Soal UTS Perkembangan Peserta Didik

Posted: March 7, 2013 in Artikel Pendidikan

UJIAN TENGAH SEMESTER

MATA KULIAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR

Dosen :           Prof. Dr. Juntika Nurihsan,M.Pd.

Dr. Mubiar Agustin, M.Pd

 

  1. Salah satu permasalahan remaja yang saat ini cukup mengemukan adalah permasalahan tawuran dan gang motor. Terdapat berbagai upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah maupun pemerintah untuk menangani permasalahan ini akan tetapi hasilnya sangat jauh dari memuaskan. Sekarang silahkan Anda analisis mengapa permasalahan itu banyak terjadi pada usia remaja? Apa saja faktor penghambat penanganan permasalahan tersebut? Serta program penanganan seperti apa yang dapat Anda tawarkan untuk mengatasinya?

JAWAB:

a)        Penyebab permasalahan remaja: Tawuran dan Geng Motor

Tindak kekerasan merupakan suatu fenomena yang kompleks, akibat dari berbagai faktor antara lain kemiskinan, rasial, penggunaan obat terlarang dan alkohol, paparan kekerasan pada usia dini (child abuse), kekerasan yang didapatkan dari media massa. Adanya gangguan tingkah laku, kenakalan remaja, dan tindak kekerasan ini merupakan tanggung jawab dari berbagai pihak, karena terdapat berbagai faktor penyebab yang mendasarinya. Pendekatan integratif dari berbagai pihak dan metode yang optimum diharapkan dapat mengurangi kejadian dan minimalkan dampak yang terjadi.

Baru-baru ini kasus tawuran pelajar dan keonaran geng motor membuat dunia pendidikan merasa terpukul di mana banyak pihak juga men-judge sekolah tidak menanamkan akhlakul karimah kepada siswa. Mengapa hal ini banyak terjadi pada remaja bukan anak-anak ataupun orang dewasa? Kita ketahui bahwa masa remaja ialah masa peralihan antara masa kanak-kanak menuju dewasa. Remaja berusaha keluar dari ketergantungannya kepada orang tua (sebagai anak-anak) dan berusaha mencapai kemandirian (sebagai orang dewasa) sehingga mereka dapat diterima dan diakui sebagai orang dewasa dan mereka bertindak untuk mempunyai peran dalam kehidupan sosialnya.

Pada masa remaja terjadi adanya kesenjangan dan konflik antara remaja dengan orang tuanya. Pada saat ini ikatan emosional menjadi berkurang dan remaja akan sangat membutuhkan kebebasan emosional dari orang tua, misalnya dalam memilih teman ataupun melakukan aktivitas sedangkan orang tua masih ingin mengawasi dan melindungi anaknya dapat menimbulkan konflik di antara mereka. Bila remaja tidak mempunyai kelompok yang supportif maka keadaan ini dapat menimbulkan kekosongan perasaan yang diakibatkan perasaan terpisah dari orang tua sehingga memungkinkan timbulnya masalah-masalah perilaku. Ketika ikatan keluarga mulai longgar maka mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sebayanya yang mempunyai satu “visi”. Dalam memilih teman sebaya inilah remaja harus diawasi agar tidak terjerumus ke dalam perkumpulan teman yang salah perilakunya.

Kemudian pada remaja juga terjadi pembentukan identitas diri. Erikson (Soetjiningsih, 2010:48) mengatakan bahwa remaja akan dihadapkan pada suatu pertanyaan yang sangat penting yakni “Siapakah aku?” sebagai pertanyaan mendasar tentang pemahaman dirinya. Pada masa inilah remaja berada di dalam masa “krisis identitas”. Remaja dalam kehidupan sosialnya akan selalu dihadapkan kepada berbagai peran yang ditawarkan oleh lingkungan keluarga maupun kelompok sebaya, yang kadang-kadang membingungkan dan sering menimbulkan benturan-benturan. Ketika memperluas hubungan dengan kelompok sebaya, remaja bergantung kepada teman sebagai sumber kesenangan dan keterikatannya dengan teman-teman begitu kuat. Kecenderungan keterikatan (kohesi) dalam kelompok akan bertambah meningkat seiring dengan meningkatnya frekuensi interaksi di antara mereka.

