BICARA ATAU MENULIS?

Posted: November 20, 2012 in Motivasi

 

Ada kisah salah seorang mahasiswa yang senang sekali menulis. Jika diminta untuk membuat suatu karangan bebas ataupun ilmiah ia sangat cepat dan baik dalam pengerjannya. Ia sangat senang dengan ujian UTS maupun UAS karena dilakukan secara tertulis dan ia bebas mengekspresikan ide-idenya di dalam tulisan jawaban ujiannya. Namun kelemahan dia adalah berbicara. Ya, dia sangat gagap dalam berbicara sehingga terkadang otaknya lambat sekali mencari kosakata yang banyak untuk ia ucapkan. Kemudian juga ia terkadang bingung mau menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sangat ia pahami. Seakan-akan otaknyanya tidak bisa mengendalikan kata-kata yang harus ia ucapkan. Ia sulit untuk bercerita dengan teman-temannya kemudia tidak aktif dalam diskusi kelompok di kelas. Namun, setiap nilai yang keluar selalu baik. Itu karena ia tahu strategi penilaian terbesar ada pada UTS dan UAS, bukan diskusi kelompok.

Ketika sidang skripsipun ia sangat kewalahan dengan pencecaran pertanyaan dari dosen penguji yang tidak memberikan kesempatan baginya untuk membela diri. Karen sering diserang terus-menerus maka ia pun kalut dan berusaha menahan emosi dengan cara berdiam diri. Sedangkan dosen pembimbingnya pun cuek dan tidak memberikan pembelaan apapun.

Tibalah masa di mana ia melanjutkan pendidikan S2. Ketika ia berada di kelas baru maka ia berusaha memperkecil kekurangannya dalam berbicara dengan cara banyak bertanya dan memberikan pendapat di sela-sela presentasi kelompok di kelasnya. Namun apa mau dikata, banyak orang yang kesal karena ia banyak bertanya dan juga ketika memberikan pendapat terkadang dirasakan tidak nyambung. Lalu, ia pun mengalami kembali krisis pede. Ia yang dulunya optimis ingin memperbaiki kelemahannya malah menjadi lebih pesimis lagi. Ia sudah berusaha untuk mencatat konsep apa yang akan ia ungkapkan tetapi masih saja terkadang kalimat yang ingin ia ungkapkan tidak dapat diucapkannya dengan sempurna. Dan jadilah ia seorang yang banyak merenung dan menjadi lebih sensitive.

Entah bagaimana nasibnya kelak jika ia menjadi dosen dan diminta menjadi seorang pembicara di sebuah forum kependidikan, apakah ia akan bisa lancar dalam berkomunikasi lisan ataukah ia harus mengetiknya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s