangi tersebut. Namun, jika kita berteman dengan seorang pandai besi maka kita akan tercium bau gosong ataupun terpecik apinya. Keadaan psikis dalam masa remaja masih sangatlah labil. Mereka masih terlihat gamang dalam menentukan arah hidup. Oleh karena itu, mereka akan mudah terpengaruh ke dalam kelompok pertemanan yang menyesatkan ataupun yang dapat membawanya ke arah kebaikan.

Remaja yang beruntung adalah ketika ia diajak oleh sekelompok pertemanan yang mengajaknya ke arah kebaikan. Misalnya ia bergaul dengan orang-orang positif dengan perilaku yang positif maka ia akan terpengaruh untuk melakukan hal-hal positif pula misalnya ia bergaul dengan kelompok remaja lainnya yang suka belajar kelompok, berolahraga, aktif mengikuti aktivitas keagamaan maka ia akan membentuk habit yang sama dengan para remaja yang mengajaknya. Sebaliknya, jika seorang remaja mengikuti sekelompok remaja yang membimbingnya ke jalan kesesatan, misalnya suka nongkrong di jalan, membentuk geng brutal dan anarkis, akrab dengan rokok dan narkoba maka ia akan terjerumus dalam suatu lingkaran pertemanan “setan”. Ini bukanlah suatu kesalahan yang harus kita tujukan kepada remaja. Kita semua tahu bahwa remaja dalam keadaan labil akan mudah dipengaruhi baik oleh pengaruh kebaikan maupun penyesatan tingkah laku. Di sinilah peran orang tua, guru, dan agama dalam mengendalikan sikap kelabilan remaja dengan membingnya serta mendidik agar masa remaja tidaklah menjadi momok yang dianggap remaja itu sendiri sebagai masa yang mengharuskan mereka mencari jati diri mereka sendiri di tengah masyarakat.

Sekarang ini kita memasuki zaman serba modern di mana teknologi bukanlah hal tabu melainkan menjadi suatu keharusan bagi semua masyarakat untuk mempelajarinya. Beriringan dengan pesatnya kemajuan teknologi maka kemajuan di bidang komunikasi pun terus menluncurkan inovasi-novasi dalam hal pembaharuan bagaimana cara agar berkomunikasi tidak lagi terhalang oleh jarak dan waktu. Salah satu media komunikasi yang sedang booming di kalangan remaja adalah facebook, twitter, blog, dan blackberry messenger (BBM). Hanya dengan mengkoneksikan handphone ataupun perangkat komputer ke internet maka seluruh dunia dan seluruh teman pun bisa kita temukan. Hanya masuk ke dalam akun media sosial maka kita bisa menyapa teman yang letaknya berjauhan bahkan teman yang sudah lama tidak bertemu pu bisa saling menyapa dengan mudahnya tanpa harus repot-repot ke rumahnya.

Namun, apakah para remaja sadar bahwa media sosial yang memang notabene kelihatan sebagai tempat bersosialisasi serta berkomunikasi dengan teman justru menjerumuskan mereka ke dalam sosialisasi semu. Mereka yang bilang bahwa bisa bersilaturahmi hanya dengan membalas komentar, menyapa lewat media sosial apakah mereka sadar bahwa itu adalah silaturahmi semu? Bukankah silaturahmi yang dianjurkan itu adalah bertatap muka langsung dan berjabat tangan? Jika jarak dan waktu menjadi alasan maka gunakanlah media sosial itu bukan hanya sekedar memberikan komentar atas status tapi coba tanyakan kabar lalu berbincanglah sedikit lebih lama. Dulu saya pernah mendengarkan keluhan seorang sahabat, jika di media sosial kita terlihat akrab satu sama lain tapi ketika bertemu jangankan untuk menyapa, terkadang untuk tersenyum pun tidak. Jadi, apa arti silaturahmi yang diagung-agungkan remaja dalam media sosial itu?

Bukankah pergi saling mengunjungi, bertemu, menyapa, memberi salam, mendoakan, saling mengirim hadiah satu sama lain itu jauh lebih indah dibandingkan duduk manis di depan komputer dan melihat status teman yang kebanyakan hanyalah sebuah pencitraan diri agar terlihat baik di mata orang lain? Jauh lebih indah menyelami dunia pertemanan secara langsung sambil bercerita, saling mendengarkan cerita-cerita seorang sahabat.

Jika ingin menggunakan media sosial sebagai lahan untuk mencari teman sebanyak-banyaknya maka berikanlah sesuatu yang baik, misalnya ilmu yang bermanfaat, ajakan atau seruan yang mengajak kepada kebaikan diri, dan bersikap tidak memfitnah dan berusaha mencari-cari aib orang lain. Sesekali kunjungi teman dunia mayamu sekalipun jaraknya jauh. Pelajarilah adat istiadat dan kebiasaan daerah di mana teman dunia mayamu berada. Maka itu akan memberikan kesan silaturahmi yang baik.

Berusahalah untuk selektif dalam memilih teman akrab dan sahabat karena untuk menghindari rusaknya moral ketika berteman dengan orang lain. Ketika remaja sudah dapat menilai siapa saja yang layak menjadi temannya maka ia akan berusaha untuk menerima temannya apa adanya. Teman itu mencerminkan citra diri sehingga pandai-pandailah mencari teman agar citra diri terbangun secara positif dan sesuai dengan tuntunan agama.

Wallahu ‘alam bishowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s