Dalam kelompok dengan kohesi yang kuat dapat berkembang iklim kelompok dan norma-norma kelompok tertentu. Meskipun norma-norma kelompok bukan norma yang buruk namun dapat membahayakan pembentukan identitas diri remaja karena dalam hal ini remaja akan lebih mementingkan perannya sebagai anggota kelompok daripada mengembangkan pola norma diri sendiri. Ikatan kuat dalam kelompok inilah yang sering dikhawatirkan. Tawuran serta geng motor merupakan salah satu bentuk contoh pemahaman ikatan kelompok yang salah. Psikolog dan Dosen Muda Universitas Padjadjaran Bandung, Fredrick Dermawan (dalam okezone.com/read/2012/09/196/696056/tekanan-lingkungan-emosi-labil-penyebab-tawuran-terjadi diakses tanggal 23 November 2012) memaparkan bahwa tawuran seringkali terjadi dilakukan dengan alasan kesetiakawanan antar teman meskipun mungkin karena adanya tekanan dan ancaman dari lingkungan sosialnya, dan juga faktor emosi yang masih labil meledak dan tidak terkontrol. Tawuran antara SMA 6 dan SMA 70 Jakarta yang menewaskan Alawy (siswa SMA 6) serta tingkah laku onar yang dilakukan oleh geng motor merupakan wujud dari rasa kesetiakawanan yang salah. Mereka dituntut untuk menunjukkan rasa kesetiakawanan mereka dalam kelompok dengan mengikuti apa yang dilakukan oleh anggota lainnya. Mudah terpengaruh memang sifat dasar dari para remaja.

b)     Faktor Penghambat Penanganan

Setelah menelaah kasus tawuran dan geng motor maka terdapat beberapa faktor penghambat dalam penanganan masalah remaja ini:

  1. Belum adanya ruang berekspresi yang diberikan oleh pemerintah untuk menyalurkan minat dalam otomotif bagi sekelompok remaja sehingga jangan heran jika geng motor masih berkeliaran di kala malam. Serta tawuran masih terjadi karena sekolah juga kurang memfasilitasi ektrakurikuler yang dapat menyalurkan hobi dalam menyalurkan energi fisik mereka.
  2. Masih banyaknya angka pengangguran karena kurangnya lapangan kerja sehingga akan ada banyak kasus geng motor yang menjarah minimarket karena tuntutan ekonomi.
  3. Rasa ke-aku-annya masih tinggi untuk menunjukkan siapa yang paling hebat, kelompok mana yang paling berkuasa. Terkadang kasus tawuran itu terjadi karena hal sepele.
  4. Tugas sekolah yang berat, tekanan pembelajaran yang hanya terfokus pada aspek kognitif sehingga muatan isi hanya seputar menghapal. Remaja akan jenuh jika kondisi sekolah tetap seperti ini selalu mengisi muatan kognitif. Sehingga remaja akan mengekspresikan kedepresiannya melalui tawuran dan berkumpul dengan geng motornya.
  5. Sifat hedonisme oleh arus globalisasi, merampas hak orang lain demi kesenangan pribadi dan kelompok sehingga budaya ketimuran menghormati hak orang lain sudah mulai dilupakan.
  6. Pembudayaan sifat konsumtif dan materialistis yang berkembang pesat seiring dengan canggihnya dunia teknologi dan komunikasi yang juga akan membuat kecemburuan sosial dalam masyarakat
  7. Contoh model orang tua dan masyarakat yang banyak bertentangan dengan moral dan agama. Korupsi di mana-mana, kekerasan yang dipertontonkan melalui media televisi dalam tayangan smack down, perkelahian anggota DPR dalam rapat parlemen, film yang mengandung kekerasan yang semakin menjamur akan terus menjadi faktor penghambat dalam mencegah terjadinya perilaku kekerasan oleh remaja.
  8. Media massa yang masih aktif menanamkan citra, persepsi, pengetahuan, ataupun pengalaman kekerasan menjadi refrensi bertindak bagi remaja.

c)      Solusi yang ditawarkan

  1. Usaha preventif dan persuasif dalam keluarga, penanaman nilai normatif agama atau informasi hukum untuk mengisi kemiskinan moral mereka. Orang tua diharapkan lebih memperketat pengawasan dan mengarahkan anak-anaknya pada kegiatan positif.
  2. Terkadang remaja bukan membutuhkan nasehat yang malah menekannya melainkan membutuhkan motivasi atau fasilitas yang membuatnya menjadi lebih berguna. Keluarga dan masyarakat hendaknya menjadi wadah-wadah positif untuk menyalurkan kreativitas pemuda secara positif. Pada dasarnya manusia tidak suka jika digurui, maka berikanlah contoh dan jadilah model nyata bagi mereka.
  3. Peranan agama dan rumah ibadah untuk merangkul remaja, semua itu hanya butuh kerelaan keluarga-keluarga atau masyarakat untuk menyediakan semua itu.
  4. Galakkan pendidikan keluarga, pendidikan karakter di usia dini.
  5. Kehadiran karang taruna dalam merangkul remaja-remaja sehingga mereka mempunyai kegiatan-kegiatan positif di masyarakat serta dapat memberikan persepsi bahwa mereka diterima di masyarakat.
  6. Pemerintah memfasilitasi hobi otomotif remaja dengan diadakannya kompetisi balapan motor secara sehat.
  7. Pemerintah pun harus mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup bagi remaja sehingga adanya lapangan usaha untuk menghasilkan uang.
  8. Guru harusnya lebih jeli melihat konflik yang muncul dalam pertemanan siswa selama di sekolah. Sekolah hendaknya menindak tegas siswa-siswa yang hobinya nongkrong di jalan ketika waktu sekolah telah usai. Ajak mereka untuk segera pulang ke rumah. Komunikasikan dengan orang tua mengenai problem siswa di sekolah.
  9. Dalam kegiatan di sekolah perlu adanya keaktifan dalam penyelenggaraan kegiatan ektrakurikuler seperti sepak bola, badminton, beladiri, futsal untuk menyalurkan energi lebih mereka, serta penanaman nilai-nilai agama dalam kegiatan ROHIS untuk memberikan muatan agama ke dalam diri remaja yang sedang labil dalam mencari identitas diri agar bisa mengenal ALLAH dan tujuan hidupnya.
  10. Perlu dilakukannya sweeping dari pihak kepolisian di kendaraan umum untuk mencegah adanya pembawaan senjata tajam dan senjata api di lingkungan masyarakat.
  11. Melakukan pendekatan psikologi untuk mengubah mindset dalam memecahkan masalah sosial, usaha mengendalikan emosi negatif, menjadi emosi positif dari remaja.

2. Kondisi sumberdaya manusia Indonesia sangat memperihatinkan. Salah satu indikatornya adalah menurunnya Human Development Index (HDI) dari rangking 104 di tahun 1995 menjadi rangking 108 dari 177 negara pada tahun 2006. Jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas yang buta aksara mencapai 18,7 juta orang, setiap tahun 200.000–300.000 DO SD kelas I–III sebagai akibat ketidaksiapan memasuki pendidikan dasar. Kondisi ini dipengaruhi oleh pengalaman pendidikan yang dialami sebelumnya. Bagaimana analisis Anda ditinjau dari sudut pandang medis-neurologis, psikososial-kultural dan pendidikan anak usia dini (sertakan referensi yang digunakan).

JAWAB:

a)    Medis-Neurologis

Dalam ilmu neuropsikologi diungkapkan hubungan antara sistem syaraf dan fungsi kognitif (Mardiati, 2010: 1). Ilmu medis sekarang telah melakukan pendekatan neuropsikologi kognitif yakni pembelajaran pemahaman mengenai hubungan antara mental dan otak saat memperhatikan pasien trauma pada otak atau penyakit-penyakit neurologik. Prinsip dasar pengenalan fungsi masing-masing bagian otak akan memandu kita untuk mengetahui tempat gangguan ketika seseorang mengalami hambatan fungsi khusus paska trauma otak. Pendekatan mutakhir neuropsikologi kognitif, berusaha melakukan pencarian pemahaman fungsi normal mental dan otak dengan cara mempelajari gangguan jiwa atau penyakit mental. Untuk itu perlu dipahami terlebih dahulu gangguan pada otak yang dapat menyebabkan terhambatnya proses penerimaan informasi pada anak.

Jika ditinjau dari kehebatan otak anak normal pada umumnya sudah banyak penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan anak pada usia 0-4 tahun akan ter-eksplore 50 persen dari total kecerdasan yang akan dicapainya kelak pada usia 18 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usia 4 tahun pertama adalah masa-masa paling menentukan dalam membangun kecerdasan anak dibandingkan masa-masa sesudahnya. Artinya, nilai pada usia tersebut anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal, maka potensi tumbuh kembang anak tidak akan teraktualisasikan secara optimal (Sutaryati dalam http://yogya.bkkbn.go.id/Lists/Artikel/DispForm.aspx?ID=159&ContentTypeId=0x01003DCABABC04B7084595DA364423DE7897 diakses tanggal 30 November 2012). Dengan demikian, peramuan materi pelajaran harus sedemikian menarik yang dapat menstimulus kerja otak anak serta keterampilan motoriknya juga.

 

b)   Psikososial-kultural

Istilah psikososial berarti tahap-tahap kehidupan seseorang dibentuk oleh pengaruh sosial melalui interaksi-interaksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologi. Salah satu tahapan perkembangan psikososial Erik Erikson yang dialami oleh anak usia sekolah dasar (6-12) tahun yakni tahapan psikososial yang keempat ialah tahap kerajinan dan rasa rendah diri (industry vs inferiority). Pada tahap ini anak mulai mengarahkan segala energi dalam dirinya untuk menguasai pengetauan serta keterampilan intelektual tertentu. Dorongan untuk mengetahui dan berbuat sesuatu sangat besar tetapi adanya keterbatasan dalam pengetahuannya sehingga terkadang menjadi hambatan dan kegagalan dalam diri anak akan cenderung rendah diri.

Ditinjau secara kultur, anak usia dini dipersiapkan untuk mewarisi budaya-budaya yang baik dari pendidikan. Dengan demikian pembelajaran disesuaikan dengan kultur masyarakat sehingga anak didik akan berkembang sesuai dengan nilai-nilai norma yang berlaku. Dalam kultur masyarakat banyak dipengaruhi oleh persepsi atau pandangan, adat istiadat, dan kebiasaan.

Untuk kasus anak didik yang DO maka harus diteliti lebih jauh mengenai faktor penyebabnya. Anak didik yang bergaul dengan temannya yang putus sekolah akan berpengaruh kepada mereka.  Anak-anak yang dibesarkan di kota pola pikirnya berbeda dengan anak nyang tinggal di desa di mana anak kota lebih bersikap aktif dan dinamis sedangkan anak desa cenderung bersikap statis dan lamban. Rendahnya minat orang tua untuk memberikan kesempatan bagi anaknya melanjutkan sekolah mengengah. Kekecewaan orang tua akan kualitas pendidikan dan beranggapan bahwa pendidikan formal tidaklah penting karena akan menambah jumlah pengangguran dari luaran sekolah yang belum memiliki skill tuntutan dunia kerja. Keadaan geografis juga mempengaruhi di mana kondisi letak sekolah yang jaraknya berjauhan dapat memberikan stigma pesimis bagi siswa dan orang tua karena waktu dihabiskan dalam perjalanan menuju ke sekolah akibat akses transportasi dan jalan yang kurang memadai.

c)    Pendidikan anak usia dini

Kesiapan seorang anak dalam memasuki sekolah dasar diikuti oleh kemampuan dasar yang telah ia miliki sejak usia dini. Alternatif orang tua dalam mempersiapkan anaknya sebelum memasuki jenjang sekolah dasar bisa dengan menyekolahkan anaknya di PAUD. Di PAUD, anak didik belum diajarkan untuk menulis dan berhitung, hanya diberikan stimulus dengan mengenak angka serta huruf. Anak mulai dibangun konstruksi intelektualnya melalui pembelajaran yang dapat menstimulus kecakapan intelektualnya. Sehingga ketika memasuki jenjang sekolah dasar mereka telah mempunyai bekal pengetahuan dasar.

  1. Saat ini sedang tren pada sekolah dasar menyelenggarakan kegiatan tes psikologis atau psikotes untuk para siswanya. Menurut pendapat Anda, apakah langkah ini saudah tepat? Jelaskan pula dampak negatif dan positifnya untuk perkembangan anak?

JAWAB:

Ketidaksetujuan saya mengenai tes psikologi ini apabila digunakan sebagai salah satu aspek yang menjadi syarat siswa untuk memasuki sebuah lembaga pendidikan. Tes semacam ini tidak bisa menjadi tolak ukur untuk melihat kesiapan anak dalam mengikuti persekolahan. Sebuah kesalahan besar yang dilakukan sebuah lembaga pendidikan khususnya pendidikan usia dini dan pendidikan dasar apabila tes psikologi ini diterapkan dalam rangka menyeleksi tes masuk karena akan menghambat dan menghalangi anak mendapatkan pendidikan yang baik dan itu akan bertentangan dengan UUD 1945 Pasal 31 tentang pendidikan.

Di Amerika Serikat, tes psikologi ini hanya digunakan untuk mengetahui kelainan-kelainan yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak atau untuk mengetahui tingkat IQ seseorang bukan untuk mengahalangi sesorang mendapatkan pendidikan. Justru dari hasil ini jika diketahui ada seuatu istimewa pada diri seorang anak maka anak berhak mendapatkan perhatian khusus baik oleh orang tua maupun para pendidik di sekolah (m.detikhealth.com/read/201206/07/143455/1935417/775/psikotes-untuk-seleksi-masuk-sd-dan-dampaknya-pada-anak? Diakses tanggal 29 November 2012)

  1. Program pembelajaran yang sekarang sedang banyak di gandrungi di tanah air saat ini adalah sekolah rumah (home schooling). Menurut pendapat Anda, apakah program ini sudah sangat tepat di terapkan di Indonesia? Silahkan di analisis dengan menggunakan perspektif budaya, sosial, ekonomi dan intelektual.

JAWAB:

Homeschooling adalah suatu pilihan lain dari pendidikan di maan sebuah keluarga memutuskan untuk bertanggung jawab mendidik anaknya sendiri di rumah. Meskipun bebabn mengajar bukan hanya diberikan kepada orang tua tetapi orang tua juga bisa mendatangkan guru privat ke rumah, mendaftarkan anak ke kursus, melibatkan anak dalam proses magang, dan lain-lain. Terjadi pro-kontra mengenai pelaksanaan homeschooling ini apakah baik untuk diterapkan di Indonsia mengingat homeschooling ini meruapakan alternative pendidikan yang berasal dari Amerika Serikat yang sudah pasti berbeda latar budaya bangsanya dengan Indonesia. Untuk itu marilah kita kaji berdasarkan aspek-aspek sebagai berikut.

a)      Aspek budaya

Kebudayaan di Indonesia bersifat kolektif (collective culture) yang berbeda dengan di Amerika yang individual.

b)      Aspek sosial

Interaksi sosial yang dilakukan seorang manusia bisa terjadi apabila ia melakukan hubungan interaksi dengan orang lain. Inilah yang dirasakan sebagai dampak negatif dalam pelaksanaan homeschooling di mana anak tidak akan pernah merasakan bagaimana berinteraksi dengan teman dan guru, tidak merasakan bagaimana cara bekerja sama dengan baik, saling bertukar ide dengan teman, saling membantu dalam pelajaran padahal sekolah adalah salah satu tempat latihan bagi siswa dalam mengembangkan interaksi sosialnya setelah di rumah.

Jika hanya terjadi interaksi di rumah maka siswa tidak akan mengalami latihan untuk berbaur ke dalam the real social community yakni masyarakat.

c)      Aspek ekonomi

Jika kita lihat dalam aspek ekonomi, homeschooling memang dirasa tidak memerlukan banyak biaya dalam hal administrasi sekolah misalnya membeli pakaian seragam dan ongkos ke sekolah. Tetapi perlu dikaji lagi bahwa untuk memberikan pelajaran berbasis rumah maka orang tua haruslah memiliki bahan bacaan tentang pelajaran anaknya, mengajak anaknya ke tempat-tempat konkrit, memberikan benda konkrit, atau bisa saja orang tua yang mendatangkan guru privat ke rumah tentunya akan membutuhkan biaya yang lebih besar ketimbang menyekolahkan anaknya di sekolah. Walaupun ada beberapa komunitas home schooling ini dilakukan tergantung kemampuan ekonomi keluarga masing-masing namun sudah bukan rahasia umum lagi kalau “penikmat” home schooling ini ialah keluarga dari kalangan menengah ke atas. Kalau untuk kalangan menengah ke bawah, mereka cenderung menyekolahkan anaknya ke sekolah umum karena gratis dan orang tuanya pun masih bisa bekerja karena tugas mendidik di sekolah diserahkan ke sekolah.

d)     Aspek intelektual

Jika kita amati dari aspek intelektual, kemampuan siswa homeschooling tentau akan berbeda dengan siswa di skeolah. Sebenarnya itu tergantung pula bagimana cara guru menstimulus siswa dalam mengembangkan kecerdasan mereka. Jika kita telaah satu persatu mengenai kondisi system pendidikan di sekolah, masih banyak sekolah yang gurunya monoton dalam mengajar, tidak memahami gaya belajar anak, bakat anak. Mereka masih menyamaratakan kemampuan anak tanpa mempertimbangkan keragaman individual mereka. Ini akan berbeda dengan siswa homeschooling di mana gurunya ialah orang tua siswa itu sendiri yang tentu saja dapat memantau 24 jam kegiatan anaknya dan akan terlihatlah bakat yang ada dalam diri si anak. Orang tua yang memberikan pelajaran konkrit di mana siswa melakukan learning by doing maka akan memberikan efek yang baik dalam pengembangan aspek intelektualiatasnya.

Kesimpulan: Setelah membahas fenomena munculnya homeschooling di Indonesia yang ditinjau dari aspek budaya, sosial, ekonomi, dan intelektual maka dapat disimpulkan bahwa homeschooling ini ada dampak pada sisi negative dan positifnya. Ketidakpuasan orang tua dengan pendidikan di Indonesia hendaknya menjadi “tamparan” bagi pemerintah agar bsadar berarti selama ini orang tua tidak diberi andil untuk membuat keputusan. Toh, orang tua bukan sebagai konsumen pendidikan belaka tetapi juga sebagai stakeholder. Sehingga apa-apa yang menjadi uneg-uneg orang tua tidak bisa disampaikan secara efektif dan akhirnya akan menimbulkan mosi tidak percaya dari orang tua dari sekolah. Dan menurut saya homeschooling ini belum tepat dilaksanakan di Indonesia mengingat masih adanya kelebihan dari lingkungan sekolah yang tidak bisa diberikan oleh homeschooling, yakni SOSIALISASI karena Indonesia menganut asas gotong-royong kekeluargaan dalam masyarakat bukan asas individualistik.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s